Acara Kick off Pekan Peningkatan Produktivitas Nasional (P3N) 2025 dilangsungkan di Pabrik Sido Muncul dibuka oleh Menaker Yassierli, Dirjen Pembinaan Pelatihan Vokasi dan Produktivitas dan Direktur Sido Muncul Irwan Hidayat, Asisten Pemerintahan dan Kesehatan Rakyat Jateng, Iwanuddin Iskandar (foto ist)
SEMARANG – PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk dipercaya sebagai tempat kick off Pekan Peningkatan Produktivitas Nasional (P3N) 2025 oleh Kementerian Tenaga Kerja Republik Indonesia (Kemenaker).
Kick off dibuka oleh Menteri Tenaga Kerja (Menaker) Prof Yassierli secara daring dari Jakarta karena harus menghadap Presiden, dan di lokasi kick off dipimpin langsung Dirjen Pembinaan Pelatihan Vokasi dan Produktivitas Kemnaker, Agung Nur Rohmad, ST. MM, Asisten Pemerintahan dan Kesehatan Rakyat Pemprov Jateng, Iwanuddin Iskandar, SH.M.Hum dan sebagai host Direktur Sido Muncul, Dr (HC) Irwan Hidayat, dan Brand Ambassador Tolak Angin, Andy F Noya Agrowisata dan dilanjutkan dengan diskusi yang dipandu Supervisory Board BPJS Ketenagakerjaan Aditya Warman di Kompleks Pabrik Sido Muncul, Bergas, Ungaran, Kabupaten Semarang, Kabupaten Semarang, Senin (10/11/2025).
Acara yang dihelat Kementerian Ketenagakerjaan ini menyoroti peran krusial sumber daya manusia (SDM) dalam mendorong daya saing ekonomi Indonesia.
Direktur Sido Muncul, Dr (HC) Irwan Hidayat, menjadi pembicara utama dan berbicara tentang filosofi kesuksesan perusahaan Sido Muncul.
Irwan mengatakan bahwa produktivitas lahir dari kebahagiaan karyawan, bukan target angka ansich.
Irwan mengilustrasikan bahwa Sido Muncul saat ini mempekerjakan lebih dari 4.000 orang dan rata-rata masa kerja karyawan mencapai 15-31 tahun semata-mata menginginkan kebahagiaan bersama.
Kebersamaan antara owner, pemegang saham, direksi, dan karyawan menjadi kunci sukses Sido Muncul tumbuh, berkembang, dan maju pesat.
“Masa kerja itu menunjukkan mereka kerasan dan nyaman. Kami tak pernah memecat satu pun karyawan sampai sekarang. Karena kita memperlakukan mereka seperti kita memperlakukan diri sendiri,” jelas Irwan Hidayat.
“Kami berusaha mempraktikkan hukum akal budi yang merupakan hukum alam. Dan hukum alam itu rumusnya cuma satu. Lakukanlah seperti ingin kamu diperlakukan. Jadi perusahaan juga jangan hanya menuntut, tapi juga harus memberi. Kalau SDM-nya happy, ya produktivitas ikut unggul. Kalau SDM-nya nggak happy, ya jadi nggak unggul. Pasti pekerjaannya nggak bener,” imbuhnya.
Sulung dari 5 bersaudara generasi kedua Sido Muncul (Irwan Hidayat, J Sofjan Hidayat, Johan Hidayat, Sandra Hidayat, dan David Hidayat) ini mengungkapkan bahwa treatment kepada karyawannya diwarisi dari mendiang maminya, Desy Sulistio Hidayat.
Maminya selalu mengingatkan Irwan dan keempat adiknya untuk selalu memotivasi karyawan tanpa menyakiti.
Irwan lalu mempraktikkan dengan perlakuan lingkungan kerja yang nyaman, jaminan sosial di atas standar regulasi, dan pendekatan pribadi yang egaliter.
“Saya biasanya pakai kaos sederhana saja, jadi karyawan nggak takut. Kalau ngomong pakai bahasa yang mudah dimengerti. Sehingga mereka bisa cepat mengeksekusi pekerjaan,” katanya.
Pendekatan ini tak hanya membangun loyalitas, tapi juga mendorong inovasi organik. Sebagai bagian dari industri jamu yang berkontribusi signifikan terhadap ekspor obat tradisional Indonesia (senilai Rp1,2 triliun pada 2024 menurut data Kemenkes), Sido Muncul membuktikan bahwa kesejahteraan SDM dapat meningkatkan efisiensi produksi hingga 20-30% secara berkelanjutan.
Menteri Ketenagakerjaan Prof. Yassierli pun memperkuat pesan Irwan dengan menyebut bahwa produktivitas adalah “keharusan strategis” untuk memperkuat daya saing global.
“Tantangan kita tak sekadar kuantitas, tapi kualitas dan relevansi kemampuan tenaga kerja terhadap kebutuhan industri. Produktivitas adalah strategi utama untuk meningkatkan daya saing melalui peningkatan kualitas produk dan efisiensi,” ujar Yassierli.
Ditambahkan bahwa perlu ada kerangka intervensi 4P. People (pengembangan SDM melalui pelatihan vokasi), Product (inovasi barang/jasa berbasis teknologi), Process (optimalisasi rantai pasok dan digitalisasi), serta Policy (kebijakan pemerintah yang mendukung, seperti insentif pajak untuk perusahaan ramah karyawan).
Kerangka ini selaras dengan target pemerintah untuk meningkatkan indeks produktivitas tenaga kerja dari 3,5% (2024) menjadi 5% per tahun hingga 2045, sebagaimana tercantum dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029.
Pada kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Pembinaan Pelatihan Vokasi dan Produktivitas Kemnaker, Agung Nur Rohmad, juga memuji Sido Muncul sebagai benchmark bagi sektor manufaktur yang padat karya.
“Sido Muncul ini kan brand yang kita lihat dari sisi peningkatan produktivitas itu baik, dibanding dengan industri manufaktur yang tingkat produktivitasnya sudah tinggi. Jadi, kita ingin melihat juga industri-industri lainnya seperti Sido Muncul,” katanya.

Diskusi keterkaitan produktivitas kerja menghadirkan Direktur Sido Muncul Irwan Hidayat, Brand Ambassador Tolak Angin, Andy F Noya Agrowisata dan dilanjutkan dengan diskusi yang dipandu Supervisory Board BPJS Ketenagakerjaan Aditya Warman sebagai moderator (foto ist)
Sedangkan Asisten Pemerintahan dan Kesehatan Rakyat Pemprov Jateng, Iwanuddin Iskandar mengatakan tenaga kerja yang ada di Jawa Tengah harus memiliki daya saing tinggi sehingga produktivitas kerja semakin meningkat yang pada ujungnya kepercayaan investor pun semakin baik.
Untuk itu, kata Iwan, perlu sinergitas semua unsur untuk memberikan ruang yang friendly antara Pemerintah Provinsi, pelaku industri, tenaga kerja sehingga produktivitas dapat tercapai sesuai harapan bersama.
Iwan juga menginformasikan bahwa salah satu program Gubernur Ahmad Luthfi adalah Kecamatan Berdaya ini pun dapat mendukung produktivitas dengan berkolaborasi dan bersinergi ekosistem yang ada di wilayah tersebut.
Acara ini menjadi momentum gerakan nasional, dengan 200 mitra terlibat melalui platform digital P3N. Selama lima hari (10-14 November 2025), digelar webinar, workshop, podcast, dan pelatihan dengan target 30.000 peserta dari 27.000 yang telah terdaftar.
Sementara itu ada kisah humanisme diungkapkan oleh Brand Ambassador Tolak Angin Sido Muncul yang juga jurnalis senior Andy F. Noya.
Suatu malam, Andy menghubungi Irwan Hidayat untuk biaya operasi seorang wanita miskin yang buta akibat tumor. Andy maupun Irwan sama-sama tak kenal wanita itu.
“Saya minta maaf karena tengah malam memaksa beliau, tapi Pak Irwan malah bilang, ‘Kamu memberi saya kesempatan berbuat baik’,” tutur Andy.
Dari kisah ini tergambar bahwa produktivitas sejati lahir dari etos kerja ikhlas, bukan jalan pintas. Inilah pentingnya membangun karakter sejak pendidikan dasar.
“Kalian boleh kaya, boleh berhasil, tapi harus berdampak bagi orang lain. Produktif bukan berarti bekerja keras semata, melainkan membangun proses yang jujur dan bermanfaat,” ucap Andy.
Irwan Hidayat memang selalu berpesan untuk memperlakukan manusia seperti kamu ingin diperlakukan. Modalnya sederhana saja yakni akal budi dan niat baik memperlakukan orang lain, seperti memperlakukan diri kita sendiri.
“Langkah pertama dalam evolusi etika adalah rasa solidaritas dengan sesama manusia,” ungkap Irwan yang juga dikenal sebagai influencer ini.
Ia menambahkan bahwa bisnis sejati harus menyatukan keuntungan dengan kemanusiaan, menciptakan dampak sosial yang berkelanjutan.
Acara P3N 2025 bukan sekadar seremoni, tapi katalisator untuk transformasi ekonomi. Dengan industri jamu seperti Sido Muncul yang menyumbang 15% dari total ekspor farmasi Indonesia (data BPS 2024), pendekatan berbasis kesejahteraan SDM berpotensi menekan turnover karyawan hingga 50% lebih rendah dibanding rata-rata nasional (8-10% per tahun).
Secara makro, ini mendukung target pertumbuhan PDB 6-7% melalui peningkatan produktivitas sektor UMKM dan industri tradisional, yang menyumbang 60% lapangan kerja nasional.
