Para narasumber dan perwakilan Daewoong berfoto bersama usai sesi media Daewoong mengenai dislipidemia yang diselenggarakan pada PIT PERKENI 2026. Dari kiri ke kanan: dr. Wicak Prasetiadi, Head of Brand & Marketing Daewoong Pharmaceutical Indonesia; Baik In Hyun, Head of Indonesia Business Division Daewoong Pharmaceutical; Seong-soo Park, CEO Daewoong Pharmaceutical; Prof. Dr. dr. Sidartawan Soegondo, Sp.PD-KEMD, FINASIM, FACE Senior Endocrinologist, University of Indonesia dan Eka Hospital BSD; Hyoung Cheol Park, Managing Director, Head of ETC Marketing Division, Daewoong Pharmaceutical. (foto ist)

 

BANDUNG – Daewoong Pharmaceutical Indonesia (Daewoong) menyelenggarakan simposium ilmiah bertajuk “Comprehensive Lipid Management in Patients with Type 2 Diabetes” pada 27 Juni 2026, di Bandung, Jawa Barat. Acara tersebut digelar dalam rangka Pertemuan Ilmiah Tahunan Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (PIT PERKENI) 2026 ke-14, konferensi endokrinologi terbesar di Indonesia. 

Dalam kesempatan tersebut, Daewoong memaparkan kondisi di Indonesia, di mana hanya 4,9% pasien dengan risiko kardiovaskular tinggi yang berhasil mencapai target LDL-C di bawah 55 mg/dL, serta menegaskan pentingnya pengelolaan lipid, termasuk pengendalian LDL-C, pada pasien diabetes melitus tipe 2 yang memiliki risiko tinggi terhadap penyakit kardiovaskular.

Konferensi yang berlangsung selama tiga hari, pada 26–28 Juni di Hotel Aryaduta Bandung, dihadiri sekitar 500 tenaga medis dari seluruh Indonesia, termasuk dokter spesialis endokrinologi, dokter penyakit dalam, residen, dan peneliti. 

Dalam simposium tersebut, para peserta membahas berbagai strategi penurunan kadar lipid bagi pasien yang mengalami kesulitan mencapai target hanya dengan terapi tunggal (monoterapi). 

Secara khusus, simposium memperkenalkan terapi kombinasi ezetimibe/rosuvastatin, yang bekerja dengan menargetkan sintesis kolesterol di hati sekaligus penyerapan kolesterol di usus, sebagai salah satu pilihan terapi utama.

Dislipidemia, yang umum ditemukan pada pasien diabetes melitus tipe 2, merupakan faktor utama yang meningkatkan risiko komplikasi kardiovaskular. 

Oleh karena itu, penatalaksanaan diabetes tidak hanya memerlukan pengendalian kadar gula darah, tetapi juga pengelolaan lipid, termasuk pengendalian kadar LDL-C.

Berdasarkan data World Heart Federation (WHF), penyakit kardiovaskular menyebabkan 765.660 kematian di Indonesia pada tahun 2021. 

Selain itu, studi registri multisenter yang dipublikasikan dalam Indonesian Journal of Cardiology pada tahun 2025 menemukan bahwa di antara pasien Indonesia dengan risiko kardiovaskular tinggi dan sangat tinggi, hanya 4,9% yang mencapai target LDL-C di bawah 55 mg/dL, sementara 21,2% berhasil mencapai target di bawah 70 mg/dL.

Penelitian di Indonesia juga menunjukkan bahwa dislipidemia banyak ditemukan pada pasien diabetes melitus tipe 2. Berdasarkan studi tahun 2025 yang dipublikasikan dalam Current Internal Medicine Research and Practice Surabaya Journal, dislipidemia ditemukan pada 74% dari 100 pasien diabetes melitus tipe 2 yang diteliti. 

Di antara 40 pasien yang menderita diabetes melitus tipe 2 sekaligus penyakit arteri koroner, sebanyak 85% mengalami dislipidemia. Temuan ini semakin menegaskan pentingnya pengelolaan dislipidemia dan risiko kardiovaskular secara bersamaan pada pasien diabetes melitus tipe 2.

Prof. Dr. dr. Sidartawan Soegondo, Sp.PD-KEMD, FINASIM, FACE, dari Eka Hospital BSD dan SS Diabetic Care, mengatakan dalam praktik klinis di Indonesia, pasien diabetes melitus tipe 2 sering kali memiliki berbagai faktor risiko kardiovaskular secara bersamaan.

“Oleh karena itu, upaya menurunkan kadar LDL-C secara aktif merupakan prioritas terapi yang penting,” ujarnya.

Untuk meningkatkan rendahnya angka pencapaian target LDL-C pada pasien berisiko tinggi, strategi pengobatan perlu disesuaikan dan dioptimalkan berdasarkan profil risiko kardiovaskular masing-masing pasien. 

“Pedoman internasional saat ini juga secara konsisten merekomendasikan dimulainya terapi penurun lipid berbasis bukti sedini mungkin serta pencapaian target LDL-C secara cepat,” jelasnya.

Prof. Da-Hye Seo dari Divisi Endokrinologi Inha University Hospital, Korea Selatan, yang hadir sebagai pembicara internasional dalam simposium tersebut, mengatakan, pengelolaan dislipidemia pada pasien diabetes melitus tipe 2 memerlukan pendekatan yang komprehensif, termasuk pengendalian kadar LDL-C. 

“Bagi pasien yang mengalami kesulitan mencapai target hanya dengan monoterapi, terapi kombinasi yang secara bersamaan menargetkan sintesis dan penyerapan kolesterol dapat menjadi salah satu pilihan pengobatan,” ujarnya.

Seong-soo Park, CEO Daewoong Pharmaceutical yang turut menghadiri acara tersebut, mengatakan, selama lebih dari 20 tahun, Daewoong telah membangun kepercayaan yang kuat dengan komunitas medis di Indonesia dan tumbuh bersama sebagai mitra. 

“Tidak hanya menyediakan obat-obatan, kami juga akan menghadirkan solusi terapi yang dibutuhkan pasien penyakit kronis di Indonesia serta berkontribusi dalam meningkatkan kualitas layanan kesehatan di Indonesia,” ujarnya.

Ke depan, Daewoong berencana melakukan penelitian bersama berdasarkan data klinis pasien lokal untuk membangun bukti ilmiah yang lebih sesuai bagi populasi Asia. 

Perusahaan juga akan terus mendorong kolaborasi antara tenaga medis Korea Selatan dan Indonesia guna mendukung kemajuan ilmu kedokteran di kedua negara serta membantu meningkatkan kualitas layanan kesehatan di Indonesia.