Direktur Utama Sido Muncul Dr (HC) Irwan Hidayat menjelaskan anomali yang terjadi di perusahaan yang dia pimpin (Sido Muncul) saat kinerja SIDO turun, namun di sisi lain produk Tolak Angin digdaya menguasai 72% pasar nasional 

JAKARTA – Proses penyesuaian jumlah atau nilai stok barang pada sistem pencatatan (software akuntansi atau gudang) agar sama persis dengan jumlah fisik aktual yang ada di lapangan atau yang dikenal sebagai inventory adjustment adalah hal yang wajar dilakukan oleh perseroan. 

Begitu juga dengan PT Industri Jamu Dan Farmasi Sido Muncul Tbk yang mengambil kebijakan ini dimaksudkan untuk mengatasi penumpukan stok yang terlalu tinggi di jaringan distribusi. 

Manajemen Sido Muncul memperkirakan, normalisasi penuh akan tercapai seiring stok distributor kembali ke tingkat ideal. 

Direktur Utama Sido Muncul Dr (HC) Irwan Hidayat menjelaskan inventory adjustment di tingkat distributor berkolerasi dengan penurunan pendapatan. 

Dari laporan keuangan emiten berkode saham: SIDO ini mencatatkan penurunan pendapatan sebesar 19 persen pada triwulan I 2026 jika dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya. 

Pada triwulan I 2026, pendapatan perseroan tercatat sebesar Rp 640,5 miliar. Sedangkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 789,1 miliar.

Irwan menegaskan bahwa penurunan pendapatan tersebut tidak disebabkan oleh penurunan permintaan konsumen akhir.

Penurunan pendapatan merupakan dampak dari kebijakan penyesuaian persediaan atau inventory adjustment di tingkat distributor. 

Kebijakan ini diambil untuk mengatasi penumpukan stok yang terlalu tinggi di jaringan distribusi. 

Manajemen memperkirakan, normalisasi penuh akan tercapai seiring stok distributor kembali ke tingkat ideal. 

“Penurunan bukan karena permintaan turun, melainkan kami melakukan inventory adjustment. Permintaan pasar di tingkat ritel tetap stabil, bahkan meningkat di sejumlah wilayah,” ujar Irwan.

Dia mengungkapkan akumulasi stok di distributor dipengaruhi oleh pola penjualan berjenjang dan pembelian distributor dengan harga lama pada akhir 2025. 

Dalam sistem penjualan berjenjang, distributor mendapat insentif berupa harga lebih murah atau hadiah jika membeli dalam jumlah tertentu.

Kondisi ini menyebabkan penumpukan persediaan barang yang terlalu tinggi di tingkat distributor. Penumpukan tersebut berpotensi menimbulkan inefisiensi operasional dan merusak harga produk di pasar. 

“Mereka beli dengan harga lama, kemudian dijual murah di pasar. Padahal, harga resmi sudah naik, tapi mereka masih jual di bawah harga. Ini yang merusak pasar,” ungkap Irwan. 

Permintaan ritel tetap stabil dan meningkat meski pendapatan perusahaan menurun, permintaan pasar di tingkat ritel tetap berada dalam kondisi stabil. Bahkan, di Pulau Jawa dan Sumatra, permintaan menunjukkan peningkatan. 

Irwan menegaskan, data penjualan dari distributor ke toko tidak menunjukkan penurunan signifikan. 

Hal ini membuktikan bahwa fundamental bisnis Sido Muncul tetap kuat dan permintaan konsumen akhir tidak terpengaruh. 

“Laporan keuangan turun karena kami batasi penjualan ke distributor. Namun, permintaan konsumen tidak turun, bahkan di beberapa wilayah naik,” katanya.

 

Produk SIDO Tetap Digdaya

Irwan bahkan menunjukkan kedigdayaan produk unggulan Sido Muncul sebagai pemimpin pasar di berbagai kategori. 

Tolak Angin mampu menguasai 72 persen pangsa pasar obat herbal masuk angin berdasarkan data Nielsen.

Produk unggulan Sido Muncul, lanjutnya, tetap mempertahankan posisi sebagai pemimpin pasar di berbagai kategori. Tolak Angin menguasai 72 persen pangsa pasar obat herbal masuk angin berdasarkan data Nielsen. 

Selain Tolak Angin, produk unggulan juga mendominasi pasar di kategori masing-masing. 

Kuku Bima menguasai 51 persen pasar minuman energi. Kemudian, produk seperti Esemag, Tolak Linu, suplemen herbal, dan jamu serbuk lain juga mempertahankan posisi sebagai market leader. Posisi dominan di berbagai kategori produk menjadi fondasi kuat bagi optimisme manajemen dalam menghadapi tantangan pada 2026.

Irwan menyatakan, dengan permintaan pasar yang tetap kuat dan strategi yang tepat, perusahaan yakin dapat mempertahankan kinerja profitabilitas. 

Sementara itu, bertepatan dengan peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Ke-75 Sido Muncul pada November 2026, perseroan menyiapkan enam langkah strategis untuk mendorong pertumbuhan jangka panjang.

Pertama, manajemen meluncurkan portal Sido HerbalPedia sebagai platform edukasi masyarakat mengenai pengobatan berbasis herbal.

Portal ini diharapkan dapat mendorong pertumbuhan penjualan produk food suplement herbal sekaligus meningkatkan awareness masyarakat terhadap manfaat herbal Indonesia. Sido HerbalPedia akan memuat informasi terkait jamu yang telah diuji klinis dan berbasis riset. 

Kedua, melakukan riset pada tingkat hulu guna meningkatkan kualitas tanaman rempah sebagai bahan baku utama. Langkah ini penting untuk memastikan kualitas produk jamu sejak dari sumber bahan bakunya.

Ketiga, mengembangkan riset tanaman obat untuk berbagai macam penyakit seperti kanker, diabetes melitus, dan peningkatan imunitas. Riset ini bertujuan memperluas portofolio produk herbal berbasis ilmiah.

Keempat, melakukan uji praklinis pada produk-produk Sido Muncul yang sudah ada. Langkah ini bertujuan memperkuat validasi ilmiah terhadap khasiat produk dan meningkatkan kepercayaan konsumen. 

Kelima, memperluas pasar ekspor dengan memasuki pasar mainstream di luar negeri. 

Irwan juga mengungkapkan jika tahun 2026 ini, Sido Muncul merencanakan ekspansi ke Arab Saudi dan China dengan mendaftarkan produk untuk dapat dijual di pasar mainstream. 

Saat ini, produk Sido Muncul di luar negeri masih banyak beredar di pasar sekunder atau toko-toko Indonesia.

Dengan masuk ke pasar mainstream Arab Saudi dan China, perusahaan menargetkan peningkatan penjualan ekspor secara signifikan.

“Kami akan mendaftarkan produk di Arab Saudi untuk masuk pasar mainstream. Kalau bisa, kami juga akan masuk ke China,” beber Irwan.

Keenam, menjaga kualitas produk secara konsisten di seluruh lini bisnis. 

Perusahaan juga akan mengoptimalkan efisiensi biaya melalui optimalisasi produksi, kemasan, pengelolaan pemasok, iklan promosi, serta rantai pasok. 

 

Dampak Kenaikan Bahan Baku Kemasan 

Selain enam strategi yang diuraikan tersebut, strategi sulung dari 5 bersaudara generasi kedua Sido Muncul (Irwan Hidayat, Jonatha Sofjan Hidajat, Johan Hidayat, Sandra Hidayat, dan David Hidayat) ini menyatakan, perusahaan juga tetap mewaspadai sejumlah tantangan eksternal. 

Salah satunya dinamika geopolitik global yang mendorong kenaikan harga bahan baku kemasan.

Meski begitu, perusahaan masih bisa mengelola kenaikan harga tersebut. Pasalnya, sekitar 90 persen bahan baku Sido Muncul berasal dari dalam negeri. 

Dengan struktur biaya yang didominasi bahan baku lokal, dampak fluktuasi nilai tukar dollar AS terhadap rupiah relatif terbatas.  

“Kami bukan pabrik farmasi yang 100 persen impor. Bahan baku kami 90 persen lokal, jadi dampak kurs tidak terlalu besar,” tutur Irwan. 

Untuk bahan baku impor, lanjutnya, hanya mencapai 5-6 persen dari total kebutuhan dengan sebagian besar berupa bahan pembantu produksi.

Sementara, packaging plastik yang terdampak kenaikan harga akibat fluktuasi kurs hanya berkontribusi 5-7 persen dari total biaya produksi.

Irwan pun optimistis terhadap prospek industri herbal dan kinerja Sido Muncul pada 2026. Peningkatan kesadaran masyarakat terhadap kesehatan menjadi katalis utama pertumbuhan industri. 

Selain itu, perubahan cuaca, mobilitas masyarakat, serta budaya konsumsi herbal di Indonesia turut mendorong pertumbuhan pasar. 

Faktor-faktor ini diharapkan dapat menopang kinerja perusahaan sepanjang tahun 2026. 

Di sisi lain, tantangan berupa daya beli masyarakat yang lebih selektif, kenaikan biaya kemasan, energi, logistik, serta volatilitas global tetap menjadi perhatian perusahaan. 

Irwan yang dikenal sebagai arsitek transformasi Sido Muncul dari industri jamu rumahan menjadi industri jamu dan farmasi paling besar serta termodern ini tetap optimistis dapat mengelola tantangan tersebut dengan strategi yang tepat, terukur, resilien, dan berkesinambungan.