JAKARTA – Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) melalui Deputi II BPOM menggelar kegiatan BPOM DEKAT (Desk Konsultasi Terintegrasi) di Bidang Obat Bahan Alam, Suplemen Kesehatan dan Kosmetik
Kegiatan yang juga bertepatan dengan peringatan Pekan Jamu, digelar di aula Gedung Bhinneka Tunggal Ika, BPOM di Jakarta, Senin (26/5/2025).
Acara ini diadakan sebagai bentuk layanan proaktif BPOM memberikan layanan secara terintegrasi kepada kepada pelaku usaha meliputi layanan konsultasi regulasi, registrasi, iklan, perizinan ekspor dan impor, serta sertifikasi di bidang obat bahan alam, suplemen kesehatan dan kosmetik.
Kegiatan ini disambut antusias para peserta dari berbagai sektor industri. Mereka mengaku mendapatkan banyak manfaat, terutama dalam memahami proses registrasi produk, klaim khasiat, hingga standarisasi bahan.
Diungkapkan Siti Istiqomah, Regulator PT Garuda Sehat Jaya, kegiatan ini sangat membantu perusahaannya dalam memahami detail regulasi.
“Walaupun kami bisa baca aturan, tetap saja perlu pendampingan langsung dari tim BPOM, apalagi untuk urusan seperti data pendukung klaim produk. Kalau hanya lewat teks atau chat online, kadang interpretasinya beda,” ujarnya.
Siti berharap kegiatan BPOM DEKAT dapat diadakan lebih sering karena saat ini peluang tatap muka masih terbatas, bahkan harus melalui antrean tiket konsultasi.
Ia menambahkan, selama ini perusahaannya masih mengandalkan produksi maklon di Solo, Jawa Tengah, namun sedang dalam tahap membangun pabrik sendiri.
“Kami baru mulai dari nol, jadi banyak sekali yang harus dipelajari dari sisi regulasi,” tambahnya.
Sedangkan Ela Nurlaela, Penanggung Jawab Teknis di 4Life Indonesia Trading, yang bergerak di bidang impor dan distribusi suplemen mengungkapkan, konsultasi tatap muka seperti kegiatan BPOM DEKAT mempermudah komunikasi.
“Kalau lewat chat, ada hal-hal yang sulit dideskripsikan. Dengan tatap muka, kami bisa langsung tanya dan dapat jawaban jelas,” jelas Ela.
Ela berharap, ke depannya BPOM bisa mempercepat proses registrasi, terutama bagi produk impor, yang saat ini bisa memakan waktu lebih dari sebulan.
Sementara itu, Mutiara Rosa, Manager R&D PT Liza Herbal International mengatakan pihaknya merasakan manfaat besar dari kegiatan ini.
“Kami sedang proses sertifikasi CPOTB tahap 2. Dengan adanya pendampingan seperti ini, kami jadi lebih siap,” kata Mutiara yang perusahaannya memproduksi lebih dari 100 produk herbal dengan basis produksi di Bogor.
Namun, ia mengaku masih sering menghadapi kendala waktu evaluasi yang panjang.
“Ada produk yang sudah diajukan sejak Januari, sampai Desember masih evaluasi. Sering juga klaim khasiat yang kami ajukan, seperti untuk kesehatan kulit, malah diarahkan ke klaim lain seperti pelancar BAB. Ini yang kadang bikin bingung tim marketing kami,” ungkapnya.
Sementara itu, Anita RD dari salah satu UMKM kosmetik yang sedang mengembangkan lini skin care khusus anak-anak di bawah 10 tahun menjelaskan, saat ini ia sedang dalam tahap pengajuan notifikasi produk ke BPOM dan paralel melakukan pengembangan bahan.
Selain proses notifikasi, Anita juga sedang menunggu keluarnya pendaftaran merek, yang diperkirakan memakan waktu hingga satu tahun.
Menurutnya, ini menjadi tantangan tersendiri bagi UMKM yang masih merintis.
“Untuk produk kan juga konsepnya harus sesuai anak-anak, jadi semua harus matang dulu,” jelas Anita.
Ia mengaku, acara seperti yang diselenggarakan BPOM sangat bermanfaat, terutama bagi UMKM pemula yang belum memahami langkah-langkah perizinan dan pengembangan usaha.
“Saya sih berharap acara seperti ini rutin ada, khusus untuk UMKM. Karena suara dari perintis itu kan belum banyak terdengar, beda dengan perusahaan besar,” katanya.
Anita juga menekankan pentingnya edukasi berkelanjutan, terutama terkait standar fasilitas produksi, pengemasan, hingga uji bahan, agar produk UMKM tetap berkualitas dan aman.
“Kalau ada kegiatan rutin per semester khusus untuk UMKM, itu bagus sekali. Jadi pemula nggak bingung harus mulai dari mana,” ujarnya.
Dari sejumlah masukan tersebut, para peserta kompak berharap kegiatan seperti BPOM DEKAT ini bisa digelar lebih rutin.
Meski saat ini sudah ada layanan konsultasi online melalui chat, mereka menilai tatap muka tetap lebih efektif untuk menjelaskan hal-hal teknis dan strategis.
Selain itu, percepatan proses evaluasi produk juga menjadi salah satu sorotan utama, agar pelaku usaha bisa lebih cepat berinovasi dan memenuhi kebutuhan pasar tanpa mengorbankan aspek keamanan.
