foto ist 

Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) terus memperkuat kolaborasi Kemitraan internasional dalam pengembangan pendidikan dan pelatihan sebagai upaya mencetak sumber daya manusia (SDM) berkualitas, yaitu SDM yang unggul, kompetitif, adaptif, dan berdaya saing global.

Hal tersebut ditegaskan melalui peran aktif Indonesia dalam The 2026 Manufacturing and Vocational Education Exchange Forum (MVEF 2026) dengan tema Collaborative Cluster Development for International High-Skilled Talent Development in Machinery Industry, yang diselenggarakan di Hangzhou, Tiongkok, pada Selasa (28/7/2026).

Staf Ahli Bidang Sumber Daya Berkualitas Kemenko PMK, Katiman, saat memberikan sambutan kunci menyampaikan bahwa transformasi industri global yang dipicu oleh perkembangan kecerdasan artifisial, smart manufacturing, dan digitalisasi menuntut sistem pendidikan vokasi yang semakin responsif terhadap kebutuhan dunia kerja.

“Saat ini dunia memasuki era transformasi industri yang berlangsung sangat cepat. Pendidikan vokasi tidak lagi dapat berjalan dengan pendekatan lama, tetapi harus mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan nyata industri agar menghasilkan tenaga kerja yang kompeten serta siap bersaing di tingkat global,” ujar Katiman.

Menurut Katiman, pemerintah Indonesia terus melakukan transformasi pendidikan vokasi melalui implementasi Peraturan Presiden Nomor 68 Tahun 2022 tentang Revitalisasi Pendidikan Vokasi dan Pelatihan Vokasi.

Kebijakan tersebut mendorong perubahan paradigma dari supply-driven menjadi demand-driven, sehingga pengembangan kompetensi peserta didik disusun berdasarkan kebutuhan lapangan kerja dan industri.

“Kami terus memperkuat keterkaitan antara satuan pendidikan vokasi dengan dunia usaha dan dunia industri melalui penyelarasan kurikulum, pembelajaran berbasis kerja, sistem pemagangan, serta pengembangan standar kompetensi yang relevan dengan perkembangan teknologi,” jelasnya.

Dalam forum tersebut, Indonesia dan Tiongkok secara resmi meluncurkan International Cluster Vocational Education Program (ICVEEP) Phase II, sebagai kelanjutan kerja sama strategis kedua negara dalam pengembangan pendidikan vokasi dan pelatihan vokasi.

Katiman menjelaskan bahwa fase kedua kerja sama akan difokuskan pada tiga agenda utama. Yaitu penyelarasan standar kompetensi internasional di bidang manufaktur dan smart manufacturing. Pengembangan kurikulum bersama yang mengikuti kebutuhan industri. Serta penguatan pengakuan bersama terhadap mata kuliah, kredit akademik, dan sertifikasi profesi guna mendukung program dual degree dan mobilitas tenaga kerja terampil antarnegara.

Selain itu, Indonesia juga mengusulkan penguatan kerja sama jangka panjang melalui pembangunan pusat pelatihan bersama (joint training center), smart workshop, laboratorium kolaboratif di politeknik Indonesia, perluasan program sertifikasi internasional, pertukaran dosen dan pelatih (faculty exchange), hingga pembentukan jalur karier internasional bagi lulusan pendidikan vokasi.

“Kemitraan internasional harus mampu memberikan nilai tambah yang nyata, tidak hanya dalam bentuk pertukaran pengetahuan, tetapi juga menghadirkan peningkatan kualitas pembelajaran, transfer teknologi, penguatan kompetensi tenaga pendidik, hingga terbukanya peluang kerja global bagi lulusan vokasi Indonesia,” kata Katiman.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa Kemenko PMK sebagai kementerian koordinator akan terus mendorong sinergi lintas kementerian dan lembaga, dunia usaha, serta mitra internasional untuk memperkuat tata kelola pendidikan vokasi nasional.

Kolaborasi kemitraan antar pemerintah, dunia pendidikan, industri, dan mitra internasional menjadi fondasi penting dalam membangun SDM Indonesia yang unggul. Oleh karena itu tata kelolanya harus ditransformasikan dengan berbasis kebutuhan Pasar kerja dan industri.

“Dengan sinergi yang berkelanjutan, kita optimistis pendidikan vokasi Indonesia akan semakin berkualitas dan mampu menjawab kebutuhan industri masa depan,” tuturnya.

Forum tersebut dihadiri oleh perwakilan pemerintah, otoritas pendidikan vokasi (Technical and Vocational Education and Training/TVET), perguruan tinggi, lembaga riset, serta pelaku industri dari berbagai negara.

Kehadiran Indonesia dalam forum tersebut sekaligus mempertegas komitmen pemerintah untuk memperluas kemitraan internasional dalam mendukung pengembangan SDM yang berkualitas, sejalan dengan agenda pembangunan nasional menuju Indonesia Emas 2045.