foto ist
Hari ini, no na, girl group pop global pertama asal Indonesia, resmi merilis album penuh debut mereka, island girl, melalui 88rising.
Lewat 15 lagu, album ini mengangkat berbagai cerita tentang romansa, feminitas, dan persahabatan, sekaligus merayakan rasa percaya diri dan keberanian dalam perjalanan menuju kedewasaan.
Mulai dari denting ceng-ceng dalam “work”, bunyi gamelan di “rollerblade”, hingga bunyi klakson minibus dalam “honk!” dan dunia yang mereka bangun lewat “speaker freaker the long song”, budaya Indonesia selalu menjadi pusat dari karya-karya no na. Bahkan nama grup ini sendiri terinspirasi dari kata “nona”, yang merujuk pada perempuan muda.
Pekan lalu, no na merilis “speaker freaker (the long song)”, sebuah perjalanan musik dan visual berdurasi hampir 15 menit yang merangkai delapan lagu dalam satu kesatuan, termasuk hit viral global “rollerblade”, “work”, serta tujuh lagu dari album yang sebelumnya belum pernah diperdengarkan. The FADER bahkan menyebut karya ini sebagai “pure cinema.”
Dibentuk dan dikembangkan oleh 88rising, no na beranggotakan Baila, Christy, Esther, dan Shaz yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia, mencerminkan keberagaman budaya tanah air.
Nama no na terinspirasi dari kata “nona”, sebagai penghormatan terhadap akar Indonesia sekaligus semangat muda yang mereka bawa.
Secara musikal, no na memadukan R&B dan pop dengan sentuhan soulful dan energi panggung yang kuat, terinspirasi dari musisi seperti Victoria Monét, FLO, Janet Jackson, dan Diana Ross.
Musik mereka menghadirkan nuansa tropis yang hangat, harmoni vokal yang kuat, serta koreografi dinamis.
Di luar musik, no na juga telah berkolaborasi dengan Nescafé, Louis Vuitton, BCA, Bvlgari, Mobile Legends: Bang Bang, Samsung, BAPE, dan Tiffany & Co.
Dengan identitas Indonesia yang kuat dan ambisi global, no na menghadirkan perspektif baru tentang bintang pop internasional dari Asia Tenggara.
Album debut mereka, island girl, menggambarkan sosok yang ceria, ekspresif, berani namun tetap tulus, sekaligus merayakan persahabatan, masa muda, dan romansa.
Identitas tersebut juga tercermin dalam artwork album, dimana setiap anggota direpresentasikan melalui pose tari tangan khas Indonesia yang berbeda, menyatukan kepribadian mereka dalam satu referensi budaya yang sama.
