foto ist 

BALI – Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno menegaskan bahwa nilai-nilai Hari Suci Nyepi semakin relevan di tengah dunia yang kian bising, serta menjadi fondasi penting dalam membangun karakter, kejernihan berpikir, dan kebijaksanaan dalam kehidupan bermasyarakat.

Hal tersebut disampaikan Menko PMK saat memberikan sambutan dalam kegiatan Dharma Shanti Nasional Perayaan Hari Suci Nyepi Tahun Saka 1948/2026 M di Ardha Chandra, Art Center Bali, pada Jumat (17/4/2026).

Menko PMK menyampaikan bahwa derasnya arus informasi, media sosial, dan dinamika kehidupan modern kerap membuat manusia kehilangan ruang untuk hening dan refleksi.

“Saat ini dunia sedang sangat bising. Kita dibanjiri informasi tanpa henti, tetapi jangan-jangan sangat sedikit yang sempat kita cerna. Tanpa kita sadari kita tidak sempat untuk hening,” ujarnya.

Ia menambahkan, dalam situasi tersebut, respons emosional sering kali lebih cepat muncul dibandingkan kebijaksanaan, sehingga nilai-nilai reflektif seperti yang diajarkan dalam Nyepi menjadi semakin penting.

“Kemarahan lebih cepat daripada kebijaksanaan, ketersinggungan lebih cepat daripada pengertian. Nyepi mengajarkan kita untuk berhenti sejenak, untuk hening, melihat ke dalam, dan menata kembali hubungan kita dengan diri sendiri, sesama, alam, dan Tuhan,” jelasnya.

Lebih lanjut, Menko PMK menguraikan tiga nilai dalam Nyepi yang dinilai sangat relevan dalam kehidupan saat ini, yaitu Amati Geni, Amati Lelungan, dan Amati Lelanguan.

Menurutnya, Amati Geni mengajarkan pengendalian diri agar tidak mudah terpancing emosi dan amarah, terutama di ruang digital yang kerap dipenuhi konflik dan polarisasi.

“Melalui amati geni kita belajar menahan api amarah dan kebencian. Dalam perbedaan, kita diajak untuk tetap tenang dan tidak mudah terpancing,” tegasnya.

Sementara itu, Amati Lelungan dimaknai sebagai ajakan untuk memperkuat hubungan sosial dengan lebih hadir secara nyata di tengah keluarga dan lingkungan terdekat.

“Banyak yang berkumpul secara fisik, tetapi tidak benar-benar berkomunikasi. Kita perlu kembali duduk bersama, mendengarkan keluarga, dan peduli pada lingkungan terdekat,” ungkapnya.

Kemudian, Amati Lelanguan mengandung makna pengendalian diri dari kesenangan berlebih, sekaligus membangun kepekaan sosial terhadap sesama dan lingkungan.

“Kita perlu menahan diri agar hati kembali peka, peka terhadap ketidakadilan sosial dan terhadap bumi yang banyak sekali terluka,” ujarnya.

Menko PMK juga menekankan bahwa nilai-nilai tersebut sangat penting dalam membangun pribadi yang kuat dan berkarakter di tengah tantangan zaman.

“Bangsa kita membutuhkan pribadi semacam ini. Pribadi yang tidak mudah terpancing, tidak gemar menghakimi, pribadi yang lebih suka merangkul daripada memukul. Pribadi yang lebih setia pada nilai daripada sensasi,” katanya.

Dalam konteks pembangunan manusia, Menko PMK mengajak seluruh masyarakat, termasuk generasi muda, untuk menanamkan nilai-nilai Nyepi dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam bermedia sosial.

“Kepada Generasi Z, biasakan menyaring sebelum sharing, memahami sebelum menghakimi. Karena keadilan tidak lahir dari kebisingan, tetapi dari kejernihan,” pesannya.

Menutup sambutannya, Menko PMK mengajak masyarakat untuk menjadikan semangat Nyepi sebagai gerakan bersama dalam membangun kehidupan yang lebih reflektif, beradab, dan penuh welas asih.

“Mari kita sempatkan untuk ‘nyepi’ setiap hari, setiap saat sebelum bertindak. Semoga kesunyian Nyepi membawa arah yang lebih luhur bagi bangsa Indonesia,” pungkasnya.