foto ist
Kabupaten Tangerang – Kementerian Perdagangan menekankan bahwa pemanfaatan skema perjanjian perdagangan bebas (Free Trade Agreement/FTA) dan kemitraan ekonomi komprehensif (Comprehensive Economic Partnership Agreement/CEPA) menjadi kunci strategis untuk memperluas pasar ekspor Indonesia. Khususnya di kawasan Asia Tenggara dan Asia Timur.
Indonesia telah menandatangani sembilan perjanjian perdagangan bebas, baik bilateral maupun regional dengan negara-negara di kawasan tersebut.
Hal tersebut dikemukakan Direktur Perundingan ASEAN Kementerian Perdagangan Nugraheni Prasetya saat membuka seminar bertajuk “Potensi Bisnis Indonesia di Asia Tenggara dan Asia Timur melalui FTA/CEPA” pada Jumat, (17/10/2025).
Seminar tersebut merupakan bagian dari rangkaian acara Trade Expo Indonesia (TEI) ke-40 di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City, Kabupaten Tangerang, Banten.
“Berdasarkan data yang kami miliki, 60 persen dari perdagangan Indonesia dilakukan dengan negara-negara mitra kawasan Asia Tenggara dan Asia Timur. Oleh karena itu, dengan pemanfaatan berbagai skema FTA dan CEPA, kami berharap Indonesia dapat terus memperluas pasar ekspor, meningkatkan daya saing produk nasional, dan semakin memperkuat posisinya dalam rantai pasok global,” ujar Nugraheni.
Seminar ini dimoderatori oleh Negosiator Perdagangan Ahli Madya Kemendag Silvi Mustikawati dan menghadirkan empat narasumber yang terdiri atas perwakilan perdagangan RI di kawasan Asia Tenggara dan Asia Timur, serta perwakilan dari asosiasi.
Atase Perdagangan Malaysia Aziza Rahmaniar Salam menyoroti potensi besar pasar Malaysia sebagai salah satu pintu masuk produk Indonesia ke kawasan Asia Tenggara dan Asia Timur.
Menurutnya, posisi strategis Malaysia dan keterlibatannya dalam berbagai perjanjian perdagangan seperti ASEAN Trade in Goods Agreement (ATIGA) dan Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) memberikan peluang luas bagi produk Indonesia untuk memperluas jangkauan pasarnya.
“Melalui pemanfaatan skema ATIGA dan RCEP, pelaku usaha Indonesia dapat menikmati tarif preferensi dan kemudahan asal produk untuk menjangkau pasar Malaysia. Selain itu, Malaysia juga dapat berperan sebagai hub bagi produk Indonesia untuk menembus pasar lain, seperti Turki melalui skema Malaysia–Turki FTA,” ujar Aziza.
Dari sisi Asia Timur, Atase Perdagangan Korea Selatan Roesfitawati berpendapat pentingnya mengenali tren pasar yang kita tuju. Ia menyebut, Korea Selatan tengah mendorong pertumbuhan ekonomi hijau dan gaya hidup sehat, yang membuka peluang bagi produk-produk Indonesia seperti makanan dan minuman alami, produk halal, kosmetik dan wellness, serta furnitur ramah lingkungan.
“Produk-produk sehat dan berkelanjutan sangat diminati di Korea Selatan. Pelaku usaha Indonesia dapat menyesuaikan produknya agar tetap relevan sepanjang tahun, misalnya melalui diversifikasi bentuk dan kemasan sesuai musim,” jelas Roesfitawati.
Atase Perdagangan Tokyo Merry Astrid Indriasari menyoroti potensi ekspor ke Jepang. Menurutnya, Jepang merupakan pasar yang sangat potensial bagi produk makanan dan bahan pangan Indonesia.
Ketergantungan Jepang terhadap impor bahan makanan yang mencapai sekitar 60 persen dari total kebutuhan nasional, menjadi peluang besar.
“Jepang memang memiliki sektor pertanian yang maju. Namun, hasil produksinya belum mencukupi untuk memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat. Mereka masih sangat bergantung pada impor bahan makanan, termasuk produk pertanian. Namun, tantangannya terletak pada standar keamanan pangan yang sangat ketat,” ungkap Merry.
Wakil Ketua Bidang Perdagangan Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Jahja B. Soenarjo menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor, riset pasar, dan kesiapan pelaku usaha dalam mengakses pasar internasional.
Menurutnya, partisipasi dalam pameran perdagangan seperti TEI bukan sekadar ajang promosi, tetapi menjadi wadah strategis untuk menggali peluang, menjalin kemitraan, dan memperkuat jaringan global.
