Direktur Sido Muncul Tbk, Dr (HC) Irwan Hidayat menjadi pembicara di Simposium Herbal Medicine pada Pertemuan Ilmiah Nasional (PIN) dan Rakernas Perkumpulan Ahli Anatomi Indonesia (PAAI) 2025 di Fakultas Kedokteran UNS Surakarta (foto ist)

 

SURAKARTA – Direktur PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk, Dr (HC) Irwan Hidayat mengajak ratusan Ahli Anatomi Indonesia untuk semakin awareness terhadap upaya anak bangsa memperkuat kemandirian obat herbal dalam mengurangi ketergantungan impor bahan baku obat. 

Penegasan tersebut disampaikan Irwan Hidayat saat menjadi narasumber utama Simposium Herbal Medicine pada Pertemuan Ilmiah Nasional (PIN) dan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Perkumpulan Ahli Anatomi Indonesia (PAAI) 2025 di Fakultas Kedokteran UNS dan Hotel Harris, Surakarta, Kamis (2/10/2025). 

Pertemuan Ilmiah Nasional dan Rakernas Perkumpulan Ahli Anatomi Indonesia diikuti sekitar seribu dokter dan dosen Fakultas Kedokteran di seluruh PTN dan PTS se-Indonesia. 

Irwan berharap bersama Perkumpulan Ahli Anatomi Indonesia dapat mendorong pemerintah memperkuat kemandirian obat herbal di Indonesia agar ketergantungan impor obat dapat ditekan bahkan dikurangi. 

Sulung dari 5 bersaudara generasi kedua Sido Muncul yakni Irwan Hidayat, J Sofjan Hidayat, Johan Hidayat, Sandra Hidayat dan David Hidayat ini menegaskan potensi tanaman obat nusantara sangat besar, namun masih perlu didukung dengan riset dan regulasi.

“Saya meyakini kemandirian obat adalah sebuah keniscayaan di negeri kita ini. Jadi secepatnya kita harus mandiri dari ketergantungan bahan baku obat luar,” ujarnya. 

“Tujuan besarnya untuk mengurangi impor obat dan mengembangkan obat tradisional atau herbal sebagai pendamping obat farmasi. Dan kami dari industri berupaya mendukung kemandirian obat sebagai dignity kita sebagai bangsa yang besar dan berdaulat,” tegas Irwan yang juga dikenal selama ini sebagai influencer. 

Irwan menjelaskan kepada para audiens bahwa langkah awal yang dilakukan perusahaannya adalah memproduksi bahan tunggal herbal dengan standar mutu yang jelas. 

“Saat ini Sido Muncul memiliki 59 produk berbasis bahan alami seperti kunyit, temulawak, daun dewa, pace (mengkudu), hingga jahe,” jelasnya.

Selain itu, dia menekankan pentingnya uji toksisitas secara rutin yang telah dijalankan secara mandiri bahkan melampaui regulasi dari pemerintah. 

Oleh sebab itu, Irwan mendorong pemerintah untuk dapat menyediakan dan mengalokasikan anggaran khusus guna melakukan uji toksisitas terkait khasiat bahan-bahan alami. 

Dia mengungkapkan, selama ini, tumbuhan yang diizinkan oleh BPOM untuk menjadi obat herbal hanya dibatasi sebanyak 350 jenis.

“Kalau pemerintah melakukan uji toksisitas 50 bahan setiap tahun saja, dalam 10 tahun jumlahnya bisa bertambah dari 350 menjadi 500 jenis bahan jamu yang teruji. Faktanya, kekayaan hayati Indonesia mencapai 28 ribu spesies. Pandangan saya bahwa sejatinya melakukan uji toksisitas itu sebenarnya mudah bagi pemerintah, karena hanya 50 bahan per tahun dengan biaya sekitar Rp150 juta per bahan,” beber Irwan. 

Doktor Kehormatan dari Universitas Semarang (Unnes) mengusulkan kepada pemerintah untuk melibatkan perguruan tinggi secara aktif, sehingga membuka ruang riset sekaligus menciptakan lapangan kerja bagi peneliti dan akademisi maupun mahasiswa. 

“Dengan penelitian yang didukung pemerintah, saya yakin bisa memberikan pekerjaan kepada pihak civitas akademika agar mereka semakin semangat melakukan riset. Itu saja, saya kira sudah memperkaya dunia penelitian Indonesia,” ujar Irwan. 

Bos Sido Muncul ini juga mengungkapkan, perusahaan jamu dan farmasi terbesar serta termodern ini tengah menyusun buku berisi informasi ilmiah atau kumpulan jurnal kesehatan tentang produk herbal agar bisa menjadi rujukan tenaga medis. 

“Kami ingin para dokter dan tenaga medis tahu bahwa penelitian tentang herbal itu ada dan terus dikembangkan sehingga hasil penelitian ini menjadi bahan edukasi dan referensi bagi dokter, pasien maupun keluarga,” jelas sang kreator produk Sido Muncul semakin dikenal publik ini. 

Di tempat yang sama Kepala Laboratorium Anatomi Fakultas Kedokteran UNS, Nanang Wiyono, menilai kolaborasi antara akademisi, industri, dan pemerintah sangat penting untuk mendorong obat herbal semakin diminati dan diyakini menjadi pilihan utama untuk membuat sehat rakyat dan benar-benar nyata sebagai tuan rumah di negeri sendiri.

“Pak Irwan membagikan kompendium atau kompilasi pengetahuan tentang bahan alam kepada dokter di seluruh Indonesia. Ini langkah cerdas untuk mempertemukan penelitian, industri dan edukasi,” jelas Nanang. 

Ketua Panitia Pertemuan Ilmiah Nasional Perkumpulan Ahli Anatomi Indonesia ini tetap mengingatkan bahwa kemandirian obat herbal tidak berarti meninggalkan obat modern, melainkan menyeimbangkan keduanya dan saling melengkapi. 

“Saya berpandangan praktik medis dan tradisional bisa disinergikan saling harmonis, tidak selalu harus dipertentangkan,” ujarnya.

Direktur Sido Muncul, Irwan Hidayat bersama Ketua Panitia Pertemuan Ilmiah Nasional Perkumpulan Ahli Anatomi Indonesia Nanang Wiyono sepakat kemandirian obat herbal tidak berarti harus meninggalkan obat modern, melainkan menyeimbangkan keduanya dan saling melengkapi (foto ist)

Nanang optimistis peluang kolaborasi semakin terbuka, baik melalui hibah pemerintah, dukungan industri, maupun peran perguruan tinggi.

“Harapannya, tentu saja tanaman obat asli Indonesia ini bisa berkembang dan membawa manfaat luas bagi masyarakat,” pungkasnya.