JAKARTA – Dr. Ir. Giwo Rubianto Wiyogo, M.Pd resmi dikukuhkan sebagai Presiden Business and Professional Women (BPW) Indonesia, Rabu (20/8/2025). Pengukuhan tersebut dilakukan disela-sela acara BPW Indonesia International Forum di Hotel Mulia, Jakarta. 

Acara tersebut juga sekaligus menandai Official Recognition of BPW Indonesia sebagai bagian resmi dari Business and Professional Women International (BPW International).

 

Ditemui awak media setelah acara BPW Indonesia International Forum 2025 yang mengusung tema “Women Bridging Nations and Driving Sustainable Futures” Sub-theme: Embracing AI and Green Business Transformation, Giwo Rubianto Wiyogo mengatakan telah mempunyai program jangka pendek dan menengah.

“Program terdekat adalah bagaimana kepemimpinan perempuan di Indonesia bagaimana kita berkolaborasi dengan para pemimpin-pemimpin perempuan di dunia,” ujarnya.

Rencananya pada tanggal 23 sampai dengan 27 Agustus di Kuala lumpur, Putra Jaya Malaysia dimana hadir peserta-peserta dari seluruh dunia sebanyak 300 lebih, Giwo akan tampil menjadi narasumber.

“Alhamdulillah saya sebagai pembicara, sebagai narasumber untuk menyampaikan pengalaman-pengalaman bagaimana kepemimpinan di Indonesia. Terutama juga di dalam komunitas organisasi kepemimpinan-kepemimpinan para perempuan kami harapkan tentunya di Indonesia kesetaraan gender bukan hanya sekedar isu, tetapi tentunya juga sebagai isu itu adalah hak asasi manusia terutama di kepemimpinan inklusi yang sekarang ini belum terlihat ada yang inklusif,” ujarnya.

Lebih lanjut Giwo mengatakan, BPW Indonesia mempunyai program jangka pendek dan jangka panjang yang mengacu kepada SDGs 5 gender equality. Atau kesetaraan gender.

“Dimana kita mempunyai hak yang sama untuk kita bisa berbuat, kita bisa melakukan sekecil apapun yang bermanfaat. Dan untuk meningkatkan kualitas SDM. Terutama para perempuan. Jadi masih banyak tantangan-tantangan terutama ada hambatan, batasan yang kesempatan ini banyak tetapi dari diri kita sendiri bagaimana kita meningkatkan ilmu,” ujar Giwo.

“Bahwa belajar sepanjang hayat. Nah perempuan juga nggak bisa diam begitu saja. Harus banyak belajar menerima pengetahuan. Ikut dalam kegiatan-kegiatan yang positif dan belajar terus. Karena perempuan itu adalah sebagai contoh, sebagai role model bagaimana kita mau mengembangkan dan membina generasi muda kalau kita tidak berkualitas,” imbuhnya.

Saat ditanya awak media terkait meningkatkan penggunaan kecerdasan buatan (AI). Giwo mengatakan kita harus mempunyai kemampuan literasi. 

“Terutama literasi digital, literasi keuangan terutama literasi AI yang sekarang berkembang pesat,” ujarnya.

Program BPW Indonesia, jelas Giwo salah satunya adalah mengatasi kesenjangan digital. 

“Kami ada pelatihan, misalnya pelatihan cara menghindari scam dimana perempuan itu sudah banyak korbannya baik itu secara online marketing, keuangan nah itu yang banyak terjadi kepada perempuan. Perempuan dirugikan. Kita jangan sebagai obyek justru sebagai subyek untuk kita bisa melakukan sesuatu apa yang bisa kita berikan kepada bangsa dan negara. Terutama sekarang sudah era digitalisasi Kita harus bisa sebagai penggerak,” ujarnya.

BPW Indonesia International Forum 2025 dihadiri para tokoh perempuan 

BPW Indonesia International Forum di Hotel Mulia, Jakarta dihadiri oleh Menteri Komunikasi dan Digital (Komdigi) Republik Indonesia, Meutya Viada Hafid, Dra. Hj. Arifa Choiri Fauzi, tokoh-tokoh perempuan nasional, delegasi BPW International dari berbagai negara, serta mitra internasional dan pemangku kepentingan strategis lainnya.

 

Dalam forum tersebut Dr. Ir. Giwo Rubianto Wiyogo, M.Pd, Presiden BPW Indonesia, menyampaikan gagasannya dihadapan ratusan tokoh perempuan. 

Dalam sambutannya, Giwo mengatakan bahwa momen ini bukan sekadar acara seremonial, melainkan sebuah deklarasi tujuan dan tekad untuk memperkuat peran perempuan Indonesia dalam pembangunan berkelanjutan.

“Hari ini kita menegaskan bahwa perempuan Indonesia tidak menunggu untuk diikutsertakan dalam masa depan; kita sedang membangunnya. BPW Indonesia adalah sebuah gerakan yang menghubungkan perempuan dengan jaringan global, peluang kepemimpinan, advokasi internasional, serta ruang kolaborasi lintas bangsa,” ujarnya.

Dr. Ir. Giwo Rubianto Wiyogo, M.Pd, Presiden BPW Indonesia bersama Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa, Mantan Wakil Ketua MPR RI Melani Leimena Suharli, artis senior Marini Zumarnis, dan tokoh perempuan Indonesia lainnya. 

BPW Indonesia, berdiri sejak Oktober 2022 dan secara otomatis langsung menjadi bagian dari BPW International, federasi global perempuan bisnis dan profesional yang berdiri sejak 1930 dan memiliki status konsultatif di Dewan Ekonomi dan Sosial PBB (ECOSOC) sejak 1947.

Visi BPW Indonesia adalah memberdayakan perempuan Indonesia dalam bisnis dan profesi melalui advokasi, pendidikan, mentoring, serta kolaborasi global. 

Program-programnya berfokus pada; peningkatan kemandirian ekonomi perempuan, kesetaraan partisipasi dalam kehidupan publik, dukungan pembelajaran sepanjang hayat dan pengembangan kepemimpinan, advokasi kesetaraan gender dan hak asasi manusia, kolaborasi lintas sektor baik nasional maupun internasional.

Forum ini juga menyoroti peran penting perempuan dalam menghadapi transformasi teknologi dan lingkungan, termasuk pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) serta pengembangan green business.

Dr. Giwo menyampaikan perempuan bukan hanya sebagai jembatan antarbangsa dan budaya, tetapi juga arsitek kemajuan berkelanjutan.

“Kita bukan penonton masa depan, kita adalah perancangnya,” tegasnya.

Giwo juga menyampaikan apresiasi kepada para tokoh BPW International yang hadir pada forum tersebut, di antaranya Prof. Herlin Chien (BPW Asia-Pacific Regional Coordinator), Ms. Francesca Burack (Vice President of Membership, BPW International), Ms. Neelima Basnet (UN Representative for BPW International), serta Ms. Ulziisuren Jamsran (UN Women’s Representative for Indonesia and ASEAN Liaison) atas dukungan dan sinerginya.

Giwo mengajak seluruh pihak untuk mengubah ide menjadi aksi nyata dan visi menjadi realitas, dengan semangat kolaborasi global untuk membangun masa depan yang lebih inklusif dan berkelanjutan.

“Ketika perempuan berdaya, bangsa akan maju. Ketika perempuan menjembatani bangsa, kita membangun masa depan yang inklusif dan berkelanjutan,” pungkasnya.