foto ist 

JAKARTA – PRISM, perusahaan induk OYO Indonesia, bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyelenggarakan pelatihan bertajuk “Hospitality Emergency Preparedness: Kesiapsiagaan dan Respons Darurat untuk Keselamatan Tamu dan Karyawan”. 

Kegiatan ini diikuti oleh karyawan manajemen dan staf hotel jaringan PRISM di seluruh Indonesia. 

Pelatihan ini merupakan upaya PRISM untuk memperkuat kesiapsiagaan dan prosedur keselamatan bagi karyawan dan tamu hotel untuk memiliki pemahaman yang lebih baik mengenai risiko bencana, respons darurat, prosedur evakuasi, penanganan tamu, serta komunikasi dalam situasi krisis.

Dalam situasi darurat, kesiapan staf hotel menjadi sangat penting karena mereka merupakan pihak yang berada paling dekat dengan tamu dan menjadi bagian awal dari respons di hotel. 

Penyampaian informasi yang jelas, arahan yang tepat, serta membantu tamu untuk mengikuti prosedur keselamatan menjadi prioritas utama. 

Bagi PRISM, kesiapsiagaan merupakan bagian dari tanggung jawab dalam menjalankan bisnis hospitality. Menjaga operasional bisnis tetap berjalan merupakan bagian dari tanggung jawab hospitality, namun keselamatan tamu dan karyawan tetap menjadi prioritas utama dalam setiap situasi darurat.

Melalui kolaborasi dengan BNPB, PRISM juga mendorong pertukaran pengetahuan antara pemerintah dan pelaku industri untuk meningkatkan pemahaman mengenai kesiapsiagaan di sektor perhotelan.

Pawas Sharma, Business Head SEAME & LATAM PRISM, mengatakan, sebagai perusahaan hospitality, keselamatan tamu, pemilik properti, serta staf dan karyawan merupakan bagian penting dari tanggung jawab kami. 

“Kesiapsiagaan bukan hanya soal apa yang dilakukan setelah bencana terjadi, tetapi bagaimana kami mempersiapkan tim dan properti agar mampu merespons dengan cepat dan tepat,” ujarnya, Senin (28/9/2026).

“Melalui kolaborasi dengan BNPB, kami ingin membuka akses terhadap pengetahuan dan arahan praktis yang dapat langsung diterapkan oleh tim hospitality dalam menghadapi situasi darurat,” imbuh Pawas Sharma.

Dalam sesi tersebut, BNPB memberikan pemaparan mengenai manajemen risiko dan kesiapsiagaan bencana di lingkungan hotel, termasuk pentingnya memahami potensi risiko di masing-masing wilayah, memiliki rencana tanggap darurat, serta memastikan setiap anggota tim memahami peran dan tanggung jawabnya. 

Materi juga membahas kesiapan menghadapi berbagai kondisi darurat, termasuk gempa bumi, tsunami, banjir, dan kebakaran, serta pentingnya memiliki prosedur evakuasi dan komunikasi yang jelas.

BNPB juga menekankan pentingnya memastikan kesiapan untuk tamu dengan kebutuhan khusus dan kelompok rentan, seperti anak-anak, lansia, perempuan hamil, dan penyandang disabilitas. 

Dalam konteks operasional hotel, kesiapan tersebut dapat diperkuat melalui penunjukan personel yang bertanggung jawab atas keselamatan di setiap lantai, rute evakuasi yang jelas, titik kumpul yang teridentifikasi, serta latihan dan simulasi evakuasi secara berkala.

Drs. Pangarso Suryotomo, M.M.B., Direktur Kesiapsiagaan BNPB, menyampaikan, kesiapsiagaan merupakan bagian penting dalam upaya pengurangan risiko bencana. Setiap lingkungan, termasuk sektor hospitality, perlu memahami potensi risiko di wilayahnya serta memiliki rencana dan kapasitas untuk merespons keadaan darurat.

“Hotel memiliki karakteristik tersendiri karena harus memastikan keselamatan tamu dan pekerja yang mungkin memiliki tingkat pemahaman berbeda terhadap kondisi lingkungan di sekitarnya,” ujarnya.

Selain sesi pemaparan, peserta juga mengikuti simulasi praktis kesiapsiagaan gempa dan evakuasi. Dalam sesi ini, peserta diperkenalkan pada teknik “Drop, Cover, and Hold On”, yaitu tindakan perlindungan diri saat terjadi gempa, sebelum dilanjutkan dengan simulasi evakuasi menuju titik kumpul yang telah ditentukan.

Simulasi ini memberikan gambaran mengenai bagaimana respons awal perlu dilakukan secara cepat dan terkoordinasi sebelum proses evakuasi berlangsung. 

Sesi praktik juga menekankan pentingnya rute evakuasi yang jelas, penunjukan penanggung jawab di setiap lantai, ketersediaan peralatan darurat, serta komunikasi yang efektif kepada tamu selama keadaan darurat. 

Peralatan kesiapsiagaan yang dibahas antara lain mencakup dokumen penting, makanan, air, obat-obatan, pakaian, dan uang tunai.

Abhijeet Singh, Country Head PRISM Indonesia, mengatakan, hospitality pada dasarnya adalah bisnis yang berhubungan langsung dengan manusia. Karena itu, keselamatan bukan hanya menjadi bagian dari respons ketika terjadi keadaan darurat, tetapi juga perlu dibangun dalam cara kita menjalankan operasional sehari-hari. 

“Melalui kolaborasi dengan BNPB, kami ingin meningkatkan kesiapan pemilik hotel, operator, dan tim di properti dalam menghadapi situasi darurat, sehingga keselamatan tamu dan karyawan menjadi bagian yang semakin kuat dalam operasional hospitality,” ujarnya.