foto ist
JAKARTA – Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Sesmenko PMK) Imam Machdi menekankan pentingnya pemanfaatan teknologi dan kecerdasan artifisial (AI) untuk menjawab berbagai persoalan nyata yang dihadapi masyarakat dan bangsa Indonesia.
Hal tersebut disampaikan Imam saat mewakili Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno dalam acara Coding Camp 2026 Graduation Powered by DBS Foundation di Grand Ballroom Astaka, ARTOTEL Gelora Senayan, Jakarta, pada Selasa (18/8/2026).
Dalam kesempatan tersebut, Imam menyampaikan pesan Menko PMK mengenai pentingnya membangun “nurani teknologi”, yakni cara pandang yang menempatkan kebermanfaatan bagi manusia dan masyarakat sebagai orientasi dalam pemanfaatan teknologi.
“Teknologi hendaknya tidak hanya melihat apa yang dapat dilakukan, tetapi bagaimana teknologi dapat dikendalikan dengan empati. Yang paling penting bukan teknologi terbaru dan tercanggih, tetapi teknologi itu dapat membantu siapa dan menjawab permasalahan apa,” ujar Imam menyampaikan pesan Menko PMK.
Menurut Imam, kebutuhan terhadap solusi berbasis teknologi semakin penting karena Indonesia menghadapi berbagai persoalan yang kompleks, seperti perubahan iklim, krisis pangan dan energi, penyakit menular maupun tidak menular, hingga berbagai risiko bencana.
“Pertanyaannya, bisakah teknologi membuat kota-kota kita lebih siap siaga terhadap bencana? Bisakah kita membaca risiko lebih awal, mengenali siapa yang paling rentan, dan mengalirkan bantuan lebih cepat ke titik yang tepat? Pertanyaan itu yang saya bawa ke ruangan ini pagi ini,” kata Imam.
Imam menilai tantangan serupa juga terdapat dalam berbagai sektor kehidupan masyarakat. Teknologi dan AI, misalnya, dapat dikembangkan untuk membantu penyandang disabilitas, mendukung nelayan melalui pemanfaatan data, maupun membantu petani mengantisipasi serangan hama dan risiko gagal panen.
Menurutnya, pemanfaatan teknologi perlu dimulai dari persoalan nyata yang dihadapi masyarakat sekaligus diarahkan untuk membaca kebutuhan dan tantangan di masa depan.
“Persoalan bangsa ini begitu banyak dan begitu kompleks. Kita perlu melihat permasalahan hari ini, membaca permasalahan masa depan, dan yang paling penting mampu memberikan solusi untuk permasalahan tersebut. Ini dimulai dari hari ini,” tegasnya.
Imam juga mendorong para lulusan Coding Camp untuk melihat berbagai persoalan di sektor riil sebagai ruang menghadirkan solusi berbasis teknologi. Menurutnya, perkembangan teknologi dan AI membuka peluang bagi talenta digital untuk menjawab kebutuhan masyarakat sekaligus menghadapi berbagai tantangan bangsa di masa depan.
Ia mengapresiasi para peserta yang telah mengikuti program Coding Camp. Menurutnya, ketekunan dalam menyelesaikan rangkaian pembelajaran merupakan modal penting bagi para talenta digital untuk terus berkembang dan berkontribusi.
Tantangan selanjutnya adalah bagaimana kompetensi yang telah diperoleh dapat digunakan untuk menjawab berbagai persoalan bangsa.
“Enam bulan bukan waktu yang pendek. Saudara sudah membuktikan ketekunan. Itu adalah modal yang sesungguhnya,” ujarnya.
Imam juga menyampaikan apresiasi kepada DBS Foundation dan Dicoding Indonesia atas kontribusinya dalam pengembangan talenta digital Indonesia. Selama empat tahun terakhir, DBS Foundation telah memberikan pelatihan kepada lebih dari 229 ribu talenta digital Indonesia, termasuk dalam penguatan literasi keuangan.
“Kami mengapresiasi DBS Foundation dan Dicoding Indonesia atas kerja samanya dalam melatih talenta digital sampai hari ini,” ujarnya.
Menutup sambutannya, Imam mengajak para talenta digital untuk memanfaatkan teknologi secara bijak dan menjadikannya sebagai sarana menghadirkan solusi bagi berbagai persoalan masyarakat.
