foto ist 

JAKARTA – Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) terus mendorong upaya pelestarian batik sebagai warisan budaya leluhur bangsa yang telah diakui oleh dunia. 

Upaya ini tidak hanya krusial untuk menjaga identitas bangsa, tetapi juga untuk memastikan keberlangsungan perputaran ekonomi yang menghidupi masyarakat luas.

Hal tersebut disampaikan oleh Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno dalam agenda Pagelaran Seni Batik Indonesia Puspa Nuswantara 2026 di Jakarta International Convention Center, Jakarta Pusat, pada Rabu (8/7/2026).

Menko PMK menyampaikan apresiasi kepada Asosiasi Perajin dan Pengusaha Batik Indonesia (APPBI) beserta seluruh perajin yang terus mempertahankan batik sebagai warisan budaya luhur bangsa sekaligus kekuatan ekonomi Indonesia. 

“Warisan budaya ini harus terus kita pertahankan. Bukan hanya untuk cerminan dari budaya luhur kita, tetapi juga ini menghidupi banyak sekali jutaan perajin dan pengusaha,” ujarnya.

Secara khusus, Menko PMK mengapresiasi pagelaran tahun ini yang mengangkat tema “Rupa Makna Tambal Nusantara”. 

Tema ini dinilai sangat istimewa dan sarat filosofi karena mengombinasikan berbagai corak khas dari beragam daerah di Nusantara. Secara simbolik, penyatuan elemen tersebut merepresentasikan semangat Bhinneka Tunggal Ika, menambal yang kurang dan memperkuat yang lemah agar menjadi satu kesatuan bangsa yang kokoh.

Di sisi lain, Menko PMK turut menyoroti adanya potensi tergerusnya eksistensi karya seni batik saat ini. Tantangan tersebut datang dari hadirnya produk bermotif cetakan yang bukan batik sesungguhnya, hingga pesatnya motif hasil dari teknologi kecerdasan buatan yang berpotensi menggantikan peran desain otentik karya manusia.

“Kita harus sama-sama mempertahankan, mengembangkan. Gempuran memang sedang terjadi, banyak sekali otomasi, bahkan kecerdasan buatan juga berpotensi untuk menggerus batik kita. Tetapi saya yakin, kita punya pengalaman panjang. Kekhawatiran-kekhawatiran itu kalau kita bersatu, kita bisa,” tegas Pratikno.

Menko PMK optimistis bangsa Indonesia memiliki ketangguhan luar biasa. Terbukti, meski batik sempat mengalami penurunan popularitas di awal tahun 2000-an, masyarakat berhasil bangkit hingga kini batik kembali digunakan secara luas, baik dalam acara resmi maupun pakaian keseharian.

Merespons tantangan di era digital ini, pemerintah lintas sektor terus berkolaborasi melindungi keaslian karya batik nusantara. Masyarakat juga diajak untuk memberikan dukungan nyata bagi industri kreatif lokal dengan memastikan hanya membeli produk asli buatan perajin.

Semangat ini digaungkan melalui tagline “Asli Batiknya, Asli Harganya, dan Asli Perajinnya” yang mengingatkan bahwa menjaga batik adalah tugas kita bersama.

“Mari kita sama-sama menjaga batik Indonesia terus berkembang, kontribusi budaya luhur bangsa untuk diplomasi internasional, tetapi sekaligus juga menghidupi banyak perajin dan pengusaha UMKM kita,” ujar Menko PMK.

Agenda tersebut juga dirangkai dengan peluncuran karya agung Batik Puspawicitra karya Gusti Kanjeng Bendara Raden Ayu Adipati Paku Alam X. Momentum ini mengingatkan bahwa batik bukan sekadar selembar kain, melainkan jantung identitas kebudayaan Indonesia yang terus berdetak dari generasi ke generasi.