Direktur Utama Telkom Dian Siswarini (kedua dari kiri) dan Direktur IT Digital Telkom Faizal Rochmad Djoemadi (paling kiri) turut hadir mengunjungi area eksibisi dan meninjau langsung kesiapan teknologi yang dikembangkan oleh ekosistem AI TelkomGroup dalam agenda ITD Summit 2026. (foto ist)
JAKARTA – PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (Telkom) kembali menyelenggarakan ajang tahunan IT and Digital Summit (ITD Summit) 2026 di Bandung dengan menampilkan beragam solusi AI yang inovatif.
Direktur Utama Telkom Dian Siswarini turut hadir mengunjungi area eksibisi dan meninjau langsung kesiapan teknologi yang dikembangkan oleh ekosistem AI TelkomGroup.
Pada kesempatan tersebut, didemonstrasikan dua solusi unggulan, yakni aplikasi TELIS untuk kebutuhan internal perusahaan serta BigBox AI yang telah diimplementasikan oleh Bappeda Jawa Barat.
TELIS merupakan aplikasi legal intelligence berbasis Cognitive AI yang dirancang untuk membantu pengelolaan, pencarian, serta analisis dokumen kebijakan perusahaan secara cepat, akurat, dan kontekstual. A
Melalui kapabilitas AI, TELIS tidak hanya berfungsi sebagai repositori dokumen digital, tetapi juga mampu menelusuri, merangkum, hingga menyajikan informasi penting dari ratusan dokumen dalam hitungan detik.
Dalam kunjungannya, Dian mencoba langsung fitur pencarian pada TELIS, termasuk melakukan pemeriksaan terhadap dokumen peraturan terbaru yang baru saja ditandatangani melalui sistem tersebut. Solusi ini menunjukkan bagaimana teknologi AI mampu menyederhanakan akses informasi legal secara cepat, tepat, dan akurat.
Ketertarikan juga terlihat saat dipaparkan keberhasilan implementasi BigBox AI dalam mendukung tata kelola data di lingkungan pemerintah daerah.
BigBox AI merupakan solusi kecerdasan buatan berbasis big data yang dikembangkan Telkom untuk membantu organisasi dalam mengelola, menganalisis, dan memanfaatkan data secara lebih optimal guna mendukung pengambilan keputusan berbasis data.
Direktur IT Digital Telkom Faizal Rochmad Djoemadi menjelaskan, “Solusi ini dirancang secara fleksibel dan scalable.
“Sehingga mudah direplikasi untuk mendukung percepatan digitalisasi di berbagai instansi pemerintah sekaligus memperkuat inisiatif augmented workforce secara nasional,” ujarnya.
