keterangan foto (ki-ka): Founder & CEO Dicoding Indonesia, Narendra Wicaksono; President Director & CEO Lintasarta Bayu Hanantasena; Kepala BPSDM Komdigi Boni Pudjianto dan Enterprise Business Manager Indonesia NVIDIA, Andry Gunawan saat peluncuran program Laskar AI di Jakarta, Kamis lalu (13/2/2025). foto dok indopostrust 

 

JAKARTA – Lintasarta ikut membantu mencetak Talenta AI (Artificial Intelligence) yang handal di Indonesia. Yakni melalui program Laskar AI yang merupakan bagian dari AI Merdeka. 

Program bagian pertama Laskar AI, yang diikuti lebih dari 500 peserta, sebentar lagi akan mencetak lulusannya. Mereka yang lulus akan menjadi Talenta AI yang handal dengan kompetensi global. 

Seperti diketahui, kick-off Program Laskar AI telah dilakukan pada Kamis lalu (13/2/2025) di Jakarta. Program ini merupakan inisiatif beasiswa dari Lintasarta yang bekerja sama dengan Dicoding Indonesia. 

Adapun peserta Laskar AI kebanyakan dari kalangan mahasiswa. Juga ada dosen dan profesional yang berasal dari berbagai wilayah di Indonesia.

Gidion Suranta Barus, Chief Cloud Officer Lintasarta mengatakan, AI Merdeka yang diluncurkan pada tahun lalu adalah sebuah gerakan yang isinya ada dua. Yakni Laskar AI dan Semesta AI.

“Laskar AI ini bertujuan mengedukasi bagaimana seseorang itu memiliki kemampuan menjadi yang kita sebut Talenta AI Indonesia. Mampu mengembangkan use this secara individu dulu. Jadi kita menyelenggarakan ini mengundang mahasiswa dan profesional, termasuk dosen didalamnya. Ada 13 ribu peserta yang mendaftar. Tetapi yang kita terima sekitar 500 orang dan ini tahap akhir sebentar lagi akan ada lulusan pertama dari bagian pertama AI Merdeka yang kita sebut Laskar AI,” jelas Gidion di acara Media Workshop Lintasarta, Jumat (4/7/2025).

Program Laskar AI juga menjadi komitmen Lintasarta, sebagai AI Factory di bawah naungan Indosat Ooredoo Hutchison Group, dalam mengakselerasi adopsi AI di Indonesia. 

“Kemudian yang bagian kedua kita akan meluncurkan di akhir bulan Juli 2025 yaitu Semesta AI. Kalau tadi kita bicara talenta di Laskar AI, maka untuk Semesta AI kita berbicara bahwa kita mau membuat startup bergairah lagi. Kemarinkan dibilang startup sudah sunset, dengan adanya AI kita berharap ini me-rebound,” jelas Gidion.

Dengan program tersebut, pihaknya berharap di akhir tahun ini memiliki partner yang bisa membangun use case, bukan individu. 

“Tetapi sebagai partner untuk membangun use case di Indonesia, di perusahaan jadi memang kelasnya perusahaan sebagai partner,” jelas Gidion.

Lebih lanjut ia mengatakan, pihaknya juga akan mencari dan membantu use case AI di perusahaan. 

“Tentunya nanti didukung tidak hanya oleh Lintasarta atau Indosat Group, tetapi juga akan dibantu Talenta AI kita yang hasil dari Laskar AI dan juga dari hasil Semesta AI. Harapannya memang di akhir tahun ini kolaborasi Laskar talenta ini kita menghasilkan 10 orang use case Indonesia,” jelas Gidion.

“Hari ini saja ketemu satu use case yang menarik, yang bersedia dijadikan use case. Dan ini memang benar-benar belum ada di dunia dan ini dibuat oleh anak bangsa. Jadi orang Indonesia sendiri membuat ini program, kita bisa melihat hasilnya di akhir tahun. Kita akan melihat bagaimana rebound dengan adanya AI,” imbuhnya.

Gideon menambahkan, hasil dari Laskar AI dan semesta AI adalah use case di Indonesia yang unik .

“Yang kita lihat sehari-hari seperti kemacetan, polusi udara, kuliner, tanaman bagaimana budidaya, tanaman di perkebunan dan seterusnya, itu unik di Indonesia,” ujarnya.

Dukung Pemerataan Talenta AI di seluruh Indonesia 

Program Laskar AI juga merupakan upaya Lintasarta melakukan pemerataan Talenta AI di seluruh Indonesia. Sebab pesertanya tidak hanya berpusat di Pulau Jawa saja. Namun juga di seluruh Indonesia. Begitu juga dengan mahasiswanya, tidak hanya berasal dari satu atau beberapa kampus saja. Namun dari berbagai kampus di seluruh Indonesia.

“Jadi talenta digital yang sudah diikuti 500 mahasiswa. Juga ada dosen dan profesional, peserta nya tersebar tidak hanya di Jawa atau Indonesia bagian Barat. Tetapi pesertanya juga sudah sampai ke Indonesia bagian Timur. Jadi gerakan ini juga kita menyampaikan melalui gerakan ini ada Pemerataan AI. Knowledge agar siapapun bisa menjadi Talenta AI,” jelas Gidion.

“Laskar AI berjalan waktu kita mengundang mahasiswa dan undangan itu juga kita sebar ke perguruan tinggi di Indonesia. Itu tidak kita sebar ke mahasiswanya tapi kita juga berkolaborasi dengan perguruan tingginya. Perguruan tingginya juga yang memberi masukan kepada kita, atau merekomendasikan mahasiswanya untuk ikut pelatihan Laskar AI,” imbuhnya.

Gidion menambahkan, Lintasarta kini bertransformasi menjadi AI Factory dalam ekosistem Indosat Ooredoo Hutchison (Indosat atau IOH) Group yang mendukung kedaulatan digital nasional.

“Ada tiga output yang dihasilkan oleh factory. Yakni talentanya, ekosistem yang akan membangunnya dan use case Indonesia,” ujarnya.

Gidion menjelaskan, pihaknya berharap setiap tahun bisa menghasilkan use case Indonesia.

“Tapi kita mungkin bertahap yah. Pertama mungkin use case-nya ada, supaya ini men-trigger banyak perusahaan di Indonesia. Kemudian berikutnya setelah use case-nya ada, kita ingin harapkan di Indonesia punya dampak. Dampaknya itu adalah ujung ujungnya adalah mendukung Indonesia Emas,” ujarnya.

Dukungan dari NVIDIA 

Gideon menjelaskan pihaknya mendapatkan dukungan dari NVIDIA. Itu sudah dihadirkan di Indonesia melalui layanan GPU Merdeka dari Lintasarta.

Bahkan untuk kurikulum program AI Merdeka juga berasal dari NVIDIA. Karena itu tidaklah mengherankan jika lulusan program AI Merdeka disebut-sebut mumpuni dibidangnya dan memiliki kompetensi global.

“Yang unik kalau dilihat kurikulumnya itu menggunakan kurikulum yang memang dibuat atau berasal dari NVIDIA. Karena kita partner dari NVIDIA. Kemudian materinya sendiri tidak hanya materi technical, tetapi juga non technical, soft skill. Bagaimana para peserta itu bisa belajar mempresentasikan, bisa belajar berkolaborasi, bisa belajar menjadi project manager dan seterusnya,” ujar Gidion.

“Jadi memang disiapkan secara individu. Kemudian bisa mengakses langsung menggunakan GPU yang ada di Lintasarta. Jadi bisa merasakan langsung apa sih perbedaannya. Apa sih kecepatannya dibandingkan menggunakan komputer yang ada sekarang, seperti yang ada di kampus atau di perusahaan,” jelasnya.

40 Lulusan Laskar AI akan Diserap Perusahaan 

Di usia ke-37, Lintasarta sebagai pelopor layanan ICT tentunya juga akan merekrut Talenta AI yang lulus program Laskar AI. Para lulusan tersebut akan menjadi bagian dari motor penggerak transformasi digital di Indonesia.

“Kita juga menyerap, kalau tidak salah ada 40 lulusan dari Laskar AI yang akan kita serap di Lintasarta atau Indosat secara group. Yang lain kita akan track juga,” jelas Gidion.

“Setelah program ini selesai, kami mau melihat apa sih dari Laskar AI ini, lanjutannya seperti apa. Jadi kita ingin melihat keberhasilan dari suatu program ini adalah penyerapannya di perusahaan dan mereka bisa berpartisipasi di dalam membangun AI Indonesia,” pungkasnya. (dai)