foto ist 

 

Sydney – Atase Perdagangan Canberra kembali memfasilitasi partisipasi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) Indonesia dalam Reed Gift Fair Sydney 2025 pada 15–18 Februari 2025 di International Convention Centre (ICC) Sydney, Australia. 

Produk-produk dari UMKM Indonesia mendapatkan respons positif dari para pelaku bisnis Australia. UMKM Indonesia menerima lebih dari 50 inkuiri dari buyer potensial Australia dan negara lain yang hadir langsung di pameran tersebut.

“Seluruh inkuiri yang diperoleh Indonesia dalam Reed Gift Fair Sydney 2025 tersebut akan segera ditindaklanjuti untuk membuka peluang transaksi lebih lanjut,” jelas Atdag Canberra Agung Haris Setiawan, Selasa (18/2/2025).

“Antusiasme ini mencerminkan meningkatnya minat pasar Australia terhadap produk etnik berkualitas tinggi dari Indonesia,” imbuhnya.

Dalam pameran ini, Haris menggandeng Two Baskets Pty Ltd, sebuah perusahaan milik diaspora Indonesia di Sydney, Australia. Perusahaan ini memiliki toko ritel dan grosir berbasis di Sydney yang memasarkan produk UMKM Indonesia dan berperan aktif sebagai buyer utama untuk produk-produk Indonesia di Australia.

 

Two Baskets secara rutin mengimpor produk kerajinan tangan, anyaman rotan, kain, dan berbagai produk kreatif lainnya dari Indonesia dengan kapasitas pembelian mencapai 10-15 kontainer per tahun. Secara rutin pula, perusahaan ini berpartisipasi pada penjajakan bisnis (business matching) yang dilakukan Atase Perdagangan Canberra.

“Kami terus berkomitmen membuka akses lebih luas bagi UMKM Indonesia di Australia. Reed Gift Fair Sydney 2025 membuktikan bahwa produk-produk Indonesia memiliki daya tarik tinggi, terutama di segmen perabotan rumah (homeware) dan kerajinan (handicraft). Melalui kerja sama dengan mitra seperti Two Baskets, UMKM Indonesia memiliki peluang besar untuk masuk dalam rantai pasok ritel dan grosir di Australia,” lanjut Haris.

Tren pasar Australia saat ini, imbuh Haris, menunjukkan peningkatan permintaan terhadap produk berbahan alami, ramah lingkungan, dan bernuansa etnik.

Produk seperti kerajinan tangan berbahan daur ulang, anyaman rotan, dekorasi ruang berbasis budaya, serta tekstil dengan desain modern tetapi tetap mempertahankan unsur tradisional sangat diminati. Pasar ini didominasi kompetitor dari Thailand, Vietnam, dan India, yang telah lebih dulu memasuki jaringan ritel besar di Australia. 

“UMKM Indonesia memiliki peluang besar untuk bersaing di pasar ini. Tentunya peluang ini harus didukung strategi pemasaran yang tepat, peningkatan kualitas produk serta melakukan inovasi dan adaptasi,” ujar Haris.

Sebagai strategi bagi UMKM dengan kapasitas produksi kecil, Haris mendorong kemitraan dengan UMKM Australia yang memiliki toko atau butik berskala sama. 

Pendekatan ini memungkinkan UMKM Indonesia untuk memenuhi permintaan dalam jumlah yang sesuai dengan kapasitas mereka tanpa menghadapi tekanan harga dari buyer besar.

Dengan menjalin hubungan bisnis langsung dengan toko-toko independen dan pasar spesifik (niche market), UMKM Indonesia dapat menawarkan produk berkualitas dengan harga yang kompetitif, mempertahankan nilai jual yang lebih tinggi, dan membangun loyalitas pelanggan di Australia.

Adapun guna mendukung keberlanjutan ekspor, Haris berupaya memperkuat strategi diplomasi perdagangan serta menghubungkan UMKM Indonesia dengan mitra bisnis yang tepat. 

Keberhasilan ini sejalan dengan program Kementerian Perdagangan UMKM Berani Inovasi, Siap Adaptasi (BISA) Ekspor yang bertujuan meningkatkan daya saing produk Indonesia di pasar internasional melalui inovasi, adaptasi pasar, dan strategi pemasaran yang efektif.

Dengan semakin besarnya minat pasar Australia terhadap produk UMKM Indonesia, Reed Gift Fair diharapkan menjadi agenda tahunan yang terus memperluas akses perdagangan global bagi pelaku usaha kreatif Indonesia.

Reed Gift Fair Sydney 2025 merupakan salah satu pameran dagang business-to-business (B2B) terbesar di Australia yang menarik ribuan peserta dari berbagai sektor industri, mulai dari distributor, pemilik butik, hingga pelaku bisnis ritel dan grosir.

Pameran tersebut diikuti 500 ekshibitor dan dikunjungi 20 ribu orang yang berasal lebih dari 10 negara. Dengan pasar yang semakin terbuka dan meningkatnya tren konsumsi produk berkonsep etnik dan berkelanjutan (sustainable), Indonesia memiliki peluang besar untuk terus mengembangkan ekspor produk UMKM ke Australia.

 

Berdasarkan data yang diolah Atdag Canberra, total perdagangan Indonesia-Australia pada 2024 tercatat USD 15,39 miliar atau meningkat 23,39 persen dibandingkan tahun sebelumnya. 

Dari nilai tersebut, ekspor Indonesia ke Australia sebesar USD 4,95 miliar atau meningkat 55,99 persen dibanding 2023 yang hanya sebesar USD 3,17 milliar.

Adapun ekspor Indonesia ke Australia untuk produk kerajinan, perabotan rumah dan tekstil mencapai USD 264 juta, sementara total pasar untuk kategori ini di Australia mencapai USD 12,9 miliar. Hal ini menunjukkan bahwa potensi pasar bagi produk Indonesia masih sangat besar, dan masih banyak peluang untuk meningkatkan ekspor di sektor ini.