JAKARTA – Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI Ahmad Muzani membuka secara resmi Global Islamic Holistic Education Summit (GIHES) 2026, Sabtu (5/9/2026) di Hotel Borobudur, Jakarta.
Penyelenggaraan GIHES 2026 merupakan bagian integral dari peringatan bersejarah satu abad Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG). Forum internasional ini dinilai sebagai langkah strategis untuk memperkuat sistem pendidikan di Indonesia melalui pendekatan holistik yang berakar pada tradisi panjang pesantren.
“Salah satu tujuan kita bernegara adalah memajukan, mencerdaskan kehidupan bangsa. Kata mencerdaskan seperti kita pahami bersama dalam pembukaan UUD 1945 itu bukan sekedar proyek terhadap pendidikan dalam kehidupan kita berbangsa. Pendidikan adalah investasi peradaban. Pendidikan adalah jalan untuk memastikan bahwa kemerdekaan yang diwariskan para pendiri bangsa dapat diteruskan kepada generasi berikutnya,” ujar Muzani.
“Itu sebabnya mencerdaskan kehidupan bangsa juga bisa berarti pendidikan holistik. Apa yang disampaikan pembicara sebelumnya, adalah sebuah bentuk kenyataan bahwa pendidikan pesantren telah mewariskan kepada kita bagaimana peradaban dibentuk dari awal,” imbuhnya.
Lebih lanjut Muzani mengatakan, jika dalam seratus tahun Gontor salah satu tekadnya adalah dari Gontor untuk Indonesia, dari Indonesia untuk dunia, dari santri untuk kemanusiaan adalah bentuk tekad bagaimana pendidikan holistik ini bisa menjadi sebuah bangunan peradaban pada masa yang akan datang .
Problem sekarang ini adalah kemajuan teknologi di satu sisi tetapi juga menjadi kekuatan kita pada sisi yang lain.
Kemajuan teknologi misalnya pada Artificial Intelligence (AI) bagaimana misalnya tantangan-tantangan itu kita temukan dan itu sering menjadi jalan pintas bagi proses pendidikan. Tetapi itu juga harus kita manfaatkan sebagai bagian kemajuan itu agar itu bisa memperkuat proses pendidikan kita.
“Jika dalam seratus tahun pertama Gontor menjadi pesantren modern, maka tantangannya adalah pada seratus tahun kedua apa yang disebut dengan modern berikutnya,” jelas Muzani.
Kata modern sebagaimana dijelaskan oleh pembicara sebelumnya, bagaimana Gontor pada seratus tahun pertama, mengajarkan bahasa Inggris, yang ketika itu menjadi bahasa penjajah, diajarkan kepada para santri.
Bagaimana misalnya mengajarkan ilmu-ilmu non agama diajarkan kepada para santri, yang saat itu masih dijauhi oleh kaum santri ketika itu, dan melahirkan orang orang hebat ketika itu
“Apa yang diajarkan oleh Gontor kemudian membuahkan hasil misalnya KH Idham Chalid bisa menjadi ketua MPRS pertama kali itu adalah alumni Gontor, juga menjadi ketua umum PBNU dan kemudian Prof Din Syamsuddin bisa menjadi ketua PP Muhammadiyah, kemudian KH Hasyim Muzadi bisa menjadi ketua PBNU. Itulah yang dimaksudkan barangkali dari Gontor untuk Indonesia,” jelas Muzani.
Belum lagi alumni- alumni Gontor yang menjadi menteri agama, yang jadi menteri ini menteri itu dan seterusnya. Belum lagi yang jadi pengusaha.
“Itulah inovasi pertama seratus tahun Gontor pada tahun-tahun yang lampau dan diletakkan oleh para pendiri Gontor. Trimurtinya kita sebut para pendiri Gontor. Kita semua yang ditinggalkan harus mencerminkan bagaimana memikirkan seratus tahun yang kedua dan seminar hari ini adalah upaya untuk mencari bagaimana seratus tahun kedua Gontor bisa berkiprah untuk Indonesia, Indonesia berkiprah untuk dunia. Dan santri berkiprah untuk perilaku kemanusiaan,” jelas Muzani.

Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI Ahmad Muzani (tengah) membuka secara resmi Global Islamic Holistic Education Summit (GIHES) 2026, Sabtu (5/9/2026) di Hotel Borobudur, Jakarta
Muzani juga meminta pondok pesantren (ponpes) mendidik karakter santri dengan tradisi lokal dan penuh dengan nasionalisme ala Indonesia.
“Pesantren itu telah dikembangkan oleh para pendahulu, pemimpin, ulama, dan para kiai kita, dan cara mendidiknya adalah khas Indonesia, dan menyatukan diri dalam ke-Indonesia-an, menyatukan diri dalam tradisi, menyatukan diri dalam keunikan-keunikan yang ada di lokal-lokal itu.
Muzani menegaskan, pendidikan holistik yang selama ini dikembangkan di pondok pesantren bisa menjadi sebuah model tentang pengembangan sumber daya manusia pada masa yang akan datang, baik di pesantren-pesantren atau berbagai macam pendidikan lainnya.

Forum internasional yang diselenggarakan untuk memacu para santri agar lebih termotivasi. Selain itu, juga menjadi sebuah ajang bagaimana pembentukan karakter manusia bisa dibentuk melalui sebuah pendidikan holistik.
“Bagaimana pendidikan holistik yang ditawarkan dan sudah dikembangkan di pondok-pondok pesantren bisa menjadi sebuah model bagi pengembangan peradaban pada masa-masa yang akan datang, dan ini adalah sebuah ikhtiar yang sangat penting dan harus kita dukung,” ujar dia.
Ia juga menegaskan, santri harus terus belajar, mendengar, membaca, bertanya, dan saling berdiskusi karena itu adalah sebuah cara untuk menguji kebenaran, sehingga tradisi keilmuan akan terus diuji dengan baik.
“Tantangan di dunia pondok pesantren juga berkembang sesuai dengan tuntutan zamannya, oleh karena itu, ikhtiar yang harus dilakukan adalah terus melakukan inovasi dan perbaikan diri,” pungkasnya.
Ketua Global Islamic Holistic Education Summit (GIHES) KH. Anang Rikza Masyhadi menyatakan GIHES digelar pada 5-6 September 2026 di Hotel Borobudur, Jakarta. Bertujuan mendorong Indonesia sebagai kiblat pendidikan holistik dunia.
“Pendidikan holistik ini menjadi isu yang sangat penting di Barat, tetapi riset dari Harvard menunjukkan belum ada sekolah yang benar-benar berhasil di sana,” kata KH. Anang Rikza Masyhadi yang juga Sekretaris Jenderal Forum Pesantren Alumni Gontor (FPAG) di Jakarta, Jumat.
Sementara itu, pendidikan pesantren justru menjalankan pendidikan holistik setiap hari selama 24 jam dan GIHES hadir untuk meletakkan konsep ini di atas permukaan tanah agar dapat dilihat, dikaji, dan dijadikan rujukan oleh dunia luar.
Ia menjelaskan bahwa keunggulan sistem pesantren terletak pada pembentukan manusia secara seutuhnya yang mencakup kecerdasan intelektual, kepemimpinan, ketahanan diri (resiliency), hingga interaksi sosial.
Menurut dia fenomena ini terbukti dari tren pendidikan nasional yang kini mulai kembali mengadopsi konsep berasrama seperti pada Sekolah Garuda, Sekolah Rakyat, hingga MAN Insani Cendekia.
“Fakta ini mempertegas bahwa pola pendidikan 24 jam ala pesantren merupakan instrumen paling efektif untuk menjawab kebutuhan zaman,” ujarnya. (dai)
