foto ist
BANDUNG – Memasuki usia ke-50 tahun, PT Dirgantara Indonesia (Persero) (PTDI) terus meneguhkan komitmennya dalam memperkuat industri dirgantara nasional dan menghadirkan inovasi bagi masa depan penerbangan Indonesia.
Komitmen tersebut diwujudkan PTDI melalui penyelenggaraan Simposium Nasional HUT ke-50 PTDI dengan mengusung tema “Memperkuat Konektivitas Udara untuk Pemerataan, Pertumbuhan Ekonomi, dan Kemandirian Industri Penerbangan Indonesia”.
Simposium ini menjadi salah satu rangkaian agenda HUT ke-50 PTDI sekaligus forum untuk memperkuat kolaborasi dan merumuskan langkah strategis dalam pengembangan konektivitas udara, khususnya penerbangan perintis dan ekosistem industri dirgantara nasional.
Dalam sambutannya, Direktur Utama PTDI mengatakan, Indonesia adalah negara kepulauan. Konektivitas bukan kemewahan, melainkan kebutuhan dasar pembangunan.
Banyak wilayah membutuhkan pesawat yang mampu menjangkau bandara pendek, membawa manusia, logistik, layanan kesehatan, dan harapan ekonomi ke berbagai penjuru Nusantara.
“PTDI siap bekerja dan siap memenuhi kepercayaan yang diberikan kepada kami. Mari kita bangun ekosistem dirgantara sebagai investasi strategis, bukan hanya untuk hari ini, tetapi untuk kedaulatan teknologi, ketahanan nasional, dan masa depan generasi Indonesia,” ujarnya.
Diselenggarakan pada Rabu (26/08), di Hanggar Final Assembly Line (FAL) N219 PTDI, Bandung. Simposium ini dihadiri oleh Wakil Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas), Febrian Alphyanto Ruddyard, selaku keynote speaker, Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes), Benjamin Paulus Octavianus, Wakil Gubernur (Wagub) Jawa Barat, Erwan Setiawan, Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, Direktorat Jenderal Potensi Pertahanan (Ditjen Pothan) Kementerian Pertahanan, Sri Yanto, Direktur Utama PT Len Industri (Persero), Joga Dharma Setiawan, serta Wakil Komisaris Utama PTDI, Bagus Puruhito.
Kegiatan ini juga melibatkan perwakilan pemerintah, legislatif, operator penerbangan, serta pelaku industri dirgantara nasional dan global.
Dalam paparannya sebagai keynote speaker, Febrian Alphyanto Ruddyard menyampaikan, tantangan kita kedepan bukan lagi sekadar membuktikan bahwa Indonesia mampu membuat pesawat. Tantangan berikutnya adalah menjadikan kemampuan itu sebagai kekuatan ekonomi nasional melalui penguatan rantai pasok lokal.
Sebuah pesawat tidak akan pernah berdiri sendiri. Dibelakangnya ada rantai pasok komponen, material, avionik, perangkat lunak, riset, sertifikasi, serta Maintenance, Repair, and Overhaul (MRO).
Oleh karena itu, pertanyaan untuk 50 tahun ke depan bagi PTDI adalah berapa banyak komponen yang dibuat di Indonesia, berapa banyak Perusahaan nasional yang masuk dalam rantai pasok, dan berapa besar nilai tambah yang tinggal di dalam negeri.
“Kita harus menyatukan tiga hal yang selama ini terpisah: demand (permintaan), supply (pasokan), dan financing (pembiayaan) dalam satu kebijakan nasional yang konsisten untuk mendukung rute perintis,” ujar Febrian.
“Kita harus memandang rute perintis bukan sekadar subsidi sosial, melainkan investasi pembangunan ekonomi wilayah, di mana N219 dapat memperoleh peran utama sebagai penghubung konektivitas nasional,” pungkasnya.
Rangkaian acara dilanjutkan dengan peresmian Hanggar FAL N219 yang ditandai dengan penandatanganan prasasti oleh Wamen PPN/Bappenas, Febrian Alphyanto Ruddyard, disaksikan oleh Wamenkes, Benjamin Paulus Octavianus, Wagub Jawa Barat, Erwan Setiawan, Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, Ditjen Pothan Kemhan, Sri Yanto, Direktur Utama PT Len Industri (Persero), Joga Dharma Setiawan, Direktur Utama PTDI, Gita Amperiawan, dan Wakil Komisaris Utama PTDI, Bagus Puruhito.
Kegiatan dilanjutkan dengan penyerahan simbolis Part First Cutting N219 Komersial kepada Direktur Utama PT Mitra Aviasi Perkasa (PT MAP), Septo Adjie Sudiro dan disaksikan oleh Wamenkes, Benjamin Paulus Octavianus.
Pada kesempatan ini, PTDI juga menyepakati sejumlah kerja sama strategis dengan pemerintah daerah, kementerian, serta mitra industri dan Original Equipment Manufacturer (OEM) global.
Kerja sama tersebut mencakup penguatan bisnis dan investasi, pengembangan kapabilitas industri, pemanfaatan produk PTDI untuk konektivitas udara dan pelayanan kesehatan, hingga penguatan kerja sama industri dan komersial di tingkat global.
Penandatanganan diawali dengan kontrak jual beli 3 (tiga) unit pesawat N219 antara PTDI dan PT BIBU Panji Sakti sebagai bagian dari upaya memperluas pemanfaatan N219 untuk kebutuhan konektivitas udara.
Selanjutnya, PTDI menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) dengan Pemerintah Kabupaten Mamberamo Raya yang diwakili oleh Bupati Mamberamo Raya, Robby W. Rumansara, mengenai kerja sama operasionalisasi pesawat N219 di Kabupaten Mamberamo Raya.
Untuk mendukung pengembangan bisnis dan kapabilitas industri, PTDI menandatangani MoU dengan Ravelware serta MoU dengan PT Cipta Teknologi Mandiri mengenai rencana pengembangan bisnis dan kapabilitas pada sektor produksi dan aerostructure.
PTDI juga menandatangani MoU dengan PT Invest Indo International mengenai kerja sama strategis di bidang pengembangan bisnis, investasi, rantai pasok, dan operasional.
Sementara itu, melalui Industrial and Commercial Agreement (ICA) dengan Bell Textron Inc., PTDI memperkuat kerja sama produksi dan komersial melalui kolaborasi penjualan dan pemasaran helikopter, kustomisasi helikopter sesuai kebutuhan pelanggan, serta penguatan peran PTDI sebagai delivery center dan Bell Authorized Maintenance Center (AMC) untuk helikopter Bell 505 dan Bell 412.
Perjanjian ini juga menjadi landasan bagi pengembangan kerja sama industri lebih lanjut, termasuk pemenuhan dan pengakuan local content, countertrade, dan/atau offset di Indonesia.
Rangkaian kegiatan juga mencakup penayangan video mengenai penyampaian LoI dengan Lassac sebagai bagian dari penguatan jejaring kerja sama PTDI dengan mitra strategis. (rls)
