foto ist
JAKARTA — Di tengah upaya pemulihan Nusa Tenggara Timur (NTT) pascagempa, konektivitas menjadi lebih dari sekadar jalur perjalanan. Ia menjadi penghubung antara bantuan, tenaga kemanusiaan, dan masyarakat yang membutuhkan dukungan.
Semangat tersebut diwujudkan PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) melalui keberangkatan KMP Ile Labalekan dari Pelabuhan Bolok, Kupang, menuju Pelabuhan Nangakeo, Ende, pada Minggu (16/8) pukul 22.05 WITA.
Kapal menempuh sekitar 155 mil laut dengan estimasi perjalanan 18 jam, membawa logistik dan personel untuk mendukung penanganan dampak gempa di Kabupaten Ende.
Bantuan merupakan hasil kolaborasi pemerintah, BUMN, dan pemangku kepentingan, meliputi Kementerian Sosial RI, Kementerian Kesehatan RI, BNPB Provinsi NTT, BPTD Kelas II Provinsi NTT, BPJN Kementerian PUPR, Polda NTT, Kementerian ESDM, ASDP, Pelindo, Bulog, Telkom, dan PLN.
Direktur Utama ASDP Heru Widodo mengatakan, konektivitas antarpulau memiliki peran strategis dalam kondisi tanggap darurat untuk memastikan bantuan dapat dimobilisasi secara cepat dan terkoordinasi.
“ASDP siap mengambil peran melalui konektivitas penyeberangan agar bantuan kemanusiaan dapat segera bergerak menuju wilayah yang membutuhkan. Kami ingin memastikan jalur transportasi dan armada penyeberangan dapat dimanfaatkan secara optimal untuk mendukung pemerintah dan masyarakat, mulai dari penanganan hingga proses pemulihan,” ujar Heru.
KMP Ile Labalekan membawa tenda, karpet, perlengkapan medis dan obat-obatan, sembako, makanan dan minuman ringan, serta genset. Sebanyak 92 orang turut dalam pelayaran, termasuk tiga dokter, petugas dari masing-masing instansi, dan satu pleton Brimob Polda NTT.
Dari sisi muatan kendaraan, kapal mengangkut 2 unit Golongan II R-2, 6 unit Golongan IV Penumpang, 10 unit Golongan IV Barang, 2 unit Golongan V Penumpang, 6 unit Golongan V Barang, 1 unit Golongan VI Barang, dan 5 unit Golongan VII.
