foto ist 

JAKARTA – Mudik Lebaran bukan sekadar perjalanan pulang, melainkan denyut besar mobilitas nasional yang mempertemukan jutaan cerita, harapan, dan kerinduan dalam satu momentum. 

Tahun ini, lonjakan pergerakan kembali terjadi dengan intensitas yang lebih tinggi, namun tetap mampu dikelola secara optimal melalui kesiapan sistem dan kolaborasi lintas sektor yang solid.

Momentum peningkatan ini turut disampaikan Menteri Perhubungan, Dudy Purwagandhi, yang menyebut moda penyeberangan telah melayani sebanyak 5,52 juta penumpang atau naik 15,32 persen dibandingkan tahun sebelumnya. 

PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) memastikan kesiapan layanan transportasi yang tidak hanya andal, tetapi juga adaptif dan terkelola optimal, khususnya di 15 lintasan pantauan nasional.

Adapun ragam lintasan tersebut merupakan lintas vital dengan mobilitas tinggi, diantaranya Merak – Bakauheni, Ciwandan – Wika Beton, Bojonegara – Muara Pilu, Ketapang – Gilimanuk, Padangbai – Lembar, Jangkar – Lembar, Kayangan – Pototano, Kariangau – Penajam, Bajoe – Kolaka, Hunimua – Waipirit, Bira – Pamatata, Bolok – Rote, Bitung – Ternate, Ajibata – Ambarita, Telaga Punggur – Tanjung Uban, Tanjung Api-Api – Tanjung Kalian, serta Nias – Sibo.

Secara kumulatif sejak H-8 hingga H+8 pukul 06.00 WIB, total penumpang di 15 lintasan pantauan nasional mencapai 4.722.213 orang atau naik 6,6% dibandingkan tahun lalu sebanyak 4.430.006 orang. 

Sementara total kendaraan tercatat 1.215.273 unit atau meningkat 8% dibandingkan 1.125.178 unit pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Direktur Utama ASDP, Heru Widodo, menyampaikan bahwa di tengah peningkatan signifikan tersebut, layanan penyeberangan tetap mampu beroperasi secara optimal. 

Hal ini tercermin dari kelancaran arus layanan yang terjaga serta distribusi trafik yang semakin merata di berbagai lintasan, termasuk pada periode puncak arus mudik dan balik.

“Capaian kelancaran layanan serta distribusi trafik yang semakin merata, bahkan pada puncak arus, merupakan hasil dari kesiapan operasional yang telah dirancang secara komprehensif jauh sebelum periode Angkutan Lebaran dimulai,” ujarnya.

“Optimalisasi armada yang didukung penguatan digitalisasi layanan menjadi kunci utama dalam menjaga kinerja penyeberangan tetap andal,” imbuh Heru.

Dalam pelaksanaannya, lintasan Jawa–Sumatera–Bali tetap menjadi simpul vital pergerakan nasional. 

Berbagai langkah antisipatif dilakukan secara terukur, mulai dari pengaturan pola operasi kapal berbasis kebutuhan harian, penerapan skema Tiba–Bongkar–Berangkat saat terjadi kepadatan, delaying system melalui titik buffer zone, pemanfaatan digitalisasi Ferizy, hingga kebijakan stimulus berupa diskon tarif dan single tarif guna mendorong distribusi perjalanan yang lebih merata dan inklusif.

Keberhasilan ini juga diperkuat oleh koordinasi intensif lintas sektor. Seperti disampaikan Menhub, “Penyelenggaraan Angkutan Lebaran tahun ini merupakan kerja besar bersama, yang melibatkan koordinasi lintas sektor secara intensif, baik antar kementerian/lembaga, pemerintah daerah, operator transportasi, maupun seluruh pemangku kepentingan terkait lainnya. Kolaborasi ini menjadi kunci penting untuk memastikan masyarakat dapat melaksanakan perjalanan mudik dan arus balik dengan aman, selamat, dan lancar.”

Sejalan dengan hal tersebut, Heru juga menyampaikan apresiasi atas dukungan penuh seluruh pihak dalam menjaga kelancaran layanan. 

“Kami mengapresiasi kolaborasi erat Danantara Indonesia, BP BUMN, Kemenko Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Kemenko PMK, Kementerian Perhubungan, Kementerian Kesehatan, Kepolisian RI, TNI, BUMN transportasi, asosiasi penyeberangan, serta seluruh masyarakat pengguna jasa ferry. Kepatuhan masyarakat dalam merencanakan perjalanan sejak dini dan melakukan pembelian tiket melalui Ferizy sangat berkontribusi dalam menjaga kelancaran arus mudik dan balik,” ujarnya.