Kegiatan operasional di TPK Kupang (foto ist)

NTT – Terminal Peti Kemas (TPK) Kupang mencatat kinerja operasional tahun 2025 di tengah dinamika perubahan pola distribusi logistik di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT).

Penurunan arus peti kemas yang terjadi sepanjang tahun lalu menjadi tantangan tersendiri, sekaligus momentum bagi TPK Kupang untuk menyiapkan langkah strategis melalui penguatan standardisasi operasional, modernisasi peralatan, serta akselerasi digitalisasi guna meningkatkan performa di tahun 2026.

Sepanjang tahun 2025, arus peti kemas di TPK Kupang tercatat sebesar 134.684 TEUs atau setara dengan 123.915 box. Capaian ini mengalami penurunan 5,3% dibandingkan tahun 2024 yang mencapai 142.340 TEUs atau 130.316 box.

Terminal Head TPK Kupang, Andhik Wahyu Kristianto, menjelaskan bahwa penurunan arus peti kemas tersebut dipengaruhi oleh faktor eksternal berupa pergeseran pola angkutan logistik.

“Beberapa faktor eksternal yang mempengaruhi penurunan arus peti kemas antara lain beroperasinya dua unit kapal Ro-Ro dengan rute Surabaya-Lembar-Waingapu-Kupang (PP) yang mengangkut kendaraan logistik atau truk, serta beroperasinya kapal Indocement yang membawa muatan semen dari Makassar langsung ke Kupang,” ujarnya, Selasa (3/2/2026).

Dari sisi kinerja operasional, kecepatan bongkar muat pada tahun 2025 tercatat sebesar 24,99 box per ship hour (BSH), sedikit menurun dibandingkan capaian tahun 2024 yang mencapai 26,45 box. 

Sementara itu, kinerja box crane per hour (BCH) justru menunjukkan peningkatan signifikan, dari 22,87 box pada tahun 2024 menjadi 27,59 box pada tahun 2025.

Adapun rata-rata port stay atau lama waktu kapal berada di pelabuhan pada tahun 2025 tercatat 15,92 jam, meningkat 0,69 jam atau sekitar 41 menit dibandingkan tahun 2024 yang sebesar 15,23 jam.

Peningkatan ini disebabkan oleh pelaksanaan perawatan dan pemeliharaan peralatan bongkar muat sebagai bagian dari upaya menjaga keandalan operasional jangka panjang.

Meski sempat menghadapi kendala teknis pada peralatan bongkar muat dalam beberapa waktu terakhir, saat ini aktivitas operasional di TPK Kupang telah kembali berjalan lancar dan terkendali. 

Seluruh pelayanan kapal dan arus peti kemas berlangsung normal dengan tetap mengedepankan aspek keselamatan kerja, keandalan peralatan, serta kualitas layanan kepada pengguna jasa.

Sebagai langkah akselerasi perbaikan di tahun 2026, TPK Kupang akan mengoptimalkan standardisasi operasional dan digitalisasi melalui implementasi penuh Terminal Operating System (TOS) Nusantara dengan modul PARAMA dan PRAYA. 

Sistem ini memungkinkan sinkronisasi data kapal dan barang secara real-time sehingga mampu memangkas waktu tunggu barang di pelabuhan (dwelling time) secara signifikan.

Selain penguatan sistem digital, TPK Kupang juga memfokuskan peningkatan kinerja melalui penerapan Planning and Control (P&C) serta modernisasi dan peremajaan peralatan bongkar muat, khususnya pada unit Rubber Tyred Gantry (RTG).

“Modernisasi dan peningkatan keandalan alat menjadi bagian penting dari akselerasi tahun 2026. Kami menargetkan kesiapan dan kesehatan alat mencapai 100% agar performa BSH dan BCH dapat kembali ke level optimal,” pungkas Andhik.