foto ist
JAKARTA – Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Stella Christie menekankan bahwa manusia dapat unggul dari AI jika memiliki kemampuan yang tidak dimiliki algoritma. Seperti empati, intuisi, kemampuan bertanya kritis, dan pemahaman humanis.
Hal tersebut disampaikannya saat dialog bertema AI dan Identitas Nasional: Belajar, Berbudaya, dan Berkarakter di Tengah Disrupsi Digital yang digelar di Aula Heritage Kantor Kemenko PMK, pada Rabu (26/11/2025).
“Manusia akan menang bila memiliki kemampuan yang tidak dimiliki AI, yaitu empati dan kapasitas humanis,” ujarnya.
Stella menegaskan bahwa langkah yang tepat di era AI adalah memastikan SDM Indonesia tetap mengedepankan humanity as the core: empati, kolaborasi, intuisi, dan evaluasi kritis.
“Jika manusia hanya mencoba menjadi seperti AI, manusia akan kalah. Tapi jika manusia menguatkan kemampuan yang berbeda dari AI, manusia akan selalu unggul,” ungkapnya.
Rektor Universitas Pradita Richardus Eko Indrajit menekankan bahwa kesiapan pendidikan untuk menghadapi era AI memerlukan dua aspek utama: ability dan willingness, kemampuan dan kemauan.
Menurutnya, transformasi digital tidak hanya soal bisa menggunakan teknologi, tetapi juga soal kesiapan mental untuk berubah dan beradaptasi. Hi-tech harus selalu dibarengi dengan hi-touch. Guru tetap menjadi inti proses pembelajaran.
“Terutama dalam deep learning dan mindful learning, yang membutuhkan hubungan antarmanusia, bukan sekadar pemrosesan data,” ujarnya.
