JAKARTA – Optimisme terhadap proyeksi ekonomi Indonesia pada 2026 disampaikan berbagai pihak. Misalnya dari Ekonom Bank Danamon Indonesia, Hosianna Evalita Situmorang. Pihaknya memproyeksikan perekonomian Indonesia dapat tumbuh hingga 5,04 persen pada 2026.
“Ekonomi Indonesia itu sebenarnya bisa tumbuh di atas 5 persen pada tahun depan. Kita optimis untuk ini,” ujar Anna sapaan akrab Hosianna saat diskusi Kinerja Makroekonomi Indonesia: Arah dan Prospek 2026 di Jakarta, Kamis (27/11/2025).
Optimisme ini didukung sejumlah faktor. Termasuk gelontoran bantuan sosial dari pemerintah dan harga komoditas yang mengalami perbaikan.
Anna menjelaskan, dalam upaya mendorong pertumbuhan dan menjaga daya beli masyarakat, Kementerian Keuangan melaksanakan berbagai stimulus yang terbagi dalam empat kuartal.
“Stimulus tersebut mencakup program berulang seperti bantuan pangan, subsidi PPh 21 di berbagai sektor, potongan 50% untuk iuran BPJS-TK untuk gig worker dan non-wage worker, perpanjangan tarif pajak 0,5% untuk UMKM, serta pembebasan PPN untuk pembelian rumah. Stimulus terbesar terjadi pada 4Q25 dengan total paket sebesar Rp54,6 triliun,” ujarnya.
Lebih lanjut Anna memperkirakan bahwa laju perekonomian pada 2026 akan mengalami perbaikan di level 5,04 persen, dibandingkan 2025. Untuk tahun 2025 ia memperkirakan bahwa perekonomian Indonesia akan tumbuh sebesar 5,02 persen atau lebih rendah dibandingkan 2024 yang sebesar 5,02 persen.
Stabilitas nilai tukar Rupiah yang bergerak dalam kisaran Rp16.500 hingga Rp16.950 turut mendukung iklim ekonomi 2026. Kestabilan ini membuka peluang bagi Bank Indonesia (BI) untuk menurunkan suku bunga.
“Harusnya kalau Rupiahnya menguat, asingnya udah mulai masuk. Mungkin ada ruang buat BI nurunin dari 4,75 persen ke 4,5 persen dan bisa lanjut lagi nurunin suku bunganya sebesar 4,25 persen di tahun berikutnya,” jelas Anna.
Penurunan suku bunga ini diharapkan dapat mendorong konsumsi rumah tangga, pembentukan tenaga kerja, serta aktivitas ritel dan penjualan otomotif.
Pemerintah dinilai telah menjaga aspek-aspek ini melalui berbagai instrumen kebijakan untuk memastikan perekonomian terus bergerak.
“Jadi kalau ekonominya jalan, yang dibutuhkan juga salah satunya adalah uang yang dari pemerintah, baik dari Kementerian Keuangan, dari Bank Indonesia, itu harus turun ke masyarakat, di injeksi dan berputar di setiap aktivitas ekonomi,” ujarnya.
Selain pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB), permintaan domestik juga diperkirakan tumbuh 4,9 persen. Sementara itu, GDP nominal diproyeksikan mencapai 1.589 miliar dolar AS di 2026.
Lebih lanjut Anna menjelaskan, terdapat beberapa sektor dengan daya tahan yang masih terjaga berkat masifnya pertumbuhan e-commerce serta normalisasi sektor pariwisata
“Seperti sektor transportasi, F&B, Information & Communication Technology (ICT) dan Business services,” ujarnya.
Adapun volume transaksi uang elektronik, jelas Anna, diproyeksikan juga terus meningkat pada tahun 2026.
“Hal tersebut didukung oleh keberlanjutan stimulus fiskal hingga kuartal IV 2025 dan kuartal I 2026, sebagai sarana untuk menjaga daya beli masyarakat hingga Hari Raya Idul Fitri,” ujarnya.
