Direktur Sido Muncul, Dr (HC) Irwan Hidayat mengungkapkan bahwa investasi di Jateng sangat menjanjikan. Termasuk untuk pengelolaan eceng gondok Rawa Pening menjadi energi baru terbarukan (EBT) yang diperkirakan akan terbuka kesempatan kerja para milenial (foto ist)
JAKARTA – Direktur PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul. Tbk, Dr (HC) Irwan Hidayat menegaskan komitmen perseroan dalam mendorong pengembangan Energi Baru Terbarukan (EBT) dan mendukung penyerapan tenaga kerja melalui Industri hospitality dengan turut berkontribusi bagi pertumbuhan ekonomi di Jawa Tengah (Jateng) semakin positif.
Dari data BPS menyebutkan pertumbuhan ekonomi Jateng pada Triwulan I-2025 tumbuh 4,96 persen (Y-on-Y) dan pertumbuhan ekonomi Jateng di Triwulan I-2025 tumbuh 1,80 persen (Q-to-Q)
Irwan mengungkapkan dukungan Sido Muncul untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi Jateng terus terkerek, salah satunya dengan mengoptimalkan potensi energi yang dapat dihasilkan dari tanaman eceng gondok yang tumbuh di waduk Rawa Pening, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah.
“Eceng gondok itu bisa dijadikan energy wood pellet. Energi biogas ini kami kembangkan untuk produktivitas pabrik karena kami punya data-datanya. Gas buangnya, kalorinya mencapai 4.300. Dan kami juga mengajak teman-teman di pabrik bisa menjadi off taker,” ujar Irwan kepada wartawan ketika menjadi narasumber di panggung Central Java Investment Business Forum (CJIBF) 2025 yang digelar di Hotel Bidakara, Jakarta, Selasa (29/7/2025).
Central Java Investment Business Forum (CJIBF) 2025 ini dihadiri Gubernur Jateng Ahmad Luthfi dan Wagub Jateng Taj Yasin Maimoen, Forkompinda, CEO BUMN dan swasta juga investor luar negeri.
Sulung dari 5 bersaudara generasi kedua Sido Muncul, yakni Irwan Hidayat, J Sofjan Hidajat, Johan Hidayat, Sandra Hidayat, dan David Hidayat ini berpandangan jika eceng gondok dapat dimanfaatkan menjadi sumber energi baru dan terbarukan, maka waduk Rawa Pening juga dapat menjadi destinasi wisata baru yang tidak ditemukan di tempat lainnya.
Yang disayangkan, ungkap Irwan, saat ini Rawa Pening tinggal menyisakan sekitar 700–800 hektare dari luas awalnya 2.800 hektare akibat invasi eceng gondok.
“Kedalamannya dulunya 15-30 meter, sekarang hanya tinggal 3-4 meter. Padahal air itu adalah masa depan kehidupan yang semakin kompleks,” tutur Irwan yang dikenal sebagai socialentrepreneur ini.
Irwan juga mengungkapkan komitmen perusahaan jamu dan farmasi termodern dan terbesar di dalam negeri ini untuk tidak mengkonsumsi listrik bersubsidi.
Komitmen ini, lanjut Irwan, sebagai bentuk kontribusi Sido Muncul kepada pemerintah untuk mencapai target net zero emission atau emisi nol bersih pada tahun 2060.Selain itu, energi perusahaan juga bersumber dari pemanfaatan limbah dan solar panel.
“Kami berkomitmen kepada penggunaan energi terbarukan. Jadi yang pertama, di pabrik kami mengolah dan menggunakan limbah sebagai bagian efisiensi energi. Jadi kami tidak pernah membuang limbah. Yang kedua adalah penggunaan solar panel. Yang ketiga, kami menggunakan energi listrik yang tidak bersubsidi. Jadi instalasi listrik yang kami pergunakan tidak yang bersubsidi,” ungkap Irwan.
Selain itu, Sido Muncul tidak hanya fokus pada bisnis jamu saja, tetapi juga mengembangkan sektor perhotelan dan kuliner demi menciptakan lapangan kerja baru di Jawa Tengah.
“Komitmen kami sesuai dengan filosofi pendiri Sido Muncul Ibu Rakhmat Sulistio adalah Oma kami dan dilanjutkan oleh papi-mami kami, Pak Jahja Hidayat dan Desy Hidayat adalah memulai usaha dengan jamu yang bermanfaat bagi semua orang dan lingkungan. Puji Tuhan, Sido Muncul bisa tumbuh, berkembang dan maju seperti sekarang dengan mengembangkan berbagai diversifikasi usaha. Yang kemudian, salah satunya kami mulai membangun bisnis hotel dan apartemen yang kita namakan Tentrem,” beber Irwan
Setiap kali perusahaan membeli tanah, lanjut Irwan, aset tersebut tidak dijadikan lahan tidur tapi dibangun restoran, hotel, aset properti, dan pabrik baru untuk membuka lapangan kerja baru.
“Kalau kita dapat rezeki keuntungan yang lebih maka usahakan untuk beli tanah. Dan langsung kami buatkan restoran. Jadi bukan kita anggurin (tidak digunakan apa-apa -red) lalu kita diamkan hingga nanti nunggu harga tanah naik, baru kita pergunakan. Enggak seperti itu. Pokoknya yang penting bagi kami adalah komitmen untuk membantu menciptakan lapangan kerja di Jawa Tengah dengan kreativitas dan inovasi baru,” ujarnya.
