Direktur Keuangan PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO) Budiyanto menerima penghargaan Bisnis Indonesia Awards (BIA) 2025 untuk kategori farmasi yang diserahkan Pemimpin Redaksi Bisnis Indonesia Maria Yuliana Benyamin (foto ist)

 

JAKARTA – PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk kembali digdaya sebagai korporasi paling resiliensi di tengah kondisi ekonomi global yang tidak pasti dan akibat pengaruh geopolitik dunia, dengan ditandai pengakuan penghargaan Bisnis Indonesia Awards (BIA) 2025 untuk kategori farmasi. 

Emiten dengan kode saham SIDO ini berhasil meyakinkan Dewan Juri BIA 2025 dengan menyisihkan 5 perusahaan farmasi besar, menjadi kampiun mengungguli PT Darya-Varia Laboratoria Tbk. (DVLA), PT Kalbe Farma Tbk. (KLBF), PT Merck Tbk. (MERK), dan PT Tempo Scan Pacific Tbk

Tahun 2024, Sido Muncul juga mendapatkan penghargaan yang sama oleh media yang berfokus pada ekonomi dan bisnis tersebut. Direktur Sido Muncul Irwan Hidayat tahun lalu langsung menerima penghargaan BIA pada medio Juni 2024 di Hotel Raffles, Jakarta. 

Untuk tahun 2025 ini, Direktur Keuangan Sido Muncul Budiyanto mewakili Irwan Hidayat menerima BIA 2025, yang tidak bisa hadir karena melakukan perjalanan ke Italia dan Vatikan. 

Budiyanto mengaku bangga Sido Muncul mendapatkan kepercayaan dari media kredibel dan terpercaya dengan para juri yang kompeten dan berpengalaman di bidangnya, sehingga kembali mendapatkan Penghargaan The Most Resilient Bisnis Indonesia Awards (BIA) 2025 di Kategori Farmasi. 

Pernyataan Budiyanto tersebut beralasan karena Sido Muncul mampu mengelola perusahaan berbasis herbal ini mendapatkan penghargaan di kategori farmasi yang lebih tinggi bahkan dari standar jamu, sekalipun. Mengingat kompetitornya adalah perusahaan-perusahaan farmasi besar. 

Budiyanto menuturkan penghargaan ini dapat diraih terutama karena kerjasama dari seluruh tim Sido Muncul untuk terus melakukan penetrasi ke pasar domestik maupun ekspor, dan juga memperkuat ketahanan perseroan dari sisi keuangan. Sehingga hasil yang dicapai cukup baik dan juga bisa membagikan dividen yang tinggi untuk para pemegang saham SIDO. 

“Jadi harapan kedepannya tentunya kinerja Sido Muncul bisa lebih baik lagi, lebih resilient meski di awal tahun 2025 muncul perang tarif yang dipicu karena kebijakan ekonomi Amerika oleh Presiden Trump, kemudian kondisi geopolitik dunia yang tidak pasti karena perang Rusia-Ukraina dan baru-baru ini muncul ketegangan baru di kawasan Timur Tengah dengan perang Israel-Hamas Palestina dan Iran-Israel. Namun kita tetap optimistis mudah-mudahan kedepan lebih baik lagi dan Sido Muncul mampu beradaptasi dengan segala “cuaca” kondisi ekonomi apa pun,” ujar Budiyanto usai menerima penghargaan BIA 2025 di Hotel Westin, Jakarta, Senin (30/6/2025). 

Budiyanto menuturkan perusahaan jamu dan farmasi termodern yang dibesut 5 bersaudara yakni Irwan Hidayat, J Sofjan Hidajat, Johan Hidayat, Sandra Hidayat, dan David Hidayat ini tidak terlalu terpengaruh dengan kondisi geopolitik dunia. 

“Ekspor Sido Muncul tidak ada yang signifikan misal ke China maupun Amerika Serikat, termasuk Timur Tengah. Karena kita lebih banyak ke Asean dan Afrika. Dan untuk pasar domestik ya bisa dilihat dari market kita yang masih cukup tangguh dengan market share kita 73%. Jadi untuk geopolitik saat ini belum ada gangguan. Cuma mudah-mudahan kita bisa bertahan dengan strategi-strategi jitu manajemen SIDO,” ungkapnya.

Yang melegakan lagi, kata Budiyanto, Sido Muncul karena bahan baku untuk produksinya lebih banyak mengandalkan tanaman obat dari dalam negeri sehingga tidak berdampak akibat kondisi fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap Dollar Amerika, seperti perusahaan farmasi yang lebih banyak bergantung kepada bahan baku impor. 

Budiyanto lalu juga menyinggung ekspansi produk-produk unggulan Sido Muncul ke pasar-pasar baru yakni negara-negara emerging market. 

“Strategi kita yang pasti ingin ekspansif, baik ke pasar domestik dan tentunya pasar internasional. Terutama adalah pasar generasi muda, baik Gen-Z maupun milenial agar memiliki kesadaran terhadap produk herbal yang merupakan warisan leluhur dan terus bisa kita rawat dan jaga. Penetrasi distribusi kita lebih dominan ke pasar domestik di seluruh wilayah Indonesia dan terakhir adalah efisiensi cost margin yang kita lakukan di segala lini sehingga net profit bottom line itu bisa terus mendukung pencapaian ini,” ujarnya.

Direktur Keuangan SIDO ini juga meyakinkan publik bahwa perfomance keuangan jamu dan farmasi yang berbasis produksi di Ungaran, Kabupaten Semarang ini mantap dan sangat sehat. Bahkan mengalami peningkatan pertumbuhan. 

Begitu juga dengan laba periode berjalan yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk atau laba bersih SIDO menyusut 40,34% YoY menjadi Rp232,94 miliar pada kuartal I/2025 dari Rp390,49 miliar pada kuartal I/2024.

Dikutip dari portal berita Bisnis Indonesia dari sisi aset dan ekuitas, SIDO mencatatkan pertumbuhan sepanjang 2025. Perusahaan publik ini mencatatkan pertumbuhan aset sebesar 4,01% sepanjang 2025 dari Rp3,93 triliun pada akhir 2024 menjadi Rp4,09 triliun pada Maret 2025.  

Kas dan setara kas perseroan juga meningkat 37,58% dari Rp855,56 miliar pada Desember 2024 menjadi Rp1,17 triliun pada Maret 2025. 

Begitu juga dengan ekuitas perseroan yang meningkat 6,36% dari Rp3,48 Triliun pada akhir 2024 menjadi Rp3,70 Triliun pada Maret 2025.

Dengan perfomance perseroan yang memukau tersebut, kata Budiyanto, kunci sukses Sido Muncul adalah menghindari kepuasan yang terlalu cepat.

Jadi intinya, tambah dia, jika perusahaan merasa udah profit, maka terus ada upaya produk mana lagi yang bisa lebih tinggi profitnya. 

Misalnya Tolak Angin yang sudah unggul, manajemen akan berusaha meningkatkan produk Sido Muncul mana lagi yahh lebih unggul. 

“Jika dirasa ada cost yang sudah rendah maka ada cara apalagi dapat menurunkan cost kita. Jadi kalau orang yang tidak pernah puas pasti akan cari cara untuk selalu mengefisiensikan dan meningkatkan value,” pungkas Budiyanto. 

Bisnis Indonesia Awards (BIA) sendiri merupakan kegiatan tahunan dari Harian Bisnis Indonesia. Untuk pelaksanaan BIA 2025 merupakan yang ke-23 semenjak pertama kali dilaksanakan pada tahun 2002. 

Tema yang telah ditetapkan untuk 2025 yaitu Resilience Towards Uncertainty. Tema tersebut diterjemahkan sebagai kemampuan perusahaan untuk mempertahankan dan meningkatkan kinerja keuangan secara konsisten, meskipun dihadapkan pada ketidakpastian ekonomi dan pasar dengan menunjukkan stabilitas pertumbuhan dan kinerja keuangan yang andal. 

BIA 2025 ini menganugerahkan penghargaan kepada perusahaan berkinerja terbaik dari berbagai kategori industri, yakni 39 kategori emiten non-bank dan 7 kategori perbankan.

Para nominasi penerima award yakni perusahaan emiten dan perbankan yang lolos dari setiap kategori dari tahapan kuantitatif akan diajukan ke tahap kualitatif.

Secara umum, seleksi penjurian BIA 2025 terdiri dari dua tahap yaitu seleksi kuantitatif dan kualitatif. 

Adapun Tim Juri BIA 2025 di antaranya Menteri Komunikasi & Informatika Tahun 2014-2019 Rudiantara, Ketua Dewan Komisioner OJK 2017-2022 Wimboh Santoso, Wakil Menteri Keuangan 2014-2019 Mardiasmo, Ekonom Senior dan Sekretaris Komite Stabilitas Sistem Keuangan Tahun 2001-2010 Raden Pardede, dan Presiden Direktur PT Jurnalindo Aksara Grafika Lulu Terianto.