Chief Digital Business Bank Sahabat Sampoerna, Ivan Giarto dan Corporate Communication & Investor Relations Head Bank Sampoerna, Ridy Sudarma
JAKARTA – PT Bank Sahabat Sampoerna (Bank Sampoerna) terus fokus memberdayakan UMKM. Yakni dengan melakukan penyaluran kredit kepada UMKM.
Bank yang kepemilikannya mayoritas dikuasai oleh keluarga Sampoerna, saat ini terus memperluas jangkauannya untuk membantu UMKM di seluruh Indonesia.
“Salah satu caranya yakni dengan memanfaatkan teknologi yang pas buat UMKM,” ujar Corporate Communication & Investor Relations Head Bank Sampoerna, Ridy Sudarma, di Jakarta, Rabu (18/9/2024).
Lebih lanjut Ridy mengatakan, Bank Sampoerna saat ini mempunyai 21 kantor cabang di seluruh Indonesia. Kantor Cabang yang melayani nasabah secara langsung.
“Kalau kita ngomongin UMKM sering kali pengajuan kredit oleh UMKM itu bukan UMKM nya sendiri yang datang ke bank. Kita lihat masih banyak UMKM yang kurang terlalu percaya diri datang ke bank untuk minjam. Karena literasi keuangan masih kurang. Yang ada gimana, yah petugasnya harus keluar, menjemput bola,” ujarnya.
“Jadi Bank Sampoerna selain punya kantor cabang, juga punya kantor fungsional non operasional. Yaitu kantor yang tidak terima nasabah tapi di kantor itu ada kegiatan perbankan. Dalam arti ada karyawan yang bekerja yang tugasnya keluar. Jemput bola untuk melayani masyarakat,” imbuhnya.
Saat ini bank Sampoerna memiliki 15 kantor fungsional, termasuk kantor-kantor yang berfungsi sebagai tempat pelatihan.
“Jadi yang dilakukan Bank Sampoerna untuk menjangkau lebih banyak masyarakat dan UMKM yakni pemanfaatan teknologi. Jadi pinjaman kita bisa diajukan online. Jadi tidak perlu lagi orang datang ke cabang. Pinjaman yang diberikan bank Sampoerna dikhususkan buat UMKM,” ujarnya.
Selain pemanfaatan teknologi, yang tidak kalah penting adalah kolaborasi.
“Misalnya kolaborasi dengan berbagai fintech. Juga payment gateway, memfasilitasi pembayaran. Juga berkolaborasi dengan koperasi,” ujarnya.
Sementara itu, Chief Digital Business Bank Sahabat Sampoerna, Ivan Giarto mengatakan, bagaimana kita melayani UMKM dengan baik dan lebih cepat yakni dengan memberdayakan teknologi.
“Misalnya, kita ada aplikasi PDaja.com Disitu UMKM bisa mengajukan kredit cuma 10 menit prosesnya,” ujarnya.
Aplikasi pinjaman PDaja.com ini merupakan sebuah situs (website) untuk pengajuan kredit secara on line. PDaja.com dapat langsung memberikan estimasi perkiraan pinjaman yang dapat diberikan kepada calon debitur, hal ini untuk mempercepat calon debitur dalam mengambil keputusan untuk pengajuan kredit.
Sementara itu, PT Bank Sahabat Sampoerna (“Bank Sampoerna”) dalam pemberdayaan UMKM, mencatatkan total penyaluran kredit untuk UMKM pada akhir kuartal II-2024 mencapai sebesar 66% dari total penyaluran kredit.
Keseluruhan kredit mencapai Rp12,3 triliun, meningkat 13,5% dibandingkan total kredit pada satu tahun sebelumnya sebesar Rp10,9 triliun.
Berkat strategi kolaborasi bisnis dengan mitra strategis dan loyalitas nasabah, pertumbuhan kredit yang dibukukan Bank Sampoerna ini melampaui pertumbuhan kredit keseluruhan industri perbankan yang pada periode sama tercatat sebesar 11,5%.
Secara lebih rinci, dari total penyaluran kredit ke UMKM sebesar Rp8,1 triliun pada akhir Juni 2024, sebesar Rp5,1 triliun atau 63% disalurkan secara langsung oleh Bank Sampoerna, sementara 37% sisanya atau Rp3,0 triliun disalurkan melalui kerja sama dengan mitra strategis.
Bank Sampoerna bekerja sama dengan berbagai institusi keuangan, termasuk perusahaan multi-finance, koperasi, serta perusahaan fintech dalam melayani pemberian pinjaman ke UMKM untuk berbagai keperluan.
Direktur Keuangan dan Perencanaan Bisnis Bank Sampoerna, Henky Suryaputra mengatakan, dengan kerja sama dan kolaborasi yang erat bersama sejumlah mitra strategis, baik koperasi, perusahaan financial technology, termasuk juga penyedia peer-to-peer lending, Bank Sampoerna dapat meningkatkan kepercayaan pelaku UMKM untuk menggunakan layanan perbankan.
Kerja sama tersebut juga menjadi langkah strategis Bank Sampoerna untuk dapat menjangkau masyarakat di pelosok yang belum tersentuh sama sekali layanan pendanaan formal. Hal ini secara langsung berdampak pada perluasan inklusi dan literasi keuangan di Indonesia.
“Dibandingkan dengan kondisi satu tahun lalu, hingga akhir Juni 2024 pertumbuhan kredit industri perbankan memang lebih banyak didorong oleh pertumbuhan pinjaman non-UMKM yang meningkat 13,6% dibandingkan dengan pertumbuhan pinjaman UMKM yang meningkat hanya setengahnya atau 6,7%,” jelasnya beberapa waktu lalu.
“Namun demikian, bukan berarti kebutuhan pendanaan UMKM akan terus lebih rendah. Seiring dengan pemulihan ekonomi, kebutuhan pendanaan UMKM juga akan terus meningkat. Lagi pula masih banyak UMKM yang belum memiliki akses pada pendanaan formal. Untuk itulah Bank Sampoerna terus berinovasi bersama berbagai mitra strategis,” imbuh Henky.
Pertumbuhan kredit Bank Sampoerna didukung pula oleh peningkatan akumulasi Dana Pihak Ketiga (“DPK”) sehingga likuiditas terjaga sangat baik.
Dibandingkan dengan kondisi pada tahun sebelumnya, per akhir Juni 2024, DPK di Bank Sampoerna meningkat sebesar Rp1,8 triliun atau 14,3% menjadi Rp14,3 triliun. Pertumbuhan ini juga melampaui pertumbuhan DPK keseluruhan industri perbankan yang meningkat 8,3% pada periode yang sama.
Pertumbuhan DPK di Bank Sampoerna maupun pada industri secara keseluruhan tentunya tidak terlepas dari tingkat literasi dan inklusi keuangan yang cukup baik.
