Keterangan foto (ki-ka): Joseph Edi Hut Lumban Gao – Presiden Direktur PT ITSEC Asia Tbk.; Dr. Ir. Fadel Muhammad – Wakil Ketua MPR RI, ; Irjen. Pol. Dr. H. Andry Wibowo, S.I.K., M.H., M.Si – Staf Ahli Ideologi dan Konstitusi Kemenko Polhukam RI dan Patrick Dannacher – Presiden Komisaris PT ITSEC Asia Tbk. Si acara pers conference ITSEC Cybersecurity Summit 2024 yang bertajuk Defending The New Gold, Data Security Protection for Critical Infrastructure yang digelar di Jakarta, Rabu (21/8/2024),
indopostrust.id – JAKARTA – Maraknya serangan siber beberapa waktu lalu membuat prihatin Wakil Ketua MPR RI Dr. Ir. Fadel Muhammad. Insinyur jebolan ITB itu ternyata sudah cukup lama mengamati masalah siber di Indonesia.
“Kita lihat beberapa waktu lalu Pusat Data Nasional kita kena serangan siber yang sangat merepotkan.Kita cari cek siapa yang melakukan Malware dan dia meminta tebusan. Serangan siber yang bertubi-tubi menjadi perhatian masyarakat,” ujar Fadel, di Jakarta, Rabu (21/9/2024).
“Kita pelajari serangan siber pernah dialami di beberapa negara di dunia. Mereka pernah mengalami seperti kita. Yang membuat rugi,” imbuh Fadel.
Insinyur dari ITB yang memiliki beberapa paten dan sekarang konsen ke IT mengatakan, kita bisa belajar dari Estonia.
“Negara Estonia, kejadiannya mirip seperti kita. Dapat serangan siber. Bagaimana Estonia keluar dari kemelutnya dan membenahi keamanan sibernya dan meminta kepada NATO, yang kemudian melibatkan Jerman, Italia, Latvia,” jelas Fadel.
“Kemudian ada 7 orang yang membuat dan memikirkan, berbenah dan dalam waktu yang singkat mereka tahu ternyata 44,8 persen tidak diketahui dari siapa, selebihnya serangan siber dari berbagai negara,” imbuhnya.
Pada 2018, kurang lebih 10 tahun, jelas Fadel, Estonia berhasil membangun keamanan siber yang handal. Dan sekarang menjadi negara nomor satu di dunia untuk mengatasi serangan-serangan siber.
“Bisa tidak dibuat di Indonesia? Saya jawab bisa. Karena IT ini akan menjadi masa depan bangsa kita akan menjadi tantangan terbesar. Saya memperkirakan knowledge base industri seperti IT ini akan didominasi oleh kita. Kenapa? karena kita punya tenaga-tenaga yang pintar. Tinggal di didik,” ujar Fadel.
“Saya sudah sampaikan ke Presiden, kita perlu membuat cybersecurity academy. Untuk itu nanti ke depan kita, ITSEC bersama BUMN bisa untuk membenahi hal ini. Kita bisa mengadakan perubahan dan melakukan pembenahan. Estonia bisa dalam waktu satu dekade,” imbuhnya.
Fadel optimis kita bisa seperti Estonia yang handal dalam keamanan siber.
“Kita juga bisa mengikuti. Kita bisa baca dari berbagai literatur bagaimana mereka (Estonia) berbenah. Kita lebih besar dari Estonia, kita negara besar dan punya banyak talenta-talenta,” pungkasnya.
Sementara itu, Irjen. Pol. Dr. H. Andry Wibowo, S.I.K., M.H., M.Si – Staf Ahli Ideologi dan Konstitusi Kemenko Polhukam RI mendukung usulan Fadel. Andry juga yakin usulan Fadel tidak akan tumpang tindih dengan lembaga yang sudah ada. Seperti dengan BSSN ataupun Direktorat Siber di Polri.
“Karena masing-masing punya tupoksinya,” ujarnya. (dai)
