Dewan Penasihat dan Ilmuwan Senior South East Asian Food and Agricultural Science and Technology – SEAFAST Center & Departement of Food Science & Technology, Bogor Agricultural University (IPB) Prof. Dr. Purwiyatno Hariyadi (tengah) bersama Ketua Umum Gabungan Produsen Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI), Ir. Adhi S. Lukman dan Ms. Rose Chitanuwat, Regional Portfolio Director (ASEAN), Informa Markets, di acara pres conference FiA-Indonesia 2024, beberapa waktu lalu
Ingredien pangan merupakan fondasi dari setiap produk makanan. Pilihan ingredien pangan yang tepat tidak hanya akan menentukan cita rasa dan tekstur suatu produk, tetapi juga akan memengaruhi nilai gizi dan manfaat kesehatan yang terkandung di dalamnya.
“Indonesia, dengan keanekaragaman hayati yang tinggi, menawarkan beragam ingredien pangan lokal yang kaya akan nutrisi dan senyawa bioaktif yang berpotensi untuk dikembangkan menjadi bahan baku pangan fungsional,” jelas Prof. Dr. Purwiyatno Hariyadi, Guru Besar pada Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan, Fakultas Teknologi Pertanian, IPB University, (19/8).
P“otensi ini menjadikan Indonesia sebagai sumber ingredien pangan fungsional yang sangat menjanjikan,” imbuh Senior Scientist pada South-East Asian Food & Agricultural Science & Technology (SEAFAST) Center, IPB University, dan Vice-Chairperson, Codex Alimentarius Commission, FAO.WHO, 2017-2021.
Apa itu Ingredien Pangan?
Menurut Codex General Standard for the Labelling of Prepackaged Foods (CXS 1-1985), didefinisikan bahwa Ingredien Pangan adalah semua bahan pangan yang digunakan untuk membuat dan menyiapkan pangan, termasuk bahan tambahan pangan, dan pada akhirnya masih terdapat dalam produk pangan tersebut, meskipun mungkin dalam bentuk yang termodifikasi (… any substance, including a food additive, used in the manufacture or preparation of a food and present in the final product although possibly in a modified form).
Jadi, dalam hal ini Ingredien Pangan bisa berupa bahan baku pangan, bahan tambahan pangan (BTP), zat gizi, dan zat non-gizi Fungsional,” ujar Prof. Purwiyatno.
Menurut definisi dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (PerBPOM, 11, 2019), bahan baku pangan adalah bahan dasar yang dapat berupa pangan segar dan pangan olahan yang dapat digunakan untuk memproduksi pangan.
Bahan tambahan pangan (BTP) didefinisikan sebagai bahan yang ditambahkan ke dalam pangan untuk mempengaruhi sifat atau bentuk pangan.
Sedangkan zat gizi adalah zat atau senyawa yang terdapat dalam pangan yang terdiri atas karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral, serat, air, dan komponen lain yang memberikan energi, diperlukan untuk pertumbuhan, perkembangan dan pemeliharaan kesehatan atau bila kekurangan atau kelebihan dapat menyebabkan perubahan karakteristik biokimia dan fisiologis tubuh.
Dari berbagai literatur, diketahui bahwa selain tidak kelompok ingredient diatas, dikenal pula zat non-gizi fungsional, yaitu zat/senyawa atau bahan yang mengandung zat bioaktif yang dapat digunakan dalam pembuatan produk pangan fungsional. Yaitu makanan dan minuman yang memberikan manfaat kesehatan tambahan bagi konsumen diluar manfaat gizi dasar.
Karena sifatnya itu, Zat-non-gizi fungsional ini sering disebut sebagai ingredien fungsional, atau health ingredients, atau nutraceuticals,” jelas Prof. Purwiyatno.
Lebih lanjut ia mengatakan, ingredien fungsional ini umumnya mengandung senyawa bioaktif sebagai antioksidan, anti-inflammatori, antidiabetik, anti-obesitas, meningkatkan kesehatan usus, daya tahan tubuh, dan lain-lain manfaat kesehatan bagi tubuh.
“Indonesia kaya dengan potensi ingredien pangan, mulai dari rempah-rempah, buah-buahan, dan sayuran yang kaya akan senyawa bioaktif,” ujar Prof. Purwiyatno
Beberapa contoh bahan baku pangan fungsional dari Indonesia antara lain: Rempah-rempah, seperti temu lawak, kunyit, jahe, bawang putih, dan merica hitam mengandung senyawa anti-inflamasi dan antioksidan yang tinggi.B
Kemudian buah-buahan dan sayur-sayuran, seperti nanas, manggis, belimbing, dan jambu biji kaya akan vitamin, mineral, serat dan antioksidan. Serta biji-bijian dan aneka kacang-kacangan sebagai sumber protein, serat, dan lemak sehat yang baik.
“Bahan-bahan tersebut dapat diolah dan dikembangkan menjadi ingredien fungsional untuk formulasi produk pangan fungsional, yang menjadi tren pangan fungsional dunia yang terus meningkat,” ujar Prof. Purwiyatno
Tren ini berkembang karena meningkatnya publikasi ilmiah yang menyatakan bahwa konsumsi pangan fungsional secara teratur dapat memberikan berbagai manfaat bagi kesehatan.
Seperti meningkatkan sistem kekebalan tubuh, mencegah penyakit degeneratif, membantu pencernaan, menjaga kesehatan jantung, atau meningkatkan kebugaran tubuh.
Potensi Minyak Sawit sebagai IngredienPangan Fungsional
Minyak sawit, anugerah alam Indonesia, menyimpan potensi besar sebagai ingredient pangan fungsional. Kandungan senyawa bioaktifnya yang beragam, termasuk tocopherol, tocotrienol, provitamin A, squalene, fenol, fitosterol, dan fitostanol, membuatnya menjadi sumber antioksidan dan nutrisi penting.
Melalui riset dan pengembangan yang terus-menerus, Indonesia dapat mengoptimalkan manfaat minyak sawit untuk menciptakan aneka ingredien pangan fungsional yang inovatif.
“Dengan demikian, Indonesia tidak hanya dapat meningkatkan nilai tambah komoditas kelapa sawit, tetapi juga berkontribusi pada peningkatan kesehatan masyarakat dunia,” ujar Prof. Purwiyatno
Untuk memaksimalkan potensi pangan fungsional di Indonesia, perlu dilakukan upaya-upaya, terutama:
• Penelitian dan Pengembangan: Melakukan penelitian mendalam untuk mengidentifikasi senyawa bioaktif baru, memahami mekanisme kerja, dan mengembangkan teknologi ekstraksi yang efisien.
• Inovasi Produk: Mengembangkan produk pangan fungsional yang inovatif dengan menggabungkan berbagai bahan baku lokal, seperti minuman probiotik berbahan dasar kunyit, cokelat sehat dengan kandungan minyak sawit tinggi, atau biskuit kaya serat dengan tambahan biji-bijian.
• Standarisasi Kualitas: Menetapkan standar kualitas yang ketat untuk bahan baku dan produk akhir guna menjamin keamanan dan manfaat kesehatan bagi konsumen.
• Promosi dan Edukasi: Melakukan kampanye promosi untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya pangan fungsional dan manfaatnya bagi kesehatan.
• Kerjasama Lintas Sektor: Membangun kerjasama yang kuat antara pemerintah, akademisi, industri, dan masyarakat untuk mendukung pengembangan industri pangan fungsional yang berkelanjutan.
“Dalam kaitannya dengan hal-hal tersebut diatas, Pameran FiA-INDONESIA 2024 merupakan platform penting bagi industri, pemerintah, akademisi, dan pelaku industri untuk berkolaborasi menggali potensi ingredien pangan lokal Indonesia,” ujar Prof. Purwiyatno
Harapannya, FiA-Indonesia 2024 yang akan digelar ada 4-6 September 2024, di JI Expo Kemayoran, Jakarta, dapat mendorong inovasi, meningkatkan daya saing industri pangan nasional di kancah global, serta memperkuat ketahanan pangan.
