foto ist 

Istanbul – Indonesia menegaskan komitmennya untuk penyediaan akses pembiayaan perdagangan (trade finance) yang inklusif, andal, dan efisien bagi sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).

Hal tersebut disampaikan Wakil Menteri Perdagangan RI Dyah Roro Esti Widya Putri pada sesi exchange view dalam Pertemuan The 42nd COMCEC Ministerial Session di Istanbul, Turki, Senin (2/11/2026).

Sesi tersebut mengangkat tema “Developing Effective Trade Financing Tools for Increasing Export in the OIC Member Countries”.

Wamendag Roro mengatakan di tengah ketidakpastian ekonomi global, akses pembiayaan perdagangan yang terjangkau menjadi kunci utama dalam mendorong daya saing ekspor.

“UMKM merupakan tulang punggung perekonomian Indonesia yang menyumbang sekitar 61 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) atau senilai lebih dari USD 500 miliar pada 2025. Namun, tantangan seperti keterbatasan pemahaman terkait persyaratan pembiayaan, agunan, dan riwayat kredit masih menghambat UMKM untuk mendapatkan pembiayaan ekspor guna menembus pasar internasional,” ujar Wamendag Roro.

Lebih lanjut, untuk mengatasi tantangan tersebut, Wamendag Roro menyambut baik rekomendasi kebijakan yang telah diformulasikan oleh COMCEC Trade Working Group.

Terutama yang berfokus pada perluasan solusi pembiayaan syariah, penilaian kredit berbasis arus kas (cash-flow-based credit assessment), digitalisasi dokumen perdagangan, dan skema penjaminan bagi UMKM.

Dalam rangka memperkuat ekosistem pembiayaan perdagangan regional, Indonesia juga mendukung gagasan kerja sama konkret antarnegara anggota OKI.

Adapun beberapa program terkait hal tersebut meliputi peningkatan kapasitas, fasilitas pembiayaan bersama, jaminan kredit, serta asuransi ekspor terutama bagi UMKM.

Selain pembiayaan perdagangan, Wamendag Roro menekankan pentingnya penguatan digitalisasi pembayaran lintas batas termasuk pemanfaatan transaksi dengan menggunakan mata uang lokal masing-masing (Local Currency Transactions/LCT).

Hal tersebut diperlukan guna mendongkrak kinerja ekspor khususnya bagi UMKM di negara-negara anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI).

“Untuk mengatasi tantangan likuiditas dan kelangkaan dolar AS yang terjadi di beberapa negara anggota, Indonesia mendorong penggunaan transaksi dengan mata uang lokal atau LCT. Hal ini akan mendukung terciptanya perdagangan yang efisien dan berketahanan di Kawasan OKI,” ujar Wamendag Roro.