foto ist 

SEMARANG – Para pelaku usaha di Semarang, Jawa Tengah mendukung Pelabuhan Tanjung Emas Semarang menjadi gerbang utama aktivitas ekspor-impor di Jawa Tengah (Jateng).

Hal itu disampaikan pelaku usaha dan asosiasi dalam forum diskusi bertema Proyeksi Pertumbuhan Barang dan Industri untuk Perencanaan Pengembangan TPK Semarang dalam Mendukung Pengembangan Logistik dan Perdagangan di Jateng yang diadakan oleh Pelindo Terminal Petikemas di Kota Semarang, Kamis (10/9/2026).

“Kami sudah menemui pimpinan Bea Cukai dan Gubernur Jateng untuk mendorong Tanjung Emas menjadi pelabuhan utama,” ujar Ketua Asosiasi Pengusaha Kawasan Berikat Jateng-DIY, Jarot Wibowo, (10/9).

Pertumbuhan investasi dan berkembangnya kawasan industri di Jateng perlu diimbangi dengan kesiapan infrastruktur logistik yang memadai.

Terutama untuk mengakomodasi barang hasil produksi industri yang akan dikirim ke luar negeri melalui jalur ekspor.

Manager PT CMA-CGM Surabaya-Semarang, Efraim Zakka mengatakan pertumbuhan pasar sangat cepat, lebih cepat daripada pertumbuhan sarana dan prasarana pelabuhan.

“Ini tentu harus diakomodasi dengan fasilitas yang memadai,” ujarnya.

Ketua DPC Indonesian National Shipowners Association (INSA) Semarang, Hari Ratmoko berpendapat Pelabuhan Tanjung Emas perlu terus dikembangkan agar mampu menangkap potensi ekonomi Jateng, khususnya arus peti kemas yang masuk dan keluar daerah.

Dari sisi jumlah muatan, Hari menilai Tanjung Emas telah mengalami peningkatan kelas dan hampir sejajar dengan Pelabuhan Tanjung Priok maupun Tanjung Perak.

“Kami berharap pemerintah dan operator bisa meningkatkan kapasitas pelabuhan Tanjung Emas,” ujarnya.

Hal senada disampaikan, Ketua DPW Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia atau ALFI/ILFA Jateng-DIY, Teguh Arif Handoko. Ia mendukung pengembangan pelabuhan Tanjung Emas.

Terminal Head TPK Semarang, I Nyoman Sutrisna, mengatakan forum tersebut digelar untuk menghimpun masukan dari berbagai stakeholder terkait potensi dan kebutuhan pengembangan TPK Semarang.

Dia mengatakan salah satu masukan yang banyak disampaikan berkaitan dengan pertumbuhan kawasan industri baru, termasuk pengembangan kawasan industri di Kabupaten Batang.

Perkembangan tersebut menjadi salah satu faktor yang dipertimbangkan dalam penyusunan rencana pengembangan TPK Semarang.

Di sisi lain, TPK Semarang telah mendapat tambahan empat crane untuk meningkatkan kapasitas pelayanan terminal.

“Dengan adanya empat crane itu sebenarnya untuk meningkatkan kapasitas di terminal kita sekarang. Tapi kita sudah harus bicara long term-nya seperti apa,” bebernya.

Pertumbuhan arus peti kemas di TPK Semarang sendiri menunjukkan tren positif. Nyoman menyebut pertumbuhan pada 2023-2025 mencapai 16%, sedangkan pada 2026 berada di kisaran 9%. Adapun arus peti kemas sepanjang 2025 telah mencapai 1 juta TEUs.

Berdasarkan data PT Pelindo Terminal Petikemas, arus peti kemas TPK Semarang hingga Agustus 2026 mencapai 698.500 TEUs. Angka tersebut tumbuh 5,53% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebanyak 661.872 TEUs.

Pertumbuhan terutama ditopang arus peti kemas internasional yang mencapai 625.390 TEUs atau tumbuh 8,53% secara tahunan.

Arus impor tercatat 309.128 TEUs, naik 8,14% dibandingkan 285.862 TEUs pada periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara arus ekspor mencapai 316.159 TEUs atau tumbuh 8,88% dari sebelumnya 290.380 TEUs.

Nyoman menilai tren tersebut semakin memperkuat peluang Tanjung Emas menjadi gerbang utama ekspor-impor di Jateng. Terlebih, tambahan empat crane memungkinkan terminal melayani kapal dengan ukuran lebih besar.

“Namun, peningkatan kemampuan peralatan tersebut perlu didukung kesiapan alur dan kolam pelabuhan. Kedalaman alur menjadi salah satu faktor penting agar kapal dengan draft lebih dalam dapat masuk dan dilayani di Tanjung Emas,” pungkasnya.