foto ist
JAKARTA – Pemerintah bersama pelaku usaha meluncurkan Program Belanja di Indonesia Aja (BINA) Lebaran 2026 di Pusat Perbelanjaan Senayan City, Jakarta, pada Jumat (6/3/2026).
Program ini akan berlangsung pada 6–30 Maret 2026 dan ditargetkan mampu mencatatkan transaksi sebesar Rp53,38 triliun. Menteri Perdagangan Budi Santoso hadir mendampingi Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto yang meluncurkan program tersebut.
Sementara itu, dalam sambutannya, Menko Airlangga menyampaikan, momentum Ramadan dan Lebaran selalu menjadi periode penting bagi peningkatan konsumsi masyarakat.
Oleh karena itu, pemerintah bersama pelaku usaha ritel terus menghadirkan berbagai program promosi untuk mendorong belanja domestik.
“Program BINA Lebaran tahun ini berlangsung selama 25 hari dengan target transaksi mencapai Rp53 triliun atau meningkat sekitar 60 persen dibandingkan tahun lalu. Kami berharap kegiatan ini dapat semakin menggairahkan konsumsi masyarakat,” ujar Airlangga.
Airlangga menambahkan, pemerintah juga menyiapkan berbagai stimulus untuk menjaga daya beli masyarakat menjelang Lebaran.
Diantaranya penyaluran bantuan sosial pangan berupa beras 20 kilogram dan minyak goreng dua liter per bulan bagi sekitar 35 juta keluarga penerima manfaat dengan total anggaran Rp11,92 triliun.
“Kami melihat dana yang beredar menjelang Lebaran cukup besar. Hal ini diharapkan dapat meningkatkan konsumsi masyarakat dan mendorong pertumbuhan ekonomi pada kuartal pertama tahun ini,” kata Airlangga.
Program BINA Lebaran 2026 melibatkan sekitar 800 merek, 80.000 gerai ritel, serta 400 pusat perbelanjaan yang tersebar di 24 provinsi di Indonesia.
Berbagai program promosi disiapkan untuk meningkatkan minat belanja masyarakat, antara lain, potongan harga hingga 70–80 persen untuk produk fesyen, gaya hidup, serta perlengkapan Lebaran di berbagai tenant anggota Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo).
BINA Lebaran 2026 juga menghadirkan berbagai rangkaian kegiatan lain seperti midnight sale di sejumlah pusat perbelanjaan serta promo belanja bagi wisatawan dalam negeri.
Pemerintah pusat juga mendorong dukungan pemerintah daerah melalui relaksasi pajak reklame selama pelaksanaan program, serta penyebarluasan informasi program melalui media sosial pemerintah daerah dan Kementerian Perdagangan.
Sementara itu, Mendag Busan mengatakan, program BINA Lebaran menjadi instrumen strategis untuk menggerakkan sektor perdagangan domestik melalui kolaborasi berbagai pelaku usaha.
“Program ini merupakan kolaborasi yang baik antara ritel modern dengan pusat perbelanjaan; serta usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk menyediakan berbagai produk bagi masyarakat dalam menyambut Lebaran,” ujarnya.
“Setelah Lebaran juga akan ada berbagai agenda menarik lainnya. Kerja sama seperti ini akan terus kita lakukan agar kesempatan menjual produk di dalam negeri sekaligus meningkatkan daya beli masyarakat dapat terus meningkat,” imbuh Mendag Busan.
Ketua Umum Hipindo Budihardjo Iduansjah mengatakan, program BINA Lebaran menjadi momentum penting bagi sektor ritel untuk meningkatkan daya beli masyarakat sekaligus menggerakkan ekonomi dalam negeri.
“Program ini kami siapkan untuk memperkuat konsumsi domestik. Dengan berbagai promosi yang dihadirkan oleh ritel dan pusat perbelanjaan, kami berharap masyarakat semakin terdorong untuk berbelanja dan perputaran ekonomi nasional dapat meningkat selama Ramadan dan menjelang Lebaran,” ujar Budihardjo.
Di lain pihak, Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Alphonzus Widjaja memproyeksikan kunjungan masyarakat ke pusat perbelanjaan selama periode Ramadan hingga Lebaran 2026 akan meningkat.
“Tren kunjungan mal saat ini mulai menunjukkan perbaikan, dengan kenaikan yang diperkirakan mencapai sekitar 10–15 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu, seiring meningkatnya aktivitasbelanja masyarakat menjelang Idulfitri,” ujarnya.
