Stefanus Happy Yanuar Hadi, Asisten Manager Operasi IPC TPK Area Tanjung Priok 2 membuka acara Emergency Rescue & First Aid Training bagi Tenaga Kerja Bongkar Muat (TKBM) di IPC TPK Area Tanjung Priok, Jakarta Utara.(foto ist)
JAKARTA – IPC Terminal Petikemas (IPC TPK) menyelenggarakan Emergency Rescue & First Aid Training bagi Tenaga Kerja Bongkar Muat (TKBM) di IPC TPK Area Tanjung Priok, Jakarta Utara.
Kegiatan tersebut sebagai bagian dari peringatan Bulan K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja) Nasional 2026 yang mengusung tema “Membangun Ekosistem Pengelolaan K3 Nasional yang Profesional, Andal, dan Kolaboratif.”
Pelatihan ini membekali peserta dengan keterampilan teknis penyelamatan darurat dan pertolongan pertama pada kecelakaan kerja, mulai dari dasar-dasar first aid, bantuan hidup dasar (basic life support), resusitasi jantung dan paru (RJP), hingga simulasi penyelamatan secara beregu.
Peningkatan kapasitas ini diharapkan mampu meminimalkan risiko fatalitas sekaligus menjaga kelancaran operasional terminal bagi para pengguna jasa.
“TKBM memiliki peran strategis dalam memastikan operasional pelabuhan berjalan aman dan efisien,” ujar Pramestie Wulandary, Corporate Secretary IPC TPK, (27/1).
“Keselamatan adalah tanggung jawab bersama, dan sinergi antar seluruh insan pelabuhan menjadi kunci dalam menciptakan lingkungan kerja yang aman,” imbuhnya.
Kegiatan Emergency Rescue & First Aid Training ini secara resmi dibuka oleh Stefanus Happy Yanuar Hadi, Asisten Manager Operasi IPC TPK Area Tanjung Priok 2, dan dihadiri oleh Yudha Sutanto, Asisten Manager Operasi IPC TPK Area Tanjung Priok 1.
Pada sambutannya, Stefanus menekankan pentingnya kesiapsiagaan dan kolaborasi seluruh insan pelabuhan dalam menciptakan lingkungan kerja yang aman dan berkelanjutan.
Pelatihan yang melibatkan instruktur profesional dari Palang Merah Indonesia (PMI) Jakarta Utara ini diikuti oleh 27 personel TKBM yang beroperasi di wilayah Pelabuhan Tanjung Priok dan dilaksanakan di Museum Maritim Indonesia.
IPC TPK menargetkan para peserta tidak hanya memahami aspek teknis, tetapi juga mampu berperan sebagai safety leader di lingkungan kerja masing-masing.
“Melalui kolaborasi lintas pemangku kepentingan ini, kami optimistis ekosistem Pelabuhan Tanjung Priok akan semakin tangguh, dengan budaya keselamatan yang terus tumbuh dan memberikan rasa aman bagi pekerja, pengguna jasa, serta seluruh stakeholder,” pungkas Pramestie.
