foto ist
JAKARTA – Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Nezar Patria, menekankan pentingnya pengembangan kecerdasan buatan (AI) yang berbasis pada nilai-nilai etika, inklusivitas, dan tanggung jawab.
Hal ini ia sampaikan dalam Kagama Leaders Forum (KLF) #3 yang mengusung tema “Indonesia Merdeka AI: Bagaimana AI Menjadi Senjata Ekonomi, Pendidikan, dan Kebudayaan Bangsa”, bertempat di Gedung Abdurrahman Saleh RRI, Jakarta, Rabu (24/9/2025).
Dalam forum yang digelar sebagai bagian dari peringatan 80 Tahun Indonesia Merdeka ini, Nezar menyampaikan bahwa AI kini bukan lagi sekadar wacana teknologi futuristik.
“Dunia telah bergeser dari fiksi ilmiah ke fakta ilmiah. Beragam produk AI kini membanjiri pasar dan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat,” ujarnya, Rabu (24/9/2025).
Bahkan, banyak warga yang membentuk relasi emosional dengan sistem berbasis AI seperti ChatGPT, sosok yang sebenarnya tidak pernah benar-benar eksis.
Namun, di balik kecanggihan itu, AI juga membawa potensi risiko serius. Salah satunya adalah penyebaran misinformasi yang masif. Nezar menegaskan bahwa Indonesia tidak bisa membiarkan teknologi tumbuh tanpa arah dan nilai.
AI harus dikelola secara bijak, dengan pendekatan yang mengutamakan manusia. Sebagai langkah konkret, Kementerian Komunikasi dan Digital telah menerbitkan Buku Putih AI bulan lalu sebagai panduan tata kelola nasional.
Buku ini memuat visi untuk membangun AI yang lawful, ethical, dan robust, yang disebut sebagai pendekatan human centric AI.
Human-centric AI berarti menempatkan manusia sebagai pusat dari setiap proses desain, pengembangan, dan implementasi teknologi, agar AI bekerja untuk kemaslahatan, bukan menggantikan nilai-nilai kemanusiaan.
“Kita ingin AI yang manusiawi. Yang tak hanya efisien, tapi juga adil, beradab, dan berpihak pada kepentingan publik,” ujar Nezar dalam forum yang juga dihadiri para pemimpin industri, akademisi, dan praktisi teknologi.
