Wamendag Roro saat menghadiri acara beberapa waktu lalu (foto ist)
JAKARTA – Wakil Menteri Perdagangan Dyah Roro Esti Widya Putri mendorong kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan sektor swasta untuk mewujudkan ekosistem perdagangan barang dan jasa berbasis teknologi yang tangguh di Indonesia.
Menurut Wamendag Roro, sinergi lintas sektor menjadi kunci untuk memacu inovasi dan menghadirkan solusi konkret dalam menghadapi tantangan transformasi digital di bidang perdagangan.
“Peran aktif pemerintah, dunia akademik, dan pelaku usaha sangat penting untuk mewujudkan perdagangan barang dan jasa digital yang tangguh,” jelas Wamendag Roro saat menjadi pembicara utama secara daring dari Jakarta dalam acara CEO Talk 2025 yang mengusung tema “Lesson Learned 2025: Perdagangan dan Jasa Berbasis Teknologi” yang digelar di Surabaya pada Kamis (19/6).
“Kolaborasi lintas sektor ini akan mendorong lahirnya inovasi, mempercepat adopsi teknologi, serta membuka akses yang lebih luas bagi pelaku usaha, khususnya usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk berpartisipasi dalam perdagangan digital,” imbuhnya.
Wamendag Roro menjelaskan, pemerintah melalui Kementerian Perdagangan berkomitmen menciptakan ekosistem yang kondusif bagi pertumbuhan perdagangan barang dan jasa berbasis teknologi.
Ia menekankan pentingnya regulasi yang tidak hanya mendorong inovasi, tetapi juga memberikan perlindungan bagi konsumen serta meningkatkan daya saing produk dan jasa dalam negeri di pasar nasional maupun global.
Sebagai wujud konkret dari komitmen tersebut, lanjut Wamendag Roro, pemerintah telah mengesahkan Peraturan Presiden Nomor 80 Tahun 2019 tentang Perdagangan Melalui Sistem Elektronik (PMSE) yang kemudian diperkuat dengan terbitnya Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 31 Tahun 2023.
Kebijakan ini dirancang untuk membangun lingkungan niaga-el yang adil dan sehat, mengikuti dinamika teknologi, serta mendukung pemberdayaan UMKM dan pelaku usaha dalam negeri secara berkelanjutan.
Wamendag Roro menuturkan, meskipun era digital telah membuka peluang baru, hal tersebut juga menghadirkan tantangan. Kehadiran niaga-el, logistik digital, pembayaran digital, dan berbagai inovasi teknologi lainnya mengubah cara masyarakat bertransaksi dan berinteraksi, sehingga pelaku usaha dituntut untuk cepat beradaptasi.
Wamendag Roro mengutarakan, ekonomi digital diperkirakan akan menjadi salah satu pilar utama pembangunan ekonomi Indonesia di masa depan.
Pada 2024, nilai barang dagangan bruto (gross merchandise value/GMV) ekonomi digital Indonesia mencapai USD 90 miliar. Capaian ini setara 34 persen dari total ekonomi digital di kawasan ASEAN.
Berdasarkan data Bank Indonesia, PMSE masih menjadi kontributor terbesar bagi ekonomi digitaldengan nilai transaksi mencapai Rp512 triliun atau tumbuh 12,77 persen (YoY).
Tren pertumbuhan tersebut juga terlihat dari peningkatan transaksi PMSE pada triwulan IV 2024 yang naik sebesar 2,36 persen dibandingkan triwulan sebelumnya (Q-to-Q) dan meningkat sebesar 4,83 persen dibandingkan periode yang sama pada 2023.
“Sementara itu, jumlah pengguna platform PMSE di Indonesia diperkirakan mencapai 65,65 juta pada 2024. Angka tersebut meningkat 12 persen sebesar 7,02 juta pengguna dibandingkan pada tahun sebelumnya,” ujarnya.
Sementara itu, Wakil Rektor IV ITS Agus Muhammad Hatta juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam menghadapi percepatan teknologi dan dinamika global yang semakin kompleks.
Menurut Agus, kecepatan menghadapi perubahan tidak dapat dicapai sendirian. Untuk itu, dibutuhkan kecepatan secara kolektif dan kolaboratif.
“Forum seperti ini penting untuk terus dikembangkan sebagai wadah diskusi dan pembelajaran bersama dari berbagai sektor,” pungkasnya.
