JAKARTA – PT ITSEC Asia Tbk (CYBR), bekerja sama dengan XL Axiata Company dan Hypernet Technologies, telah memperkenalkan IntelliBroń, sebuah solusi keamanan siber inovatif yang dirancang khusus untuk melindungi sistem digital Small-Medium Sized Enterprises (SMEs) atau UKM.

Dengan menggandeng DEFEND IT360 sebagai mitra strategis, IntelliBroń hadir untuk menjawab kerentanan siber yang dihadapi SMEs. Serta memperkuat infrastruktur siber mereka terhadap ancaman digital.

Kehadiran produk tersebut telah banyak digunakan SMEs (UKM) untuk memperkuat keamanan sibernya. Harga yang terjangkau atau masuk di kalangan SMEs, menjadi salah satu faktornya. Selain tentunya, platform tersebut juga dibuat dengan konsep user friendly.

Dirancang dengan fokus pada kebutuhan SMEs, IntelliBroń menggabungkan teknologi modern, efisiensi biaya, dan kemudahan implementasi untuk memberikan sistem pertahanan yang komprehensif bagi SMEs di berbagai industri.

Fitur Inovatif untuk Mendeteksi Ancaman, IntelliBroń memiliki dua komponen utama:

● Bellatrix Monitoring Dashboard: Sistem terpusat yang memungkinkan analis keamanan siber untuk memantau, menganalisis, dan mencatat aktivitas mencurigakan secara real-time

● Rigel Network Threat Detector: Hardware yang dipasang dalam jaringan SMEs untuk memonitor, menganalisis, dan mendeteksi aktivitas anomali, baik dari internal maupun eksternal.

Kedua komponen ini bekerja sebagai sistem yang terintegrasi untuk mendeteksi dan merespon terhadap ancaman. IntelliBroń terus memantau aktivitas siber dan Data Traffic dalam perusahaan, serta memberikan notifikasi real-time saat mendeteksi aktivitas digital yang mencurigakan.

Salah satu fitur unggulan IntelliBroń adalah integrasi teknologi kecerdasan buatan (AI) dan Machine Learning. 

Menurut Rasyid Sahputra, Head of R&D PT ITSEC Asia Tbk, teknologi ini memungkinkan IntelliBroń untuk membedakan antara aktivitas bisnis dan potensi ancaman siber. 

“Sistem berbasis AI ini tidak hanya mendeteksi anomali, tetapi juga memberikan rekomendasi langkah mitigasi yang dapat dilakukan oleh SMEs. Meskipun mereka tidak memiliki tim keamanan siber khusus,” ujarnya, Senin (23/12/2024).

Rasyid menjelaskan bahwa IntelliBroń berfungsi layaknya sebuah CCTV. “Pada dasarnya, IntelliBroń berfungsi seperti CCTV digital untuk jaringan perusahaan, yang mampu mendeteksi aktivitas mencurigakan berdasarkan Data Base ancaman yang luas dan secara instan memberikan notifikasi, memungkinkan penggunanya untuk mengambil tindakan pencegahan.”

Adanya teknologi Machine Learning yang disematkan dalam sistem tersebut membuatnIntelliBroń dapat beradaptasi dengan berbagai ancaman baru, dan memberikan perlindungan yang dinamis terhadap Cyber Threats yang terus berkembang dan berubah.

Lebih lanjut Rasyid menjelaskan mengapa penting sekali untuk memperkuat keamanan siber. Termasuk untuk SMEs. Ia kemudian menjelaskan cikal bakal dibuatnya IntelliBroń.

Rasyid memperhatikan sejak 2004 siber security di Indonesia, kalau jaman dulu kan mesin yang terkoneksi ke dunia digital. IT dari perusahaan katakanlah cuma server. Sering dengan bertambahnya tahun kemudian ada juga 4G, kemudian infrastruktur telekomunikasi.

“Kemudian ada penetrasi dari mobile phone terus e-commerce dan segala macamnya itu industri IT itu semakin banyak kalau kita bilang bahasanya tuh aset dari sebuah perusahaan yang harus dilindungi,” tegas Rasyid.

“Jadi yang dulunya cuman server sekarang sudah laptop, PC terus kemudian mobile phone. Jadi perusahaan itu asetnya sudah semakin banyak sementara memang serangan juga semakin banyak. Tidak cuma dari Indonesia saja tapi juga dari luar negeri,” imbuhnya.

Rasyid mengatakan potensi ancaman siber (Cyber Threats) kedepannya akan semakin besar lagi, semakin banyak lagi. Terutama dengan perangkat digital yang semakin kecil Internet of Things (IoT). 

“Saya selalu lihat misalkan di rumah-rumah komersial beberapa developer sudah menawarkan smart home. Jadi kalau kita misalkan masuk, di dalam itu bukan hanya sekedar CCTV tapi seluruh ruangan itu sudah bisa dikendalikan dengan menggunakan digital dengan menggunakan IoT,” ujarnya 

“Kemudian ada beberapa juga pertanian, peternakan sudah dikalungkan sapi atau misalkan ke beberapa hewan ternak untuk kemudian mendeteksi kesehatannya. Jadi misalkan ini lagi sakit dan sebagainya. Termasuk juga untuk industri seperti perikanan. Jadi semakin besar, semakin banyak semakin meluas itu tentu akan membuat semakin bingung bagaimana cara kita melindungi dengan aset yang semakin banyak,” imbuh Rasyid.

Sementara challengenya sudah mulai ada dalam hal manusia. Kalau dulu kita cuman mengamankannya paling cuma 10 aset dari perusahaan cuma butuh satu orang.  

“Sekarang dengan ratusan, ribuan aset seperti itu. Mengandalkan manusia kurang yah jadi IT security demand-nya semakin susah untuk ditemukan. Itu sebabnya tahun 2022 kemarin, kita ITSEC ASIA karena sudah 15 tahun juga di industri siber security, melihat bahwa ini kayaknya nggak bisa hanya bergantung kepada manusia. Jadi memang konsep nya adalah bisa dibilang manusia terus dibantu dengan teknologi kecerdasan buatan,” ujar Rasyid.

“Jadi lawannya lagi kita dari luar negeri, seperti dari Eropa Timur, dari berbagai macam tempat, mereka pakai seperti semacam mesin juga untuk mengeksploitasi berbagai macam digital aset itu. Jadi bahkan manusia nya itu dibantu dengan automasi. Jadi kenapa kita tidak membangun suatu aplikasi yang bisa juga meng-automate itu semua,” imbuh Rasyid.

Tapi tentunya kata dia, ada juga aplikasi dari luar, tetapi harganya juga sangat mahal atau tidak terjangkau buat yang Small-Medium Sized Enterprises (SMEs) atau UKM.

“Sementara di Indonesia inikan ada banyak startup ada banyak perusahaan kecil UKM. Kalau perusahaan besar mungkin bisalah membayar dengan orang yang ahli,” ujarnya.

Jadi pihaknya jelas Rasyid memikirkan bagaimana caranya untuk melindungi Indonesia lebih banyak lagi dari kota kecil, kabupaten. Termasuk Jakarta yang juga banyak perusahaan. Juga di Bandung. Belum lagi kalau misalnya ke Pekalongan dan sebagainya. Itukan akan menjadi target kedepannya.

“Jadi kita butuh suatu mekanisme bukan hanya dari sisi platform. Bukan hanya dari sisi aplikasi. Yang kami pikirkan bagaimana caranya membuat aplikasi ini mudah dipahami oleh orang yang bahkan bukan IT security,” jelas Rasyid.

Terus kemudian  ITSEC bekerja sama dengan partner. Jadi ITSEC ASIA kata dia, tidak hanya bergerak sendiri, namun menggandeng beberapa partner yang memang bisa dibilang akan menciptakan kayak semacam pengaman bagi industri-industri, bukan cuma enterprise. 

“Itu alasan dibalik dibuatnya IntelliBroń. Dibuat tim dari Indonesia dan ini harapannya selama 5 sampai 10 tahun kedepan ini bisa jadi pelindung. Dengan pelindung landscape siber security di Indonesia yang jumlahnya tentu tambah masif. Dengan menggunakan bantuan teknologi AI,” jelas Rasyid.

“Saya sudah lama di dunia siber security, saya lihat termasuk challenge di Indonesia kok mahal dan kenapa harus pakai tools dari luar,” imbuh pria yang ahli siber security dan juga software development tersebut.

“Jadi saya yakin kita bisa buat sendiri. Setelah dua tahun terwujud,” ujarnya.

Lebih lanjut Rasyid menjelaskan, dengan adanya IntelliBroń pihaknya ingin memperkenalkan bahwa ada produk memang TKDN. 

“Dari presiden kita juga bilang bahwa Indonesia harus dilindungi oleh aplikasi-aplikasi buatan dalam negeri. Kita juga ingin mengundang partner-partner. Karena Indonesia itukan luas. Nggak mungkin semuanya itu katakanlah oh ini tetap butuh manusia. Manusia yang dibantu dengan AI. AI IntelliBroń. Jadi katakanlah tadi satu manusia ahli IT bisa menghandle 3 perusahaan, dengan adanya IntelliBroń walaupun target kita dari yang kecil kecil dulu SMEs, satu orang dengan adanya teknologi ini satu orang mungkin bisa menghandle sampai 20 – 40 SMEs,” ujarnya.

Pihaknya jelas Rasyid mengundang partner ITSEC bahwa ini adalah yang lebih terjangkau. 

Jadi ini tidak hanya untuk di kota kota Jakarta. IntelliBroń juga di daerah lain.

“Contoh ada partner saya tertarik untuk melindungi di Kawasan Pontianak misalnya. Mereka bisa jadi partner dan menyerap tenaga kerja dari orang orang non siber security dari SMK-SMK di Pontianak. Mereka bisa melindungi aset aset UKM yang ada di Pontianak. Strategi itu kalau diterapkan di semua kawasan kita bisa melindungi diri kita sendiri. Tidak hanya untuk perusahaan besar saja tapi juga UKM,” pungkasnya.

Sementara itu, Aldy Rizaldy – Senior Business Consultant PT ITSEC Asia Tbk mengatakan ITSEC Asia selama kurang lebih dua tahun kebelakang itu, berinovasi mengembangkan platform yang disebut IntelliBron. 

“Jadi mudahnya itu adalah seperti detektor bagaimana IntelliBroń ini bekerja didalam suatu jaringan perusahaan untuk memantau terhadap anomali-anomali traffic yang ditemukan atau dideteksi secara lebih dini? Jadi Posisi IntelliBroń adalah memberikan early warning sistem kepada pihak yang memang berwenang dalam hal ini tentu saja IT manajer, atau mungkin orang IT di dalam internal perusahaan atau mungkin juga high level manajemen,” ujarnya.

“Karena kami merancang IntelliBroń ini sangat mudah dioperasikan dan sangat mudah diterjemahkan atau dibaca. Kita mengusung konsep yang user friendly. Nah kemudahan IntelliBroń ini bisa diadaptasi atau diimplementasikan di level kalau kita bilang mungkin kita menyasar, Small-Medium Sized Enterprises (SMEs) atau UKM,” imbuh Aldy.

Saat ditanya kenapa memilih SMEs (UKM) untuk IntelliBroń? Aldy menjelaskan pada 2023 kemarin BSSN merilis di awal tahun bahwa landscape siber atau keamanan siber di Indonesia ini telah terjadi 400 juta lebih anomali traffic di seluruh Indonesia.  

“Nah ini artinya perlu diwaspadai. Sekali lagi anomali traffic bukan berarti itu threatnya yah tapi itu potensi siber threat yang bisa terjadi ada anomali anomali yang terjadi sebanyak 400 juta lebih di perusahaan atau di dalam jaringan baik masuk ataupun ke luar Indonesia. Itulah cikal bakal kita menciptakan IntelliBroń,” ujarnya. 

Untuk harga jelas Aldy, secara eksplisit publik kita bekerja sama dengan partner- partner. Jadi artinya sebetulnya pihaknya ini ingin menjadi tools provider atau dalam hal ini prinsipal dari dalam negeri 

“Dengan bangga kami bisa sebut bahwa kami ini adalah prinsipal dari dalam negeri yang kita akan membentuk partnership. Dengan partner-partner dalam hal penjualan jadi mereka ini sebagai reseller. Mereka ini sebagai pelaksana operasional untuk monitoringnya jadi soal untuk harga itu memang range yah, range nya itu kalau menurut saya harganya masuk di kalangan UKM,” ujarnya.

“Saya tidak bisa secara spesifik sekian juta, sekian puluhan juta. Tapi yang pasti harganya masuk di kalangan UKM yang saya yakin ini merupakan investasi yang baik. Bahwa ayo kita mulai dengan menerapkan sistem Siber security yang baik. Salah satu yang bisa kita usung adalah IntelliBroń. Partner inilah nanti yang akan meracik kemudian memberikan harga yang baik untuk UKM,” imbuh Aldy.

Karena konsepnya ini adalah services, kata dia, jadi ini adalah layanan. Mereka akan memberikan layanan monitoring 24/7 dengan berbagai macam layanan. 

“Mudah-mudahan dengan adanya IntelliBroń, 2 sampai 3 tahun kedepan angka anomali-anomali bisa turun,” pungkasnya.