Wakil Menteri Perdagangan RI (Wamendag) Dyah Roro Esti Widya Putri dalam seminar bertema “Menembus Hambatan, Menjaga Pasar Ekspor Bagi Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM): Kisah Sukses Kolaborasi Pemerintah dan Dunia Usaha” pada Jumat (16/10/2026). foto ist 

TANGERANG – Perdagangan yang kuat dibangun bukan hanya melalui besarnya nilai transaksi, melainkan melalui kepercayaan yang tumbuh dari waktu ke waktu.

Kepercayaan lahir dengan kemampuan menghadirkan produk yang berkualitas, memenuhi komitmen, memahami kebutuhan mitra, dan membangun hubungan yang memberikan manfaat bagi semua pihak.

Hal itu disampaikan Wakil Menteri Perdagangan RI (Wamendag) Dyah Roro Esti Widya Putri dalam seminar bertema “Menembus Hambatan, Menjaga Pasar Ekspor Bagi Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM): Kisah Sukses Kolaborasi Pemerintah dan Dunia Usaha” pada Jumat (16/10/2026).

Seminar tersebut merupakan rangkaian dari Trade Expo Indonesia (TEI) ke-41 di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City, Kabupaten Tangerang, Banten.  Pameran dagang internasional terbesar di Indonesia ini digelar pada 14–18 Oktober 2026.

“Perdagangan internasional tidak selalu berjalan seperti harapan, bisa saja muncul hambatan dari negara tujuan ekspor. Kepercayaan yang terjalin antara pemerintah dan dunia usaha akan menguatkan perdagangan,” jelas Wamendag Roro.

Wamendag Roro mendorong peserta seminar untuk mengoptimalkan pengalaman dalam TEI, khususnya agenda seminar dan forum bisnis. 

“Kementerian Perdagangan (Kemendag) melalui unit kerjanya dan perwakilan perdagangan di luar negeri (perwadag) merupakan fasilitator bagi pelaku usaha. Pesan saya, tetap optimalkan peluang ekspor dan bangun jejaring dengan perwadag, terlebih perwadag hadir dalam TEI untuk memfasilitasi penjajakan bisnis(business matching),” ujar Wamendag Roro.

Sementara itu, Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Tommy Andana menyampaikan bahwa terdapat 46 perwadag RI yang tersebar di 33 negara, termasuk atase perdagangan dan Indonesian Trade Promotion Center (ITPC). 

Perwadag RI bertugas untuk meriset pasar dan mempertemukan produk Indonesia dengan buyer di negara penempatan masing-masing.

Lebih lanjut, Tommy menyampaikan, dalam dua tahun terakhir, Kemendag berhasil mengamankan potensi penerimaan ekspor senilai lebih dari Rp8 triliun. Nilai tersebut berasal dari penanganan sebanyak 60 kasus hambatan perdagangan berupa antidumping, antisubsidi dan safeguards serta hambatan teknis perdagangan lainnya. 

Beberapa keberhasilan Indonesia dalam penanganan hambatan perdagangan meliputi produk kertas, produk kaca (clear float glass), produk biodiesel, produk kimia hulu, dan produk baja nirkarat (stainless steel).