Ratih Ibrahim, M.M., Psikolog – Senior Psikolog Klinis, dan Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK., – Medical & Scientific Affairs Director, Danone Indonesia dan Direktur Eksekutif Indonesia Health Development Center (IHDC) saat Diskusi “Pencernaan Sehat, Kecerdasan Anak Optimal” di Jakarta, Kamis, 8 Oktober 2026.
JAKARTA – Setiap anak memiliki kecerdasan, potensi, dan kebutuhan yang unik. Karena itu, perkembangan kecerdasan anak tidak seharusnya hanya dilihat dari IQ atau kemampuan akademis. Melainkan juga dari kemampuan sosial dan emosional. Seperti mengenali dan mengelola emosi, berkomunikasi, berempati, beradaptasi, membangun hubungan, belajar, serta memecahkan masalah.
Perkembangan berbagai kemampuan anak tersebut tidak berdiri sendiri, namun dipengaruhi oleh perkembangan tubuh dan otaknya, serta pengalaman dan lingkungan disekitarnya.
Nutrisi, kesehatan, pengasuhan yang penuh perhatian dan tanggap terhadap kebutuhan anak, stimulasi, serta kesempatan untuk belajar dan mengeksplorasi lingkungan semuanya berperan dalam mendukung tumbuh kembang optimal anak.
Kecerdasan anak paling optimal berkembang di masa golden period, yaitu sejak masa prenatal (dalam kandungan) hingga sekitar usia 5 tahun, dengan puncak plastisitas terjadi pada 1.000 hari pertama kehidupan (HPK) merupakan window of opportunity atau “jendela belajar”.
Pada periode ini, otak berkembang sangat pesat sehingga pengalaman, stimulasi, nutrisi, dan interaksi memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap perkembangan anak.
Namun penting dipahami juga bahwa periode penting perkembangan optimal kecerdasan anak tidak berhenti pada usia 2 tahun; usia 2–5 tahun juga merupakan fase penting ketika kemampuan bahasa, interaksi sosial, regulasi emosi, fungsi eksekutif, dan kemandirian terus berkembang.
Karena itu, dukungan pada masa awal kehidupan perlu dilihat sebagai proses berkelanjutan, bukan sebagai kesempatan yang “tertutup” setelah 1.000 hari pertama.
Ratih Ibrahim, M.M., Psikolog, Senior Psikolog Klinis menjelaskan, dalam psikologi, di masa golden period perkembangan anak terdapat dua periode penting yang perlu dipahami orang tua, yaitu critical period dan sensitive period.
Critical period merujuk pada fase yang relatif lebih spesifik ketika stimulasi atau input tertentu diperlukan agar fungsi jaringan otak berkembang secara optimal.
Sementara itu, sensitive period adalah masa ketika otak dan perilaku sangat responsif terhadap pengalaman tertentu, sehingga stimulasi yang tepat dapat memberikan dampak yang lebih kuat, meski kemampuan tersebut tetap dapat berkembang setelah periode tersebut dengan dukungan dan pembelajaran yang sesuai.
“Dalam mendukung perkembangan kecerdasan emosional dan sosial anak, sensitive period sangat penting diperhatikan karena kemampuan seperti regulasi emosi, empati, komunikasi, dan membangun relasi terus berkembang,” jelas Ratih Ibrahim saat Diskusi “Pencernaan Sehat, Kecerdasan Anak Optimal” di Jakarta, Kamis, 8 Oktober 2026.
“Oleh karena itu, pemahaman mengenai periode kritis dan sensitif dapat mem antu orang tua mengenali kapan dukungan, nutrisi, pengasuhan, dan stimulasi perlu diberikan secara konsisten dan responsif,” imbuhnya.
Dalam konteks perkembangan anak, 1.000 HPK merupakan critical period yang sangat penting karena otak berkembang pesat dan sangat responsif terhadap lingkungan. Sementara itu, sensitive period merupakan masa ketika anak lebih siap menerima dan belajar dari pengalaman tertentu.
Meski kemampuan emosional dan sosial tetap dapat berkembang setelah periode ini, pengalaman yang positif dan konsisten pada masa sensitif dapat memberikan pengaruh yang lebih kuat. Karena itu, orang tua perlu memanfaatkan periode ini untuk membangun fondasi kecerdasan emosional melalui interaksi sehari-hari.
“Pada masa sensitive period perkembangan sosial dan emosional, stimulasi kecerdasan emosional tidak harus dilakukan melalui aktivitas yang rumit. Orang tua dapat mulai dengan merespons emosi anak secara tenang, membantu anak memahami perasaannya, mendengarkan tanpa menghakimi, memberi contoh bagaimana mengelola emosi, mengajak anak bermain dan belajar bergantian, membaca buku bersama, mengajukan pertanyaan sederhana tentang perasaan tokoh, serta memberi kesempatan anak berinteraksi dan menyelesaikan masalah sesuai usianya,” jelas Ratih Ibrahim.
“Anak belajar terutama melalui hubungan, pengamatan, pengalaman, dan contoh perilaku yang diberikan orang dewasa di sekitarnya. Dengan demikian, stimulasi kecerdasan emosional bukan sekadar mengajarkan anak untuk bersikap baik, tetapi membantu mereka memahami emosi, mengatur respons, memahami orang lain, dan membangun hubungan secara sehat,” imbuhnya.
Dalam mendukung tumbuh kembang optimal anak, kesehatan pencernaan anak tidak boleh diremehkan oleh para Ibu. Para ahli kesehatan telah sepakat bahwa saluran cerna merupakan organ paling penting untuk si Kecil pada periode 1000 hari pertama kehidupannya.
Sebab, saluran cerna anak merupakan sistem organ tubuh yang berkembang pesat pada masa awal kehidupan yang berperan penting untuk mendukung tumbuh kembang optimal dan kesehatan holistik si Kecil serta sebagai fondasi utama kecerdasan anak.
Maka dari itu, masa ini merupakan adalah golden period untuk perkembangan fungsi pencernaan dan maturitas mikrobiota saluran cerna.

Ratih Ibrahim, M.M., Psikolog – Senior Psikolog Klinis, dan Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK., – Medical & Scientific Affairs Director, Danone Indonesia dan Direktur Eksekutif Indonesia Health Development Center (IHDC) saat Diskusi “Pencernaan Sehat, Kecerdasan Anak Optimal” di Jakarta, Kamis, 8 Oktober 2026.
Sementara itu, Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH, Executive Director Indonesia Health Development Center (IHDC) dan Member of Gut and Immunity Council (GIC), menjelaskan untuk mendukung kecerdasan emosional dan potensi anak secara optimal, stimulasi perlu berjalan beriringan dengan pemenuhan kebutuhan nutrisi, terutama untuk mendukung kesehatan pencernaan anak.
“Sebab, seringkali dikatakan bahwa pencernaan merupakan otak kedua anak. Hal ini disebabkan karena otak dan saluran pencernaan saling terhubung sebagai Gut-Brain Axis (GBA), dimana nutrisi menjadi asupan kinerja otak dan juga dapat mempengaruhi perilaku serta suasana hati anak,” ujarnya.
“Namun, penting untuk dipahami bahwa, mikrobiota usus merupakan kunci dari perkembangan Gut-Brain Axis, dimana sepanjang sistem pencernaan merupakan tempat bagi lebih dari 100 triliun mikrobiota saluran cerna, dan pada periode ini adalah golden period untuk perkembangan dan kematangan mikrobiota di saluran cerna,” imbuh dr. Ray Wagiu Basrowi.
Orang tua memiliki peran penting sebagai pengambil keputusan dalam keseharian anak, mulai dari menyediakan makanan bergizi seimbang, membangun kebiasaan makan yang baik, hingga memastikan anak mendapatkan stimulasi yang tepat agar berkesempatan untuk bergerak, bermain, belajar, dan berinteraksi dalam lingkungan yang aman.
Penting untuk memberikan asupan bergizi seimbang pada Si Kecil. Salah satu nutrisi utama untuk mengoptimalkan dan menjaga kesehatan sistem pencernaan adalah prebiotik yang berperan sebagai makanan utama bagi ratusan triliun mikrobiota pada saluran cerna dari awal kehidupan si Kecil.
“Guna menjaga jumlah bakteri baik dalam usus anak tetap seimbang, si Kecil perlu diberikan asupan prebiotik yang biasanya banyak terkandung dalam makanan sumber serat yang memiliki peran sebagai prebiotik seperti buah-buahan, sayur-mayur, susu, kacang-kacangan, dan beberapa jenis sayuran akar seperti umbi-umbian, wortel atau bisa juga bersumber dari nutrisi lain, seperti Susu Pertumbuhan untuk anak di atas 1 tahun yang mengandung prebiotik agar menjadi makanan bagi bakteri baik tersebut,” tambah dr. Ray Wagiu Basrowi.
Nutrisi yang sesuai dengan kebutuhan dan tahap perkembangan anak, termasuk pola makan beragam dengan sumber serat dan prebiotik, perlu berjalan beriringan dengan stimulasi dan pengasuhan yang penuh perhatian.
Keduanya saling melengkapi untuk mendukung anak memiliki tubuh yang sehat sekaligus mengembangkan kemampuan kognitif, sosial, dan emosional secara optimal.
Pencernaan yang sehat merupakan salah satu fondasi kesehatan dan tumbuh kembang anak. Namun, untuk mendukung potensi anak secara optimal, nutrisi dan kesehatan perlu berjalan bersama dengan stimulasi, pengasuhan responsif, dan kesempatan belajar.
“Dengan mengenali keunikan setiap anak, memahami periode penting dalam perkembangannya, memberikan stimulasi yang sesuai, serta memastikan kebutuhan nutrisi dan kesehatan anak terpenuhi, orang tua dapat membantu menciptakan fondasi yang mendukung anak untuk tumbuh, belajar, berinteraksi, dan mengembangkan kemampuan terbaiknya. Karenanya, setiap anak memiliki potensi yang unik. Dengan dukungan yang tepat pada waktu yang tepat, potensi tersebut dapat tumbuh dan berkembang secara optimal,” jelas dr. Ray Wagiu Basrowi.
