Direktur Sido Muncul, Dr. (H.C.) Irwan Hidayat membeberkan rahasia sukses Sido Muncul, khususnya produk unggulan Tolak Angin yang mengutamakan mutu, keamanan, dan menjaga kepercayaan masyarakat dengan menghasilkan produk berbasis riset. (foto ist)
JAKARTA – Memasuki usia ke-75 pada bulan November 2026 mendatang, PT Industri Jamu Dan Farmasi Sido Muncul Tbk terus berkomitmen menjaga kualitas dan mengembangkan produk-produknya.
Setidaknya ada beberapa kunci utama yang membuat Sido Muncul terus berkembang maju dan mampu mempertahankan kepercayaan konsumen dari generasi ke generasi.
Irwan Hidayat bersama 4 saudaranya, yakni J Sofjan Hidajat, Johan Hidayat, Sandra Hidayat, dan David Hidayat, yang notabene adalah generasi kedua telah berkontribusi bagi kemajuan Sido Muncul.
Mereka menjadikan industri jamu dan farmasi terbesar dan termodern ini mampu menjaga standar mutu, sangat patuh bahkan melebihi regulasi dari otoritas negara, menjamin keamanan konsumen atas produk yang dihasilkan. Serta menjaga betul kepercayaan masyarakat dengan menghasilkan produk jamu dan obat herbal berbasis riset dan pengujian secara ilmiah.
Kunci sukses lainnya adalah komitmen Sido Muncul menjaga kualitas mengembangkan produk-produknya dengan inovasi dan menyesuaikan kebutuhan masyarakat.
“Sebagai perusahaan terbuka, kami tidak hanya mengandalkan warisan resep tradisional. Tetapi juga memastikan setiap produk kami harus terjaga kualitas dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah,” ujar Direktur Sido Muncul, Dr. (H.C.) Irwan Hidayat saat Press Conference Paparan Uji Khasiat dan Toksisitas Tolak Angin di Kantor Sido Muncul, Jakarta, Selasa (20/1/2026).
Seperti diketahui, Sido Muncul berawal dari usaha jamu rumahan yang dirintis Ibu Rahkmat Sulistio di Yogyakarta pada 1930. Dari racikan jamu tradisional, berlanjut ke jamu godokan pada 1940, hingga resmi berdiri sebagai perusahaan pada 1951 dan tumbuh sebagai produsen jamu dan obat herbal nasional paling berpengaruh di Indonesia.
Inovasi besar dan menjadi revolusi besar bagi Sido Muncul tatkala pada 1992 meluncurkan Tolak Angin cair siap minum dalam kemasan sachet, yang praktis dan higienis, dan mudah dibawa kemana-mana.

Direktur Sido Muncul Irwan Hidayat didampingi Direktur Marketing Sido Muncul Maria Hidayat, Brand Ambassador Tolak Angin Rhenald Kasali dan Andy F Noya, juga Komisaris Independen Sido Mohammad Adib Khumaidi memberikan keterangan pers saat Sido Muncul akan memasuki 75 tahun pada November 2026 mendatang (foto ist)
Terobosan yang dilakukan Irwan Hidayat bersama 4 saudara yang menegaskan jamu juga bisa diminum dengan cara lebih praktis, cepat, higienisa, modern, dan tetap berkhasiat.
Untuk menjaga mutu dan keamanan produk Tolak Angin cair, Sido Muncul telah bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro (Undip) dan Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Dengan melakukan penelitian dan pengujian ilmiah terhadap produk Tolak Angin.
Penelitian tersebut mencakup uji toksisitas (keamanan), uji mutu bahan baku herbal, serta uji klinis. Hasilnya, Tolak Angin cair dapat meningkatkan jumlah Limfosit T perifer dan produksi sitokin tipe 1 pada pemakaian selama tujuh hari tidak mempengaruhi fungsi hepar dan ginjal. Tolak Angin cair dapat menjaga daya tahan tubuh.
Selain itu, bagian Research and Development (R&D) Sido Muncul juga telah melakukan uji mutu bahan baku herbal, serta uji pra klinis maupun uji khasiat.
Irwan mengungkapkan, sejak tahun 2000 Sido Muncul telah melakukan uji toksisitas dan uji khasiat, sebuah langkah yang pada saat itu tergolong langka dan lebih progresif untuk produk jamu di Indonesia.
“Untuk sebuah bisnis jamu, saya meyakini, yang Sido Muncul lakukan adalah bagian sebuah kemajuan. Bahkan saat itu, Tolak Angin merupakan pionir produk jamu di Indonesia yang diuji secara ilmiah,” ujarnya.
Putra pertama dari 5 bersaudara pasangan Desy dan Jahja Hidayat menambahkan penelitian dan pengujian, tidak hanya dilakukan pada Tolak Angin. Akan tetapi juga pada produk lain seperti temulawak dan food suplement.
“Terus terang kami tidak bisa bergantung pada opini saja. Kami berpatokan pada hasil riset yang diuji secara ilmiah dan sudah kami lakukan sejak 23 tahun lalu. Uji toksisitas membuktikan secara ilmiah bahwa Tolak Angin tidak bersifat toxic, tidak merusak ginjal, tidak merusak hati, tidak merusak pankreas, serta tidak mengganggu hormon pria maupun wanita pada penggunaan dosis sesuai anjuran,” jelas Irwan Hidayat.
Dengan dukungan penelitian ilmiah tersebut, Tolak Angin juga konsisten dalam mensosialisasikan kepada para akademisi, kalangan kedokteran, dan tenaga kesehatan, mahasiswa kedokteran, dengan melakukan seminar herbal mengenai Tolak Angin yang telah dilakukan sebanyak 53 kali bekerjasama dengan berbagai Fakultas Kedokteran dari berbagai Universitas di Indonesia.
Doktor Kehormatan di Bidang Ilmu Manajemen Mutu (Branding) Universitas Negeri Semarang (Unnes) ini menegaskan bahwa hasil penelitian tersebut merupakan pondasi penting dalam pengembangan produk-produknya.
“Kami tidak hanya mengandalkan warisan resep tradisional, tetapi juga memastikan setiap produk harus terjaga kualitasnya, termasuk Tolak Angin yang didukung oleh penelitian ilmiah, karena ini merupakan bentuk tanggung jawab kami kepada konsumen agar produk yang diminum benar-benar aman, berkualitas, dan bermanfaat,” tegas Irwan.
Hingga saat sekarang Tolak Angin telah melahirkan beberapa varian yakni Tolak Angin Cair, Tolak Angin Serbuk, Tolak Angin Tablet, Tolak Angin Flu, Tolak Angin Anak, Tolak Angin Kapsul, dan Tolak Angin Batuk.
“Di usia yang akan mencapai 75 tahun tahun ini, kedepannya, Sido Muncul akan terus melakukan inovasi agar produk-produknya semakin diterima oleh para konsumen,” jelas Irwan Hidayat.

Peneliti Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Dr. apt. Ipang Djunarko dan apt. Phebe Hendra, Ph.D, dan Peneliti dari Undip Dr. dr. Neni Susilaningsih mengungkapkan hasil penelitian Tolak Angin telah melalui fase penelitian dan pengujian ilmiah.
Peneliti Tolak Angin dari Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, Dr. apt. Ipang Djunarko, S.Si., M.Sc, bahwa uji toksisitas subkronis dilakukan untuk memastikan keamanan produk dalam penggunaan jangka panjang.
“Kami melakukan uji toksisitas subkronis sebagai tahap awal untuk menentukan keamanan suatu produk. Jadi juga untuk memenuhi tuntutan dan mandatory dari Badan POM,” ujar Ipang Djunarko.
Ipang menuturkan pengujian dilakukan 90 hari pada hewan uji tikus jantan dan betina, dengan berbagai tingkatan dosis, mulai dari dosis normal hingga dosis yang sangat tinggi setara dengan konsumsi 9 sachet sekaligus per hari.
“Pengujian dilakukan dengan pengamatan gejala klinis, uji darah, uji kimia klinik, serta pemeriksaan histologi pada organ-organ vital meliputi paru-paru, limpa, jantung, usus, lambung, ginjal, hati, serta organ reproduksi hewan uji,” urainya.
Hasilnya, tidak ditemukan efek toxic yang membahayakan bagi objek penelitian yakni tikus jantan dan betina.
“Selama 90 hari perlakuan, tidak ditemukan kematian maupun perubahan signifikan pada organ vital. Fungsi ginjal dan hati juga tidak mengalami gangguan,” jelasnya.
Peneliti lainnya, masih dari Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma, apt. Phebe Hendra, Ph.D, menambahkan bahwa hasil uji toksisitas menunjukkan Tolak Angin relatif aman untuk penggunaan jangka panjang.
“Uji toksisitas subkronis dilakukan pada tikus jantan dan betina selama 90 hari hingga dosis tertinggi, dan tidak ditemukan kematian maupun perubahan gejala klinis,” ungkap Phebe.
Ia menjelaskan, jika dikonversikan ke manusia, durasi 90 hari pada hewan setara dengan sekitar 101 bulan atau delapan tahun lebih 4 bulan penggunaan.
“Hasil ini menunjukkan bahwa Tolak Angin cair relatif aman digunakan dalam jangka panjang, selama digunakan sesuai dosis yang dianjurkan,” terang dia.
Phebe juga menekankan bahwa dalam pengujian, dosis yang digunakan jauh lebih tinggi dibandingkan dosis konsumsi normal.
“Pada dosis yang jauh lebih tinggi dari anjuran pun tidak ditemukan efek toxic. Ini menunjukkan margin keamanannya cukup baik,” tegasnya.
Sementara itu, Peneliti Tolak Angin dari Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro Semarang, Dr. dr. Neni Susilaningsih, M.Si, mempertegas bahwa selain uji keamanan yang dilakukan oleh tim Sanata Dharma, dilakukan pula uji khasiat yang dimulai dari penelitian pada hewan hingga uji khasiat pada manusia.
“Pemberian Tolak Angin cair selama satu minggu menunjukkan peningkatan jumlah limfosit T, peningkatan kadar sitokin seperti interferon dan interleukin, yang menandakan peningkatan respons imun. Tanpa memengaruhi fungsi ginjal maupun hati melalui pemeriksaan kadar ureum, kreatinin. SGOT dan SGPT,” jelasnya.
Dokter Neni mengungkapkan bahwa hasil uji toksisitas dan uji khasiat tersebut menjadi syarat penting dari Badan POM.
“Inilah yang membuat Tolak Angin dapat naik level dari jamu menjadi obat herbal terstandar tinggi dan telah memenuhi regulasi pemerintah,” pungkasnya.
Sementara itu, brand ambassador Tolak Angin Rhenald Kasali menyebut produk yang dihadirkan Sido Muncul, salah satunya Tolak Angin dengan kategori herbal alami memiliki standar ilmiah.
Rhenald mengatakan selama mengkonsumsi Tolak Angin, merasa nyaman karena secara produk berkualitas, teruji secara ilmiah dan berhasil diekspor ke berbagai negara.
Sementara itu, Andy F. Noya yang juga brand ambassador Tolak Angin mengatakan, terkesan saat fakultas kedokteran di 57 perguruan tinggi meminta Sido Muncul untuk menjadi pembicara perihal obat herbal, kajian ilmiah dan data yang menunjang.
Andy menambahkan, sangat bangga saat Sido Muncul bekerja sama dengan beberapa rumah sakit untuk menyediakan apotek herbal.
“Dengan teknologi modern, proses produksi di pabrik Sido Muncul terjaga secara kebersihan, keamanan produk dan khasiat,” ujarnya.
