Instran, KPBB, Masyarakat Transportasi Indonesia dan Suara Transjakarta, menggelar dialog Refleksi 22 Tahun Layanan Transjakarta pada Senin (19/1/2026). Hadir dalam dialog tersebut Gubernur DKI Jakarta 1997-2007 Letjen TNI (Purn) Sutiyoso dan Dirut Transjakarta Welfizon Yuza. Foto indopostrust.id
JAKARTA – Transjakarta kini menjadi moda transportasi yang digemari Gen Z dan milenial. Welfizon Yuza, Direktur Utama PT Transjakarta mengatakan, pengguna Transjakarta didominasi dari kalangan Gen Z dan milenial. Mayoritas adalah perempuan.
Tidak hanya ongkos tiketnya yang terjangkau yakni Rp3.500, namun pelayanan Transjakarta juga menjadi andalan pelanggan. Khususnya mereka yang tidak ingin bermacet-macetan di Jalan.
Hal itu karena Transjakarta memiliki jalur khusus. Sehingga bebas macet. Walaupun dalam operasinya ada saja tantangan, dimana ada kendaraan pribadi yang masuk jalur Busway atau Transjakarta, di sejumlah koridor. Sehingga membuat Transjakarta terhambat melaju.
Dibalik kesuksesan Transjakarta yang saat ini menjadi moda transportasi yang diminati masyarakat, ternyata tidak mudah untuk mewujudkan hal itu. Di awal rencana pengoperasian atau peluncuran Busway (Transjakarta saat ini) banyak protes, kritik dan demo.
Namun berkat komitmen Gubernur DKI Jakarta 1997-2007 Letjen TNI (Purn) Sutiyoso, Busway terwujud. Karena itu tidak heran jika banyak pihak yang mengapresiasi Bang Yos (panggilan akrab Gubernur Sutiyoso).
Nah dalam rangka Refleksi 22 Tahun Layanan Transjakarta, Instran, KPBB, Masyarakat Transportasi Indonesia dan Suara Transjakarta, menggelar dialog, pada Senin (19/1/2026). Dalam dialog tersebut mereka mengundang Letjen TNI (Purn) Sutiyoso, Gubernur DKI Jakarta 1997-2007, untuk berbagi cerita tentang Busway (Transjakarta).

Dalam dialog tersebut Bang Yos menceritakan bahwa pada awal ia menjabat Gubernur Jakarta, APBD tidak terlalu besar. Namun perlahan APBD terus naik. Pada 2003, APBD sudah Rp10 triliun.
“Saya mulai berpikir mengatasi kemacetan di Jakarta. Saya kumpulkan pakar transportasi dan dari kampus dan sebagainya,” ujarnya.
Apalagi perbandingan kendaraan pribadi dan umum tidak seimbang. Bertambah kendaraan pribadi. Juga kendaraan masuk ke Jakarta banyak.
“Saya melakukan studi banding ke berbagai kota, salah satunya di Bogota, Kolombia. Agak mirip dengan Jakarta, seperti dalam hal jumlah penduduk. Sebelumnya juga sudah ke Amsterdam,” ujarnya.
Ada 4 moda transportasi yang lazim digunakan kota didunia. Seperti MRT (di dalam tanah), diatas monorel, di darat busway dan waterway (alternatif kalau itu diperlukan).
“Saya tanya ke profesor dari empat moda ini mana yang murah? Mereka bilang busway, karena jalannya sudah ada. Tidak banyak keluar uang. Koridor mana yang sibuk? Koridor 1 Blok M – Kota,” jelas Bang Yos.
“Bukan hal mudah meluncurkan busway. Di demo terus di balaikota. Cuman kita jalan terus. Awalnya 30 Januari 2005. Namun karena diminta ditunda. Justru saya percepat, diluncurkan 15 Januari 2004,” imbuhnya.
Respons masyarakat, ternyata baik. Bahkan saat ini Transjakarta mengoperasikan 14 koridor utama (rute BRT)
Sementara itu, Direktur Utama PT Transjakarta Welfizon Yuza mengatakan saat ini pihaknya melayani 1,4 juta pelanggan/hari.
“Pelanggan Transjakarta 34 persen laki-laki. 66 persen perempuan, didominasi oleh gen Z dan milenial,” ujarnya.
“Refleksi ini, bagaimana kita melihat proses pendirian busway. Terimakasih Bang Yos. Refleksi ini juga kami catat ada beberapa PR. Sebagian sudah masuk program kami, seperti pembenahan infrastruktur. Transjakarta harus menjadi integrator,” imbuh Welfizon.
David Tjahjana, dari Suara Transjakarta, juga mengapresiasi Bang Yos, yang dapat merealisasikan Transjakarta. Sehingga menjadi moda transportasi yang diandalkan warga Jakarta.
Sementara itu, Prof. Ir. Bambang Susantono, pengamat transportasi dari Instran mengatakan 22 tahun lalu, tidak gampang mewujudkan Busway.
“Namun kita konsisten, karena Jakarta tidak punya alternatif lain. Dana waktu itu juga terbatas. Alhamdulillah, Busway bisa direalisasikan. Kami mengapresiasi Bang Yos,” ujarnya.
