foto ist 

BANDUNG – PT Kereta Api Indonesia (Persero) menyelenggarakan Apel Bulan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Nasional Tahun 2026 di Kantor Pusat KAI, Bandung, Senin (19/1/2026).

Hal itu sebagai momentum penguatan budaya keselamatan di seluruh KAI Group. Kegiatan ini menegaskan komitmen perusahaan dalam membangun ekosistem pengelolaan K3 yang profesional, andal, dan kolaboratif, sejalan dengan dinamika serta kompleksitas operasional perkeretaapian.

Pada kesempatan tersebut, jajaran Direksi KAI secara serentak menandatangani Kebijakan Keselamatan Perkeretaapian serta Kebijakan Keselamatan, Kesehatan Kerja, dan Lingkungan Hidup (K3L) sebagai landasan strategis pengelolaan keselamatan perusahaan ke depan.

Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin menegaskan bahwa capaian dan tantangan keselamatan pada tahun sebelumnya harus menjadi pijakan penguatan kinerja keselamatan di tahun 2026.

“Tahun 2025 menjadi bahan refleksi bersama. Masih tercatat 10 kecelakaan kereta api dan 4 kecelakaan kerja. Data ini menunjukkan bahwa tantangan keselamatan masih nyata dan memerlukan peningkatan peran aktif seluruh Insan KAI, khususnya frontliner sebagai garda terdepan operasional,” ujarnya.

“Profesionalisme, keandalan kompetensi, dan kolaborasi yang kuat antara pekerja, manajemen, serta mitra kerja menjadi kunci dalam menciptakan lingkungan kerja dan layanan perkeretaapian yang selamat, sehat, dan berkelanjutan,” imbuh Bobby.

Bobby menambahkan, sejalan dengan tema Bulan K3 Nasional 2026 “Membangun Ekosistem Pengelolaan K3 Nasional yang Profesional, Andal, dan Kolaboratif”, KAI menargetkan penurunan jumlah dan tingkat keparahan kecelakaan, pengurangan gangguan keamanan, serta pencegahan pencemaran lingkungan melalui pendekatan teknis, manajerial, dan perilaku yang terintegrasi.

Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba menjelaskan bahwa arah kebijakan tersebut telah tercermin dalam penguatan budaya keselamatan perusahaan.

Berdasarkan penilaian per Desember 2024, tingkat kematangan budaya keselamatan KAI berada pada level Proaktif dengan skor total 2,91 dari skala 4,00, yang menunjukkan terbangunnya komunikasi dua arah antara pekerja di lapangan dan manajemen.

“Peningkatan ini tercermin dari pemanfaatan aplikasi Safety Railway Information (SRI), dengan tingkat tindak lanjut laporan potensi bahaya mencapai lebih dari 97 persen. Selain itu, laporan Identifikasi Bahaya dan Penilaian Risiko (IBPR) terus menunjukkan tren meningkat sebagai indikator partisipasi aktif pekerja dalam pengelolaan keselamatan,” jelas Anne.